Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Friday, 4 July 2008

BAGAIMANA AGAR ANDA TERLIHAT SEPERTI SEORANG FILSUF


Tulisan ini saya tuliskan untuk Anda yang ingin segera terlihat layaknya seorang filsuf. Artinya sekilas Anda memiliki penampilan layaknya seorang filsuf.

Mungkin Anda kemudian bertanya, apa pentingnya tulisan ini?

Tentunya ada beberapa alasan. Pertama, banyak orang yang ingin terlihat seperti seorang filsuf. Agar orang lain dapat segera menyadari bahwa saat ini orang yang bijaksana dan cerdas sudah ada di depan matanya.

Saya harus mengakui bahwa untuk menjadi filsuf sempurna dengan kebijaksanaannya bukanlah sesuatu yang mudah. Anda harus menghabiskan banyak waktu membaca buku, berpikir, mempertanyakan hal-hal yang tidak lazim ditanyakan orang kebanyakan. Wah, membosankan sekali tentunya. Namun hanya dengan cara demikian Anda akhirnya mampu membangun pemikiran yang mendasar dan filosofis.

Namun kenyataannya banyak orang yang ingin terlihat cerdas walaupun sesungguhnya tidak cerdas dengan cara instan. Saya sering menyaksikan orang-orang suka berkompensasi ria dengan berbicara dengan bahasa yang njelimet atau mengatur wajah agar terlihat seolah selalu dalam kondisi berpikir.

Tujuan jelas, agar orang lainnya secara sadar atau tidak sadar mengakui, “Wah, ada orang pintar, nih!”. Buktinya ane kagak tidak ngerti di bilang apa, kali karena pengetahuannya tinggi”. Apalagi jika ada yang menyebutkan, “ Wajarlah dia jadi pejabat negara, yah!”. Nah, setelah itu ia pun dihormati.

Anehnya orang-orang semacam itu sering muncul di televisi dan menjadi menyampaikan opininya. Meksipub hal yang ia sampaikan sesungguhnya tidak punya makna apa-apa.

Alasan kedua, untuk memberikan hadiah hiburan buat orang-orang yang sudah kepalang belajar filsafat namun tidak pernah mampu memahami filsafat. Agar usahanya tidak sia-sia jadi tidak apa-apa menjadi filsuf dengan cara instan. Pokoknya, gimana biar terlihat filsuf-stylist.

Tulisan ini saya susun berdasarkan informasi yang saya peroleh dari biografi para filsuf besar serta dari pengamatan saya para ahli filsafat di Indonesia yang saya kenal. Dan saya harus akui umumnya mereka memang menunjukkan kebiasaan yang aneh.

Saya pernah mendengar cerita unik tentang seorang ahli filsafat yang juga pengajar di UI yang tiba-tiba meninggalkan istrinya di bioskop hanya gara-gara sebuah inspirasi. Kisah ini berawal dari inisiatif sang istri mengajak suaminya untuk bersanti sejenak nonton film romantis di sebuah bioskop ternama di Jakarta .

Saat menonton, awalnya si filsuf tampak menikmati film dan ia sering memberikan komentar pada istrinya setiap ada adegan yang menarik. Tapi lama- kelamaan ada yang aneh, suara si filsuf tidak lagi terdengar. Pada awalnya si istri berpikir barangkali si suami mulai tidak menikmati dan tertidur tapi begitu ia melirik ke sebelahnya ternyata si suami tidak lagi ada di bangkunya.

Mungkin ke kamar mandi, demikian pikir sang istri. Namun setelah ditunggu-tunggu ternyata si suami tidak muncul juga. Tiba-tiba hpnya berbunyi ternyata ada sms dan ternyata dari suaminya. Betapa terkejutnya si istri ketika menyadari bahwa suaminya itu ternyata telah berada di rumah dan sedang berada di depan komputer.

Ia memutuskan pulang karena ia tiba-tiba mendapatkan inspirasi setelah melihat salah satu adegan percintaan pada film yang mereka tonton hari ini. Takutnya inspirasinya hilang.

Oleh sebab itu hukum pertama agar Anda terlihat layaknya seorang filsuf, dan menurut saya wajib hukum, adalah bertingkah laku aneh. Seolah sudah menjadi hukum a priori bahwa setiap filsuf harus aneh, kalau tidak aneh bukan filsuf namanya.

Untuk menjadi aneh maka Anda harus belaku tidak lazim. Jika orang kebanyakan mandi 2 kali sehari, maka Anda baiknya mandi 1 kali per 2 minggu atau bisa juga 5 kali dalam sehari. Atau jika orang lain biasa makan sayur dengan cara biasa, maka biasakanlah untuk makan tomat dengan terlebih dahulu memisahkan bijinya.

Apalagi jika Anda sekali dua kali pergi jalan-jalan ke taman kota hanya dengan menggunakan celana dalam, seperti yang pernah dilakukan Adam Smith, maka sempurnalah keanehan Anda.

Namun tidak cukup hanya itu. Kita harus berhati-hati dengan aturan pertama karena bukan cuma filsuf yang tingkahnya aneh tapi juga orang gila. Jadi jangan sampai Anda malah dilabeli orang gila karena tindakan aneh tersebut .

