Tuesday, 2 September 2008

ANAK MUDA BATAK DAN KRITIK TERHADAP ADAT


Bagi kebanyakan anak-anak muda Batak masa kini , khususnya yang telah dibesarkan di kota-kota besar, adat sudah tidak lagi relevan. Adat adalah bentuk kekolotan yang merupakan subordinasi dari budaya modern.

Adat adalah segala bentuk aturan hidup. Dan apa yang sering dimaksud dengan adat Batak adalah segala bentuk aturan hidup yang khas yang dilakoni orang Batak seperti ketika bertutur, bertingkah laku, berelasi, atau ketika menjalankan berbagai bentuk acara seremonial (kelahiran, pernikahan, memasuki rumah, kematian dsb). Dan sisi adat yang seringkali dianggap tidak lagi revelan bagi anak-anak muda terkait dengan acara seremonial (Upacara adat) dan ketidaksederajatan dalam hubungan antar posisi.

Upacara adat dalam hal ini adalah acara yang dilakukan pada momen-momen khusus seperti perkawinan (marhajabuan), kematian (hamatean), menggali tulang-belulang leluhur (mangongkal holi), kelahiran (mangharoan), kehamilan (mangganje), pemandian dan pemberian nama (martutu aek dan mampe goar), memasuki rumah (mangampoi jabu), menyulangi orang tua (manulangi).

Banyak anak muda batak masa kini yang kemudian mempertanyakan manfaat acara adat itu sendiri secara fungsional. Acara adat sering dianggap ajang menghabiskan uang, karena misalnya saja sebuah pesta "mengadati" dapat menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta dalam sehari. Bahkan tidak jarang sering berakhir dengan percekcokan karena hal-hal sepele, seperti pembagian jambar yang dirasa tidak tepat. Hal tersebut menjadi alasan mengapa adat itu tidak lagi relevan sehingga tidak perlu dipertahankan.

Seperti halnya komentar seorang anak muda Batak dalam blognya

“gw mikir, gimana caranya biar ntar pas gw merit misalnya pun harus pake acara adat batak yang sampe sekarang ga pernah gw ngerti tapi gw bisa tetep enjoying my party. Masih ada ga yah kemungkinan acara adat batak itu di buat jauh lebih sederhana sekali sehingga ga memakan waktu sedemikian lama dan bisa berjalan secepat resepsi perkawinan biasa? (am i asking too much??)

Sebenernya gw sampe sekarang belum ngerti apa esensi dari semua acara adat batak itu, dan gw juga ga tau yang mana yang syarat cukup atau syarat perlu dan bagian mana yang bisa di hilangkan, teruss..bagian mana yang sekedar karena ‘dari dulu juga bgitu’. Gw ga tau gimana adat perkawinan suku lain, apakah ada yang agak komplain dengan acara2 adat ini seperti gw melihat acara adat orang batak?”


Sehingga banyak anak-anak muda, yang kritis, mempertanyakan manfaat dari sebuah acara adat. Ketika tidak menemukan jawaban maka ia memutuskan untuk lagi tidak menjalankan ruwetnya acara adat tersebut.

Esensi Adat
Untuk memahami adat tentunya kita harus memahami system nilai-nilai ideal orang Batak (world view). Bagaimana ia memahami realitasnya, khususnya dalam kaitannya dengan relasinya terhadap sesama.

Setiap orang Batak terikat dengan dengan sistem marga. Nama marga ini diperoleh dari garis keturunan ayah (patrilinear) yang selanjutnya akan diteruskan kepada keturunannya secara terus menerus (Wikipedia, 2008). Orang-orang dalam satu marga menjalankan aturan hidup layaknya Saudara kandung, seperti tidak boleh kawin atau saling membantu tanpa pamrih dengan Saudara semarganya tersebut.

Disamping itu di antara marga berbeda yang berasal dari satu nenek moyangpun menjadi marga yang bersaudara. Dan terikat dengan aturan yang sama seperti aturan diantara Saudara semarga. Seperti halnya marga-marga pada keturunan “Silahisabungan” atau kumpulan marga “Parna” dsb.

Sedangkan hubungan dengan marga lain, yang tidak berasal dari satu nenek moyang, dapat terjadi akibat adanya diantara hubungan kekeluargaan akibat pernikahan pada nenek moyang masing-masing marga di masa lalu. Atau karena relasi antar marga yang terjadi di masa kini.

Hubungan antara marga “Tambunan” dengan “Manurung” terjadi karena “Opung Silahisabungan “(nenek moyang marga-marga silahisabungan termasuk di dalamnya “Tambuhan”) memiliki istri boru “Manurung”. Sehingga hingga saat ini setiap marga Tambunan akan menganggap setiap yang bermarga “Manurung” sebagai "Tulang" atau "Lae". Atau ketika bertemu dengan boru “Manurung” akan otomatis menganggap sebagai “Pariban”, “Inatua” atau “Inanguda”.

Hubungan antar marga bisa juga terjadi akibat yang relasi yang terjadi saat ini yang umumnya melalui pernikahan. Misalnya saya bermarga “Sipayung” memiliki hubungan kekeluargaan dengan marga “Siahaan” dan “Butar-Butar” karena saya menikah dengan boru “Butar-Butar”, atau karena ibu saya boru “Siahaan”. Termasuk juga dengan marga lainnya yang terikat dengan marga saya memalui pernikahan Saudara semarga saya, paman saya atau pernikahan yang terjadi di keluarga istri, ibu atau opung saya. Namun ikatan ini tidak berlaku untuk semua marga Sipayung melainkan hanya untuk marga sipayung yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan saya.

Dalam struktur relasi antar keluarga atau pribadi, orang Batak mengenal istilah "dalihan na tolu". "Dalihan Na Tolu" dari dapat diartikan sebagai tungku yang berkaki tiga. Dimana "dalihan na tolu" terdiri atas hulahula disebut pihak istri atau ibu. "Dongan Sabutuha" berarti Saudara semarga. "Boru" adalah pihak yang menerima anak perempuan dari "hula-hula".

Dimana relasi diantara orang Batak terbentuk berdasarkan struktur di atas. Apakah ia berposisi sebagai "hula-hula", "boru" ataupun dongan sabutuhan dalam hubungannya dengan yang lain. Dan dalam sebuah acara adat (demikian halnya dalam kehidupan sehari-hari), fungsi dan peran yang akan dijalankan akan sangat tergantung pada posisi kelompok marga dalam "dalihan na tolu" tersebut.

Esensi Ritual
Acara adat sesungguhnya simbolisasi kesadaran orang Batak terhadap realitas hubungan kekeluargaannya. Serta mewujudkan rasa hormat/kasih (holong) secara simbolis sesuai dengan posisinya dalam sistem kekerabatan.

Dalam sebuah acara adat (dalam hal ini adalah mangadati), pihak hula-hula akan memberikan ulos sebagai simbolisasi dari doa atau berkat. Mengapa hula-hula berhak memberikan doa atau berkat, karena hula-hula berada pada posisi yang lebih tinggi dari pihak boru. Pemberian ulos sekaligus simbol dari rasa hormat dan kasihnya terhadap keluarga borunya yang menyelanggarakan acara adat tersebut.

Setiap bentuk ritual tradisional merupakan aplikasi dari hukum pemberian-pembalasan, atau "potlact" seperti konsepsi Marcel Mauss (antropolog Prancis Abad ke-19). Menurut Marcel Mauss, dalam masyarakat tradisional berlaku hukum pemberian, dimana setiap pihak akan berusaha memberikan sesuatu dan membalaskan pemberian seseorang. Pemberian tidak saja berarti material melainkan juga dipahami pemberian secara roh/spiritual. Pemberian tanpa balasan adalah sesatu yang tidak dibenarkan, bahkan dapat menimbulkan malapetaka bagi si penerima. Di sisi lain pemberian tak terbalaskan akan menciptakan kehormatan bagi si pemberi.

Maka rasa hormat ini dari pihak hula-hula dalam hal ini melalui ulos akan dibalaskan melalui pemberian uang sebagai ganti. Karena dalam sistem pemberian, khususnya pada suku Batak, seperti halnya yang terjadi dalam hukum "potlack", pemberian tanpa balasan merupakan sebuah hal yang kurang etis.

Dan dari pihak boru yang menyelenggarakan acara adat (adik perempuan atau perempuan semarga dengan pihak penyelenggaran acara adat) , merekapun turut memberikan rasa hormat/”kasih”/”holongnya” nya kepada hula-hulanya dengan bekerja (marhobas). Merekalah turut bertanggung jawab atas keberhasilan pesta tersebut. Namun mereka juga akan mendapatkan balasan hormat dari pihak hula-hulanya apakah berupa ulos atau jambar.