Maka aturan kedua Anda harus selalu mengatur wajah Anda seolah sedang mikir. Dahi harus sering berkerut, mohon jangan sering tersenyum. Biasakan memasang wajah serius dan dingin. Intinya Anda harus terlihat seperti tidak pernah berhenti berpikir. Karena demikianlah kebiasaan para filsuf besar yang biasa memilikirkan hal-hal yang sulit dipecahkan bahkan hal-hal yang hampir mustahil dipahami.

Jika Anda menanggapi pertanyaan orang lain yang agak berat atau ilmiah usahakan wajah Anda terlihat lebih serius. Namun untuk pertanyaan yang rada simple, tunjukkan wajah cuek. Seolah pertanyaan itu tidak layak dipikirkan oleh otak Anda yang sudah demikian terasah oleh pemikian filsafat.

Aturan ketiga, ketika Anda diminta pendapat atau menjawab pertanyaan. Jangan terlihat gugup meskipun sebenarnya Anda tidak tahu. Karena dari awalnya memang Anda adalah filsuf palsu. Senjata ampuh untuk mencegah Anda terlihat bodoh, dan sebaliknya tampak lebih elegan, adalah dengan menggunakan bahasa-bahasa tinggi yang aneh.

Untuk aturan ini Anda dituntut sedikit mau belajar, setidaknya untuk menghapal beberapa istilah filsafat yang agak tinggi dan tidak lazim dipakai seperti eksistensi, a prori, keberadaan kesadaran, duree, ubefman, dsb.

Jadi meskipun di pikiran Anda, apa yang ingin diucapkan pada dasarnya sederhana seperti, “Saya mau makan”. Maka cukup mengubahnya menjadi “Saya sebagai pengada menciptakan kehendak untuk bereksistensi di tengah realitas dan pengada yang lain dan akan memasukkan being as a tool menyatu dalam misteri kehidupanku”.

Orang awam pasti akan geleng-geleng kepala karena bingung, tapi mereka tidak dapat mengatakan bahwa Anda bodoh. Malah mungkin akan menyalah dirinya mengapa tidak mengetahui arti dari setiap kata yang Anda ucapkan.

Aturan keempat, berpakaianlah secara sederhana. Alasannya simpel, bahwa sebagian besar filsuf menghabiskan waktunya untuk berpikir. Sehingga ia tidak sempat untuk merawat badan. Apalagi membaca buku mode untuk menyesuaikan pakaian yang dikenakannya dengan modern yang lagi in.

Namun bukan berarti Anda harus kumal atau bau badan, karena dikhawatirkan orang lain malah akan menjauh Anda. Karena bau badan yang menyengat cenderung membuat orang lain tidak nyaman.

Gunakanlah jas model jadul atau menggunakan topi kebun agar terlihat seperti Jeremi Bertham. Setidaknya agar Anda seolah orang memegang prinsip yang berbeda tercermin dari gaya berbusana Anda.

Aturan kelima, meskipun tidak terlalu penting namun dapat meningkatkan kesan kefilsafatan Anda. Yakni, biasakan membawa buku kemanapun Anda pergi. Khususnya jika Anda sedang melancong ke tempat banyak orang.

Jika orang lain sedang bersantai di taman, maka Anda lebih baik telihat membaca buku. Walaupun Anda tidak benar-benar membaca dan tidak mengerti Apa yang Anda baca, tapi usahakan Anda terlihat soleh sedang mengulas sesuatu. Tingkah laku Anda akan terlihat kontras dari orang kebanyakan sehingga bakal menjadi objek perhatian orang lain. Tapi ingat, jaga mata anda jangan sampai mengantuk.

Aturan terakhir dan cukup penting. Apapun cara-cara yang saya sebutkan disini, semuanya tidak akan berlaku jika Anda tunjukkan di depan seorang filsuf sejati. Karena ia akan menyadari bahwa sesungguhnya Anda tidak tahu apa-apa. Jangan berdebat dengan mereka karena Anda akan kelihat tolol. Ketika mereka mulai bicara saya bisa pastikan Anda bakal tidak mengerti.

Keenam aturan ini adalah cara mudah agar Anda terlihat seperti seorang filsuf tanpa harus berlelah-lelahan berpikir dan membaca banyak buku. Karena ada pepatah kalau bisa jadi filsuf dengan cara mudah kenapa harus milih cara yang sulit.

Friday, 13 June 2008

TIPS MEMBACA BUKU-BUKU FILSAFAT SECARA POSITIF



Tulisan ini saya sarikan berdasarkan apa yang pernah saya peroleh dari hasil diskusi dengan sosok filsuf Indonesia yang cukup saya kagumi, yakni, Dr. Boas. Siapakah Dr. Boas itu? Maaf, saya tidak akan menceritakannya karena beliau tidak mengharapkan rekan-rekan semua mengenali dirinya. Dan memang ia dikenal sebagai sosok yang misterius, meskipun pemikirannya telah mempengaruhi ratusan bahkan ribuan mahasiswanya pada sebuah universitas negara ternama di Indonesia dan telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia maupun dunia. Namun yang pasti pemikirannya sangat revolusioner menurut saya.

Dr. Boas selalu mengajak setiap murid-muridnya berpikir secara kritis dan orisinal. “Bongkar setiap narasi besar, renungkan realitas dalam kontekstualitas kehidupanmu dan mari melakukan revolusi terhadap ide-ide yang telah usang”, demikian ia selalu berkata.