Oleh sebab itu sebuah pesta adat merupakan sebuah parade simbol terhadap nilai-nilai hidup orang Batak, tentang sistem relasinya, tentang prinsip hidupnya (hormat) dan idealitas prinsip hidup saling memberi. Tentunya tanpa memahami makna dari pesta itu sendiri maka setiap tahapan dari ritual tersebut akan dirasa sangat membosankan.

Namun apakah ini hanya simbol-simbol saja?

Sebuah pesta adat Batak secara tidak disadari menjadi bentuk peneguhan kembali relasi di antara marga yang memiliki hubungan kekerabatan. Seperti halnya konsepsi Durkheim bahwa seremoni adalah bentuk memperkuat keberadaan nilai-nilai ideal yang dipegang oleh kelompok. Kebahagiaan dan kebersamaan antar mereka yang memiliki kekerabatan di dalam sebuah acara Adat tidak akan hilang begitu saja. Masing-masing pihak yang terlibat diingatkan tentang garis kekerabatannya dan tanggung jawab yang dimilikinya terkait dengan posisinya.

Dan kebersamaan yang ditonjolkan dalam adat bukanlah simbol semata. Bahkan saya sering menganggap bahwa pesta adat merupakan miniatur dari kehidupan keseharian orang Batak. Kelompok marga bukan saja menjadi keluarga ketika acara adat berlangsung, juga merupakan keluarga dalam kehidupan keseharian.

Marga Sipayung se-Jabotabek secara aktif terlibat dalam pesta adat pernikahan saya, karena bagi mereka saya adalah anak atau Saudara mereka. Namun dalam kehidupan nyata hal ini tidak jauh berbeda.

Saya pernah bertemu dengan seorang marga Sipayung yang merupakan seorang pengusaha sukses pada sebuah seminar di Jakarta. Dengan mudahnya kami bisa merasa akrab. Seketika itu juga ia menganggap saya adik, serta saya menganggapnya Abang. Relasi kamipun berkembang layaknya seorang kakak-adik dalam relasi biologis. Kamipun kemudian saling membantu. Dan baru-baru ini ia dengan senang hati mendanai projek yang akan saya laksanakan tahun depan (2009).

Demikian halnya ketika saya bertemu dengan seorang bermarga Siahaan yang merupakan pejabat tinggi di salah satu Departemen di Jakarta. Saya langsung disambut dengan hangat, meskipun kami tidak pernah saling mengenal sebelum. Dia bisa memperlakukan saya dengan sangat ramah begitu ia tahu saya adalah berenya (karenanya ibu saya boru Siahaan). Dan bukan tidak mungkin jika suatu saat saya membutuhkan bantuannya "Tulang saya itu" akan menolong dengan rela hati.

Kejadian sedemikian sering saya alami. Tidak hanya dengan kedua marga di atas melainkan juga dengan marga-marga lain yang memiliki hubungan kekerabatan dengan marga saya. Dan saya yakin pengalaman sedemikian merupakan hal yang lazim dialami kebanyakan orang Batak.

Sehingga seringkali bagi orang Batak modal untuk tetap eksis diperantuan adalah mengetahui parturutan (pengetahuan tentang marga-marga yang memiliki hubungan kekerabatan serta bagaimana bentuk hubungannya ). Umumnya orang Batak yang tidak kenal, khususnya di perantuan, ketika bertemu akan saling menanyakan marganya dan menarik hubungan kekerabatan.

Beruntunglah jika ternyata ia bertemu dengan Saudara semarganya. Karena dalam banyak kasus, seorang perantau yang tidak memiliki Saudara kandung mendapat tumpangan atau pertolongan dari orang yang baru ia kenal karena kebetulan satu marga. Demikian jika yang kemudian bertemu dengan seseorang dengan marga yang masih dekat hubungannya, maka secara otomatis akan terbentuk rasa persaudaraan.

Oleh sebab itu masuk ke dalam kelompok marga atau memiliki relasi kekeluargaan dengan marga tertentu adalah sebuah keuntungan. Bahkan merupakan aset yang sangat berharga bagi orang Batak. Karena secara otomatis kita memiliki komunitas besar yang akan melindungi kita ketika berada dalam kesusahan atau turut merasakan kegembiraannya.