Narasi terkait dengan cara manusia merepresentasikan realitasnya melalui konsep, ide, gagasan, dan cerita lewat interpretasi yang terlembagakan “kesadaran kolektif”. Hanya saja narasi besar, dengan klaim universalitasnya, tidak dapat dipertahankan begitu saja keabsahannya melalui metodologi yang tepat (Riyadi, 2007). Setiap narasi yang muncul dituntut untuk mampu membawa manusia lepas dari keterasingan dari dunianya.

Menciptakan narasi menurut Dr. Boas, bukan bertujuan sekedar tampil beda, atau ingin menjadi populer melalui pemikiran yang spektakuler. Tidak, ia tegaskan. Seorang filsuf seharusnya dijauhkan dari motivasi sedemikian. Melainkan untuk satu tujuan, yakni kebijaksanaan, yang dapat memberikan perubahan bagi kehidupan manusia kepada arah yang lebih baik. Filsafat seharus dapat membantu manusia untuk memahami realitasnya dan hidup secara harmoni dengannya.

Buku-buku/karya filsafat menjadi sumber kekayaan inspirasi bagi setiap orang yang membacanya. Namun adakalanya buku-buku filsafat dapat mengoda seseorang untuk menjadi dogmatis, atau menjadi pengikut seorang filsuf secara membabibuta oleh karena rasa kagum. Oleh sebab ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam membaca buku-buku filsafat agar dapat memberikan manfaat yang positif.

1. Pelajari konsep-konsep besar dengan membaca langsung karya-karya para pemikir utamanya. Misalnya jika ingin memahami konsep eksistensialisme maka bacalah buku-buku karya Sartre, Keikeggard. Demikian halnya ketika kita ingin mempelajari pemikiran seorang filsuf, bacalah langsung dari sumber primer (karyanya langsung). Sumber-sumber sekunder dapat kita gunakan pengantar terhadap pemikiran para pemikir besar tersebut, namun pemahaman lebih mendalam kita diwajibkan memperoleh informasi dari sumber primer.

2. Bacalah secara kritis. Artinya bahwa pemikiran seorang filsuf tetaplah sebuah pemikiran yang lahir dalam konteks waktu. Pemikiran seorang filsuf turut dipengaruhi oleh situasi sosial yang ia hadapi serta pemikiran-pemikiran yang berkembang pada masanya. Oleh sebab itu dalam membaca sebuah karya filsafat ada baiknya kita mengembangkan sikap dialog. Namun bagaimanakah sesungguhnya sikap berdialog dalam membaca buku? Cobalah menafsirkan pemikiran yang dapat kita pahami melalui sebuah karya filsafat dalam konteks keberadaan dan pemahaman kita. Tidak perlu khawatir bahwa penafsiran kita keliru, karena, sekali lagi saya ingatkan, tujuan berfilsafat adalah meraih kebijaksanaan (wisdom). Urusan tafsir-menafsir sebuah teks/karya tulis untuk mengangkat makna sebagaimana ia pertama sekali dituliskan adalah tugas seorang linguistik melalui metoda hermeneutikanya.

3. Jangan pernah membaca buku filsafat sekali. Membaca buku filsafat tidak seperti membaca novel, yang menceritakan sesuatu sederhana dan lebih mudah untuk dipahami dan diingat tema-temanya. Filsafat merupakan hasil perenungan mendalam, dan tidak mungkin kita bisa menghadirkan sebuah pemahaman mendasar seorang pemikir besar(landasan dari segala pemikiran dan sikap hidupnya) hanya dengan perantaraan teks saja. Sehingga makna yang dapat kita peroleh melalui pembacaan buku filsafat cenderung bersifat dinamis. Anggaplah buku filsafat layaknya pribadi yang siap setiap saat berkomunikasi dengan kita, sehingga ketika kita membacanya hari ini dan besok akan membawa kita pada sebuah pemahaman yang berbeda, karena fungsi sebuah karya filsafat utamanya adalah memberikan inspirasi bagi pemikiran kita.

4. Tuliskan apa yang ada di benak Anda ketika membaca sebuah karya filsafat. Ketika Anda membaca sebuah karya filsafat tuliskan hal-hal yang muncul dalam pikiran Anda, tidak saja berhubungan dengan apa yang anda pahami termasuk juga keraguan anda atau kritik Anda. Metoda ini bertujuan agar Anda mengetahui sejauh mana pemikiran Anda mengalami perubahan setelah membaca sebuah karya filsafat. Dan melalui rangkuman tersebut anda juga bisa melihat perkembangan pemikiran Anda, sehingga anda sudah dapat merasakan manfaat dari membaca buku itu.

5. Untuk mengkritisi atau memehami pemikiran seorang filsuf maka Anda juga perlu mempelajari pemikiran atau karya-karya filsuf yang mempengaruhi pemikirannya. Jika Anda merasa janggal dengan pemikiran seorang filsuf jangan anda mengatakan bahwa pemikirannya tidak tepat, coba pelajari mengapa ia sampai pada pemikiran demikian. Tentu pemikirannya tersebut tidak lepas dari pemikiran orang-orang sebelumnya.

6. Buatlah tulisan filsafat secara berkala. Dengan membiasakan membuat tulisan filsafat Anda dapat merasakan nikmatnya menghasilkan sebuah karya. Disamping itu kebiasaan menulis memiliki korelasi dengan kebutuhan membaca buku, mengapa? Karena untuk membuat karya tulis yang baik kita membutuhkan inspirasi dari berbagai sumber. Apalagi tulisan filsafat membutuhkan argumen yang kuat dan mendasar untuk mempertahankan statement yang kita utarakan. Maka kita perlu mempelajari pandangan-pandangan dari pemikir-pemikir lainnya, khususnya tentang topik-topik yang terkait dengan apa yang kita tulis.

7. Gunakan waktu Anda untuk membaca buku secara proporsional. Hati-hati dengan kecenderungan para pengemar filsafat yang larut dengan buku-bukunya. Benar memang seorang filsuf membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk membaca buku dan merenung untuk membangun pemikirannya. Namun perlu juga diingat bahwa sumber inspirasi bagi pengayaan pemikiran tidak hanya bersumber dari buku/teks namun juga dari realitas keseharian. Realitas dan segala aspek dalam kehidupan nyata merupakan sumber inspirasi sesungguhnya, karena kebijaksanaan pada akhirnya harus diwujudkan pada kenyataan hidup.

8. Jangan pernah menjadi fanatik melainkan jadilah orang yang kritis. Ingatlah selalu bahwa seorang filsuf bukanlah manusia dewa melainkan hanyalah seorang jenius pada zamannya. Merekapun mengembangkan pemikirannya dengan cara-cara umum yang dilakukan kebanyakan orang, mempelajari pemikiran sebelumnya, merenungkan kehidupannya, dan menyarikan pemikiran yang sesungguhnya sebagai perekat dari totalitas kesadarannya. Sehebat-hebatnya seorang filsuf idealnya hanya akan memberikan inspirasi bagi kita mengembangkan pemikiran kita sendiri. Dan bukan kemudian pemikiran sang filsuf kita klaim sebagai kebenaran absolut dan kita paksakan agar terwujud pada realitas (ideologi). Karena sekali lagi tidak ada pemikiran yang benar jika pada akhirnya tidak mendatangkan kebijaksanaan.

Thursday, 8 May 2008

ECONOMIC RELATION, FREE WILL AND ETHIC


The existance of humans race are not completely gloomy as drawed by economic conception. Is It true if humans absolutly egoistic being? what's humas care just about him self , directed by instinct for reaching happiness.

Milan Zafirovski said (“Human Rational Behavior and Economic Rationality” Electronic Journal of Sociology, 2008), that reminiscent of the old utilitarianism, modern rational choice theory in sociology and economics defines rational behavior as ipso facto rational in instrumental terms, as economic rationality or utilitarian calculation. Subsuming all the ends, reasons, and motives of action to instrumental, egoistic or hedonistic ones, i.e., pursuit of utility, self-interest or pleasure, and avoiding disutility and pain do this .

But actualy it's not fully right. Humans has ability to secrisfice his need for other happiness. They can free him self from satifaction law. Animals are completely drive by the biological instinct but human not all. Humans behaviour can also be directed by his world view, ideology, what humans think as a ultimate truth and can sacrafices his life for defending his belief. The al qaeda mambers are brave to face death because of his belief . It doesn't happen in animals’s world. Human can do altruistically deed for saving other life .

Humans have free will, although instinctical drive still remain. Consciously human capable to direct their biological drive. Example when Budi felt hungry in spite of there was looking food in font of his eyes, but he can rejected it. What human do daily not just keeping life go on but also searching the meaning for his life. Human to make a decision or action not just for pragmatical orientation but also ethical consideration. Is it good or bad. Are the actions he choose benefit to the other or not?

Equal in the case of economic relation. Decision for getting happiness not just sole way to make choices. Humans can choose freely to serve their own desire alone or do something to help the other and victimize them self for that. A coorporat, like Bill Gate, can choose to maximize his profit by pushing labour wage. It is rationalty did when the rate of unemployment highly and the company's owners have better bergain position than the workers. So the workers tand be more tolerant to the policy because easy for the company finding new workers that prefered payed low than to keep them with more cost. But ethicaly the owners can choose to pay the wage in the ideal rate that can support the worker daily life

Market mechanism depending will create depair, when market prefernce based on egoistic decision. We can chance the badness of the market mechanism by etic. That we dont want to reach the maximaze satifaction buat just optimal satifacation, at the rate that not decrease the other happiness. Economic option not just base on humanism preference but be directed toward humanity service.

There are the dicotomy between the ethical decision with what we call nature law decision in a economic relation. Maybe in economic law, it naturaly right if someone use his asset to accumulation his capital. But it's ethically wrong when he is wealther alone otherwise there are other peoples suffer. Getting maximal satisfaction from economi relation absolutly is a rationa decision, it's more not ethical choice if he consiously reduce his production capicity to wider the other oppotunity to test economi benefit .

Unjustness and poverty exist are prone draw that market mechanisme fail to serve human life to reach a better life as long as depend of the egoistic preference. Althought market mechanisme still exit but human races have a freedom to choose their decision what they want to buy, how much?. Poverty establishment is a symbolizatiobn that most Indonesians still in unethical deed or habit. Dostoevsky said thar the other suffering are our resposibility to burden.

Wednesday, 7 May 2008

HISTORICAL FORGETNESS AND THE EVIL


There are two kind critics toward historical conception. I want to require about historical forgetness and other side about crimes essence in the history. This questions are based on facts there are many bad story behind the appraisal history that be forgot.