Sehingga wajar ketika akan melakukan sebuah pesta besar, orang Batak umumnya akan mengundang marga-marga yang memiliki hubungan kekerabatan. Ataupun ketika anggota keluarga melakukan pesta Adat mereka juga turut hadir dan berpartisipasi.

Pesta Adat tentunya juga bukan bentuk penghambur-hamburan uang. Toh, dalam pesta Adat kelompok satu marga dan "boru" atau keluarga yang lain juga akan turut serta membantu memberi tumpak (uang dalam amplop) untuk meringankan beban keluarga yang melakukan pesta Adat. Bahkan banyak dari pihak boru yang siap membantu tanpa harus dibayar jasanya.

Namun karena upacara adat Batak melibatkan marga mau tidak mau yang hadir jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Tapi perlu juga diingat bahwa pesta adat sesungguhnya tidak saja diselenggarakan oleh sebuah keluarga namun juga mencakup seluruh Saudara semarganya. Sehingga beban untuk melakukan upacara bersifat kolektif sesungguhnya juga ditanggung oleh banyak orang.

Disamping itu kualitas pesta Adat tidak terletak dari kemewahannya melainkan dari kehadiran dari marga-marga yang memiliki hubungan kekerabatan, dan proses pemberian serta simbolisasi holong dapat berlangsung dengan baik. Pesta Adat dapat dilaksanakan sederhana tanpa mereduksi maknanya.

Hanya saja kecenderung yang terjadi saat ini banyak orang Batak, menurut pendapat saya, yang mengaburkan esensi pesta batak itu sendiri. Bahwa pesta adat, khususnya pernikahan, harus mewah. Dan akan sempurna jika diisi dengan penghibur terkenal, makanan mewah, pengantin menggenakan baju pengantin yang super mewah dsb. Sehingga sebagian besar uang yang dihabiskan bukan untuk mewujudkan esensi sebuah acara Adat melainkan lebih pada show up.

Sehingga dampaknya, banyak orang Batak, khususnya yang ekonominya tidak terlalu baik, khawatir jika pestanya tidak semewah kebanyakan orang, bakal menjadi cemohan orang lain.

Baru-baru ini saya mengikuti acara mangadati dari Saudara saya yang bermarga Sipayung. Acaranya diadakan di ruang serba guna gereja GKPS Cijantung. Ruangannya tidak terlalu besar dan boleh dikatakan semi permanen. Jamuannya dilakukan secara prasmanan dan sederhana. Serta hanya diiringin organ tunggal tanpa pemain suling atau gondang. Namun pesta itu tetap meriah dan adat berjalan dengan baik. Dan semua undangan maklumi kondisi tersebut yang memang terkait dengan kemampuan ekonomi keluarga penyelenggara pesta.

Intinya esensi dari sebuah pesta Adat Batak adalah sebuah bentuk ungkapan penghormatan yang berlangsung secara simbolis kepada seluruh garis marga kerabat. Karena pemberian penghormatan tidak bisa langsung kepada setiap pribadi maka dilakukan secara simbolis.

Kritik terhadap Dalihan Na tolu
Kemudian banyak juga orang mengkritik prinsip "dalihan na tolu" yang dianggap tidak memiliki semangat egaliter, atau menghormati kesederajatan manusia. Sehingga cenderung menciptakan manusia yang harus dihormati meskipun ia tidak berbeda dari kita.

Tentu saya secara adil harus membandingkan dengan struktur dunia kerja. Pertama mengapa kita juga harus hidup menghormati seorang pimpinan, bahkan sampai melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hati. Toh, ia juga manusia biasa. Kedua, apakah kehidupan sosial sebuah masyarakat dapat berjalan tanpa perbedaan fungsi yang kadang mengsyaratkan perbedaan status.

Tentunya kehidupan ini diisi dengan berbagai bentuk ketidaksamaan, ada pihak yang memimpin yang dipimpin. Ada yang melayani dan ada yang dilayani. Setidaknya kondisi ini telah dimulai dari keluarga. Bahwa kita harus menghormati orang tua, patuh, meskipun mereka juga adalah manusia biasa. Namun tanpa adanya proses demikian maka tidak ada keteraturan, ketertiban dan harmoni. Bagaimana jika dalam sebuah perusahaan yang memiliki pegawai ratusan bahkan ribuan tidak memiliki pemimpin yang perlu dihormati dan dipatuhi, maka situasinya menjadi kacau balau tentunya.