The bible told that Jacob decepted his father, Issac by acting like his brother, Esau, to receive blessing from his father. Before that, he took exchange birthright from his brother and become the eldest by offering lentil soup. But these tragic story was a part of history emerging the Jewish as the chosen people.

From the story of Majapahit Kingdom we know that the kingdom was founded by Raden Wijaya, descendent of supreme thief, Ken Arok. He couped the highest power from Tunggul Ametung hand, also his beautiful wife Ken Dedes as his princess.

There are many history evens, like the founding dinasties, the coming a great hero and choosing nations were coloured by many kind of crimes like deceptions, murders, and the other ones.

Recently I road a book that had title “Why did America (USA) like war?”. As a person that unknowed about America’s history, I really felt suppressed to know that history USA was painted by chain of evil histories pastly. The economic forwardness didn’t come immediatly as God’s blessing. But established from the suffering and exploitation the others. History fact showed, that the land where the American-European people live now were the haritage that owned by Indian peoples past that owning by throwed away and murdered the such native people.

Ironically, today most of people around the world praise the economic progress of USA and mirror USA's economic system as a prototype the ideal. There are many countries against their own costumes and traditional systems because desaire to resemble, to what commonly said, American style.

So I call such phenomena as a history forgetness. As corruptor appraised because of his richness and ignore the causal. Like a lot of eastern peoples respect to European culture mozaic but be amnesia to the evil of European imprealism background, that took over the nature resources from the colonials to establish their greatness.

Is the forgetness history a part from human existance so the evils behind the histories tend unimportant be knowed. The history evens are fragmented, filled with collection of stories that uninterconnection.

Or maybe every human, in his unconsious state, belief that crimes are presupposition for a greatness. Evil and goodness are two kind of neutraly power that urge the history moving. Crimes can be hidden behind the heroic strories of the nation. We prone dislike the Western’s imprealism telling, especially if it was a part of our past history as a victim, but we likely praise our local story like Sriwijaya and Majapahit’s imperialism that prove our national's greatness altought behind those there were many bodly death wars and massacres.

Historical forgetness is kind of human need to find out the proudness to their own life. The crimes as the background the story have to throw away from our mind because it’s not important or its sound is not good. It’s better to hear a greatness that a bitterness.

Sunday, 27 April 2008

BENCANA ALAM, PERUBAHAN PARADIGMA DAN KAUM PEREMPUAN


Terjadinya fenomena pasang di Jakarta, menyadarkan kita bahwa alam semakin tidak bersahabat. Air menggenangi beberapa lokasi di Jakarta Utara akibat laut pasang. Termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa yang perlahan-lahan ikut terendam. Ketinggian air mulai dari mata kaki hingga betis orang dewasa. Namun ancaman bahwa Jakarta secara perlahan akan tenggelam semakin jelas dari hasil penelitian ditemukan bahwa setiap tahun tercatat rata-rata permukaan air laut di Teluk Jakarta naik 0,8 milimeter. Konon timbulnya fenomena ini terkait dengan persoalan pemanasan global yang semakin memprihatinkan.

Bencana yang terjadi akhir-akhir ini tidak lepas dari arogansi manusia dalam berinteraksi dengan alam. Manusia seolah berhak mengeksploitasi alam tanpa batas dengan sebuah imajinasi bahwa manusia berkuasa atas alam. Manusia memandang dirinya lebih berharga dari spesies lain. Alam yang diam seolah menjadi entitas lemah yang mengabdi sepenuhnya bagi kepentingan manusia.

Namun kenyataan saat ini membuat pandangan bahwa alam ada bagi manusia harus dikoreksi. Alam memiliki hak merealisasikan dirinya menuju kesetimbangan. Bencana yang kita alami adalah reaksi alam mengukuhkan tingkat equlibriumnya, dimana keberadaan manusia adalah ibarat penyakit yang mengerogori bumi dan membuatnya sakit. Bahkan seorang profesor dari Universitar Texas mengatakan bahwa bumi akan lebih baik jika 90% dari populasi manusia binasa (David, 2006).

Menanggapi persoalan pemanasan global dan degradasi membutuhkan perubahan paradigma menyeluruh dalam berinteraksi dengan alam. Dari yang bersifat subordinasi atau paternalistik menjadi lebih bersifat maternalistik. Sifat paternalistik mengagungkan orientasi efisiensi, agresifitas, rasionalitas yang merendahkan dimensi intuitif dan spiritualisme. Sehingga alam dipandang semata-semata sebagai materi. Rasionalitas menjadikan alam materi bisu serta sebagai objek orientasi kepuasan manusia. Efisiensi menuntut proses eksploitasi cepat bagi kepentingan manusia dengan pengorbanan minimal yang mengsyaratkan matinya dimensi emosional dalam pengambil keputusan secara cepat.

Namun dari perspektif maternalistik setiap entitas demikian halnya alam memiliki makna inheren melampau keberadaannya sebuah wujud materi. Sehingga alam menjadi agung dan menciptakan rasa penghormatan melalui pandangan holistik. Bahwa alam bukan entitas diam, melainkan organisme bersuara namun raib oleh kesadaran manusia modern yang berinteraksi melalui investigasi scientifiknya.

Kualitas maternalistik, analog dengan kualitas interaksi antara seorang ibu dengan anaknya, terkait dengan beberapa kualitas yakni pemeliharaan, penuh cinta kasih, perhatian dan perlindungan. Melibatkan intuitisi dalam pengambilan keputusan yang ketepatannya hampir sama dengan pengambilan keputusan secara rasionalitas. Tidak melihat segala persoalan partikuler melainkan secara totalitas. Dimensi keterikatan emosionalitas pada interaksi maternalistik menciptakan sosok pribadi yang altruistik dan afirmasi diri.

Ketika interaksi maternalistik dijadikan dasar dalam berinteraksi maka alam menjelma menjadi sesuatu yang harus dipelihara. Alam tidak dipahami sebagai materi belaka melainkan entitas yang memiliki self-nya yang berhak merealisasikan dirinya. Relasi dengan alam dibangun atas dasar pemeliharaan dan pelestariaan serta kasih sayang. Alam memiliki makna inheren yang melebihi keberadaannya sebagai materi. Melalui kesadaran intuitif spirit alam dirasakan kehadiran melalui dimensi keagungan dan ketakberhinggaan yang berakhir pada keindahan.

Dalam mengatasi ancaman bencana dan degradasi lingkungan manusia belum didasarkan pada penghormatan terhadap alam. Penyelesaian persoalan kerusakan alam masih menganut etika anthroposentrisme dimana manusia diposisikan sebagai pusat alam semesta sehingga hanya manusia yg memiliki nilai, dan untuk kepentingan manusia peran ekosistem sekitarnya dikesampingkan, digantikan dengan etika baru yang berpegang pada sikap hormat, prinsip kepedulian dan no harm, arif, serta tanggung jawab kepada alam (Agus Prabowo dan Didy Wurjanto, 2007). Bahwa kerusakaan alam diyakni dapat diatasi melalui tindakan manipulasi dengan teknologi baru.

Namun perubahan paradigma ke arah maternalistik, mengsyaratkan perubahan prilaku terhadap alam. Solusinya degradasi lingkungan tidak harus berakhir pada solusi teknologi. Melainkan pada perubahan perilaku hidup manusia, misalnya dengan mengurangi konsumsi barang-barang yang menghasilkan polutan atau berdampak pada pengrusakan lingkungan. Dari berbagai fakta diketahui kebiasaan manusia makan lebih banyak tidak baik kondisi atmosfir (Kher, 2007).

Paradigma maternalistik dapat diwujudkan sebagai sebuah word view melalui pendidikan. Yakni pendidikan yang tidak hanya menempatkan rasionalitas dan orientasi efisinasi pada titik sentral melainkan juga memasukkan dimensi intuitif dan spiritualisme di dalamnya. Dimensi nurturing dalam pendidikan perlu ditanamkan secara mendalam, bahwa segala entitas di alam harus dihargai, dipelihara, dan dicintai karena memiliki nilai keberhargaan yang sama dengan umat manusia.

Hal lainnya yang juga penting dilakukan untuk melembagakan perpektif maternalistik adalah dengan melibatkan kaum perempuan lebih luas dalam membangun diskursus solutif, sebagai pemilik kualitas maternalistik. Wacana ecofeminisme harus diberikan ruang sentral. Intelektual perempuan layak diberi ruang lebih untuk menyuarakan perspektif mereka dalam memahami alam. Dengan harapan bahwa kaum perempuan mendapat tempat untuk menyuarakan pemahaman tentang alam dan memberikan pencerahan bagi seluruh umat manusia.

Wednesday, 23 April 2008

DUNIA POSMO DAN HIPEREALITAS


Kita tengah berada dalam dunia posmo, saat dimana kejernihan realitas dipertanyakan. Konon Karl Marx memahami manusia mahluk yang membangun aktivitas praktis melalui interaksi terhadap dunia sekitar. Bertindak tidak didasarkan dorongan instingtual melainkan melalui proses berpikiR serta memaknai segala sesuatu disekitarnya, atau dalam konsepsi Ernest Cassier manusia bertindak dalam pemahaman simbolis. Realitas membatasi dan menentukan arah progresifitas kesadaran manusia yang hadir begitu saja tanpa interprensi, sehingga kesadaran terasing bertentangan dengan realitas merupakan dampak penanaman ideologi yang menyamarkan realitas.

Realitas dan Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan menjadi mungkin jika realitas hadir begitu saja dan tampil dalam dirinya tanpa ada distorsi pikiran manusia. Realitas dipahami, memiliki esensi berupa hukum-hukum keteraturan dan menjadi tugas ilmuan mengartikulasikannya melalui eksperimen penelitian. Laboratorium-laboratorium dilengkapi berbagai alat pengamatan canggih dibangun dan digunakan sebagai ujung tombak memecahkan rahasia alam. Kebenaran identik dengan ketepatan proses observasi, karena realitas dengan sendirinya menyatakan dirinya pada manusia selama penelitian dilaksanakan dengan tepat, bebas dari subjektivitas dan membiarkan realitas hadir begitu saja tanpa interprensi.