Demikian halnya dengan struktur hubungan kekerabatan dalam orang Batak. Harus ada yang memiliki posisi yang lebih tinggi. Pihak yang lebih tinggi tentunya memiliki otoritas mengatur untuk menciptakan ketertiban.

Namun dalam konsepsi relasi dalam adat Batak hula-hula tidak saja hanya berhak menerima penghormatan ia juga wajib melindungi dan menolong pihak borunya jika mengalami kesusahan. Sehingga walapun ada perbedaan posisi tetap ada hubungan timbal balik. Banyak orang Batak yang memiliki pengalaman, dibina dan disekolahkan oleh Tulangnya hingga sukses. Umumnya konflik yang terjadi antara boru dengan hula-hula, terjadi karena pihak hula-hula tidak menjalankan kewajibannya namun terus menuntut haknya. Atau sebaliknya berlangsung di pihak boru.

Namun ada perbedaan mendasar sistem "dalihan na tolu" dengan sistem hirarki pada dunia kerja. Seseorang yang menjadi menghormati dapat menjadi yang dihormati dikonteks berbeda. Misalnya saya menjadi boru di keluarga istri saya dan wajib memberikan pelayanan kepada hula-hula saya. Namun di keluarga Sipayung sayalah yang kemudian menjadi hula-hula dan setiap acara pesta adat duduk pada posisi yang terhormat.

Sehingga setiap orang Batak tidak seterusnya menjadi seorang bawahan namun pada kesempatan yang lain ia dapat juga menjadi pihak yang dihormati. Berbeda dengan sistem hirarki dalam dunia kerja, Anda akan tetap menjadi bawahan selama Anda tidak naik pangkat atau jabatan.

Dalam hubungan relasi dalam dunia kerja Anda juga harus melakukan sesuatu agar mendapatkan upah atau gaji. Dan jika anda tidak produktif maka akan dipecat atau dibuang begitu saja. Namun dalam hubungan kekerabatan Anda bisa mendapatkan bantuan secara cuma-cuma ketika Anda kesusahaan (lihat tulisan saja tentang kasus keluarga Silaban), baik oleh "tulang", "uda", "lae", "ito" dsb. Dan tidak akan begitu saja dibuang karena Anda tidak produktif.

Kesimpulan

Oleh sebab itu upacara adat tentu masih relevan untuk dilaksanakan. Apalagi fungsinya adalah menunjukkan rasa hormat secara simbolis dan meneguhkan kembali relasi kekerabatan antar marga.

Sehingga menurut hemat saya kritik dari anak-anak muda Batak terhadap Adat adalah bersumber ketidakmengertiannya dan kekaguman secara berlebihan terhadap gaya hidup modern. Tanpa merenungkan lebih lanjut dari nilai-nilai di balik gaya hidup itu masing-masing.

Namun di era posmo yang konon melampaui modern itu sendiri, tidak ada lagi yang disebut budaya tinggi dan rendah. Tidak ada dikotomi antara Barat atau Timur. Dimana budaya Batak layak dipersandingkan dengan budaya Barat. Dalam dunia posmo ketika universalitas kultural digugat maka persoalan yang muncul adalah masalah identitas. Kita harus memiliki identitas kita sendiri ditengah kelebihan pameran identitas kosong tanpa akar dan realitas melalui dunia hiburan via televisi, cyberspace.

Orang batak tidak mungkin menjadi orang Barat dalam waktu seketika. Dan tidak bisa sepenuhnya diterima secara sederajat oleh masyarakat dengan kebudayaaan tersebut. Orang batak hanya bisa diterima sempurna dalam kaumnya sendiri dengan memiliki identitas yang mengakar dalam pengalaman hidupnya. Budaya Batak bukanlah budaya kosong ala cyber (be your self, anak nongkrong, dsb) melainkan budaya kontekstual yang berisikan perenungan manusia terhadap realitasnya selama berabad-abad.

3 comments:

Jesly said...

nice post.. aku kutip ke blog aku ya.. Aku lagi belajar ttg pernikahan adat batak sih.. :p

Tris said...

boleh saya kutip nggak..lagi bikin skripsi ttg pernikahan kel batak nih..

batak sebatak-bataknya said...

itu mah ngomong doang toh kalo mereka udah selesai merit dan punya anak dak aktif di arisan masing2 baru mereka menyadari dan bangga dengan kebatakanya.... jangan dibesar besarkanlah