Pemahaman akan adanya hukum keteraturan di balik realitas bukan ciri spesifik era pengetahuan eksperimental namun sejak dahulu kala. Terdapat siklus alam, matahari akan terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat, musim berganti dengan keteraturan yang dapat diprediksi, tidak mungkin musim semi mendahulu musim dingin. Pelaut Yunani dalam legenda, Hippalus secara tradisional telah menggunakan siklus angin muson untuk mempercepat pelayaran sepanjang Samudra Hindia (1). Setidaknya manusia menjalankan hidupnya dengan menyandarkan diri pada pemahaman terhadap siklus kestabilan tersebut. Hanya saja manusia tradisional memahami bahwa keteraturan tersebut disebabkan kerja sebuah kekuatan adikodrati, dewa-dewa atau Tuhan. Kehidupan merupakan hirarki setelah kerajaan sorga dimana Tuhan adakalanya mengintrupsi dunia di bawah untuk menjaga harmoni. Teolog-teolog Kristen sepakat realitas adalah totalitas teratur. Allah berada pada puncak diikuti oleh malaikat, manusia berada dalam posisi sedikit lebih rendah dari malaikat tetapi lebih tinggi dari ciptaannya yang lain (2). Gerakan planet yang penuh keteraturan, dan tidak bertubrukan satu sama lain, menurut Thomas Aquinas, bukti keberadaan Tuhan yang mengatur wujud-wujud raksasa tersebut dapat eksis sedemikian.

Namun pada abad pencerahan konsepsi demikian mulai ditinggalkan dan digantikannya dengan penjelasan naturalis. Penyebab keteraturan bukanlah Tuhan, dewa atau kekuatan adikodrati lainnya melainkan oleh sebuah sebab ataupun kekuatan yang imanen dalam dunia itu sendiri. Maka Tuhan dan dewa digantikan dengan energi, campur tangannya digantikan dengan hukum-hukum aksi dan reaksi sebagaimana konsepsi Newton, pergerakan dan dinamika adalah manifestasi stabilisasi energi secara terus menerus.

Secara perlahan-lahan manusia meninggalkan keyakinan yang berbau metafisis yang turut disebabkan deklanasi lembaga pemeliharanya. Gereja, kekuatan perdukunan, shamanisme, dsb digantikan oleh universitas yang menerapkan ilmu pengetahuan secara praktis dan memberikan sebuah dampak yang memukau. Pengobatan modern seolah telah mematahkan keyakinan orang selama ini bahwa penyakit disebabkan oleh kerja kekuatan roh-roh jahat atau karena dosa yang ia perbuat serta melemahkan kewibawaan pengobatan tradisional dan penyembuhan spiritual. Teknologi membebaskan manusia dari batasan-batasan taboo, larangan menebang pohon di hutan keramat dan berlayar di laut, karena dengan segala kecanggihan alat-alat yang diciptakan tersebut, manusia ternyata tidak terjangkiti tulah-tulah yang berbahaya.
Hilangnya kewibawaan lembaga keagamaan kuno kemudian digantikan dengan kedigdayaan universitas, institusi rasional dan lembaga penelitian. Kehadirannya menjadi simbol berakhirnya dualitas dunia materi dan spiritual. Dunia menjadi semata-mata materi, tidak ada dimensi roh, dan bergerak dalam sebuah prinsip kausalitas, penyimpangan yang terjadi dapat dijelaskan dengan melihat faktor pencetus sebelumnya yang juga real, bukan bersifat supranatural. Hubungan antara suatu kejadian dengan kejadian lainnya diyakini bersifat permanen, suatu kejadian pasti didahulu kejadian tertentu, dan akan terus demikian dulu, sekarang dan masa yang akan datang. Kebutuhan untuk menghasilkan bukti menjadi semakin kuat saat pragmatisme pengetahuan ilmiah mengantikan pengetahuan tradisional yang didasarkan pewahyuan (3).

Demikianlah penjelasan bagaimana realitas menjadi sentral sebagai sumber ilmu pengetahuan serta dasar dari prinsip hidup masyarakat modern. Segala sesuatu kebenaran konsep pada akhirnya harus dikembalikan pada realitas itu sendiri. Setidaknya kebenaran harus bersifat praksis sebagaimana menurut konsepsi Marx. Namun yang menjadi masalah adalah realitas tidak dapat didekati begitu saja, diperlukan sebuah metoda yang tepat dan alat observasi yang memadai. Mikroskop elektronik, laboratorium yang dapat dikondisikan sedemikian rupa, teropong bintang, komputer pembaca data, dsb menjadi prasyarat observasi dapat dilakukan. Maka meskipun realitas ada begitu saja namun tidak semua orang dapat mengartikulasikan kebenaran dari padanya, hak tersebut tidak ada pada orang awam melainkan berada pada tangan ilmuwan. Akses mereka terhadap alat observasipun dibatasi oleh sertifikat akademi sebagai bentuk jaminan intelektualitasnya, ketersediaan dan dukungan dana oleh pihak tertentu seperti negara atau orang kuat.

Ilmuwan bagi masyarakat modern ibarat para Santo pada era skolastik, bahwa melalui merekalah kebenaran itu dapat disampaikan. Selagi anda tidak memiliki prasyarat untuk mengakses pengetahuan jangan pernah sekalipun membantah mereka. Segala aspek kehidupan dari hal praktis hingga hal etis harus disesuaikan dengan pendapat ahli. Bagaimana anda harus makan, cara berjalan, mengenal wanita, bercinta hingga pada bertingkah laku pada sebuah pesta harus sesuai dengan aturan yang diajarkan oleh para ilmuwan yang telah menghabiskan waktunya untuk melakukan penelitian. Ilmu genetis setidaknya menganjurkan pembatasan pilihan pasangan, jika dulu didasarkan pada kesamaan keyakinan maka saat ini didasarkan kesamaan kelayakan genetika, apakah bebas penyakit generatif berbahaya, ilmuwan seperti Galton bahkan menyarankan mengkebiri orang malas, gila, agar sifat yang merugikan demikian tidak sampai diwariskan kembali. Seleksi perkawinan secara pragmatis bertujuan menciptakan manusia yang lebih sehat, pintar, dan mentalitasnya baik sehingga mendorong perbaikan sistem masyarakat serta menurunkan jumlah manusia dengan kondisi genetis yang tidak baik dan meningkatkan jumlah manusia dengan kualitas genetis yang baik (4) .

Deklanasi Masyarakat Modern dan Kelahiran Postmodern
Namun apakah kehidupan yang didasarkan pada kebenaran para ilmuwan menjadi sebuah bentuk masyarakat ideal, seperti halnya masyarakat atlantis sebagaimana konsepsi Bacon masyarakat utopia yang mendasarkan kebenaran pada sesuatu yang teruji secara eksperimental (5). Menciptakan dunia yang lebih baik menjadi tugas fisikawan, ahli biologi, sosiolog dsb. Masyarakat modern saksi dari berbagai kemajuan, penemuan listik, telpon, pembangkit listik tenaga nuklir disamping itu dalam ilmu hayati dikenal kloning, aplikasi bakteriologi, serta modifikasi psikologis. Apakah akhirnya memberikan kebaikan?

Kenyataannya masyarakat modern juga harus menyaksikan sifat destruktif dari ilmu itu sendiri. Pengetahuan fusi energi di satu sisi menjadi dasar penyediaan energi, diarahkan bagi penciptaan bom penghancur maha dasyat. Pembunuhan massal dalam perang antar suku tidak dapat menandingi kekejaman dari pengeboman Hirosima dan Nagasaki menggunakan bom atom yang menghabiskan jutaan nyawa dalam waktu singkat. Ilmu pengetahuan ternyata dapat diterapkan menjadi sesuatu yang merusak kehidupan manusia itu sendiri. Masyarakat abad ke-21 dihantui ancaman sejata kimiawi dan biologi. Disamping itu konsep evolusi yang didegungkan oleh ilmuwan telah memberikan pembenaran terhadap tindakan rasisme, sebagai upaya untuk menghabisi ras lebih rendah mencegah terjadinya pencampuran dengan ras yang lebih tinggi dan menghambat arah evolusi agar lebih progresif (6).

Dalam perspektif ilmu pengetahuan manusia kehilangan dimensi sakralnya, bukannya mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia melainkan hanya mahluk sebagaimana mahluk lainnya mengisi muka bumi. Cinta dan kasih sayang bukan sebagai simbol keagungan manusia namun manifetasi dari kerja otak dan hormonal. Sehingga manusiapun tidak luput dari objek penelitian. Orang-orang idiot, penjahat, mayat-mayat tanpa identitas diteliti untuk mengetahui bagaimana tubuh bekerja sebagai sebuah mesin organik dengan berbagai hukum keteraturannya. Bahkan pernah terjadi, orang negro dan eskimo ditangkap untuk kemudian diteliti secara paksa sebagai manusia yang belum berkembang, untuk memahami perbedaannya secara fisiologis. Pengetahuan yang semakin progresif kemudian memunculkan sebuah hasrat tidak saja untuk memahami manusia secara total melainkan jika dimungkinkan melakukan pengaturan wujud manusia yang akan dilahirkan, seperti apa bentuknya, jenis kelaminnya, dilakukan melalui teknik ovulasi buatan, bayi tabung dan jika perlu kita juga dapat menciptakan manusia melalui metoda kloning.

Dengan memandang manusia semata-mata sebagai tubuh, mesin organis yang bergerak secara otomatis, maka penilaian pragmatispun dapat diterapkan padanya. Mesin yang tidak baik harus diafkirkan, komponen sosial yang merusak dan menganggu dapat dihilangkan. Sehingga suatu yang etis untuk melakukan aborsi terhadap anak yang cacat dari lahir, melakukan etanesia, mengkebiri orang idiot, bodoh dsb. Setidaknya hukum membenarkan melakukan hukuman mati bagi mereka yang melakukan kejahatan berat karena mereka adalah mesin-mesin yang merusak.

Demikianlah kondisi masyarakat modern yang mengantungkan kebenarannya pada kerja ilmuwan yang pada akhirnya bukannya memberikan kehidupan yang lebih baik melainkan merendahkan kemanusiaan itu sendiri. Skeptisme terhadap pengetahuan dan delegitimasi hak ilmuwan menumbuhkan sebuah pemberontakan yang menolak absolutisme (7). Modernitas yang mendasarkan kehidupan pada kesatuan, pengetahuan, telah menghilangkan banyak aspek dalam kehidupan masyarakat. Agama, keyakinan primordial setidaknya memberikan sebuah kenyamanan batin yang hilang dalam hidup yang sepenuhnya rasional. Bangkitnya berbagai bentuk agama-agama mistik, praktek-praktek paganisme dan pengagung-agungan kehidupan tradisional menjadi simbol kerutuhan modernitas yang berusaha menciptakan masyarakat unitas, kebenaran realitas hanyalah satu, A=A, serta menjadi awal dari kelahiran era postmodern.

Pada era posmodern realitas tidak lagi dipandang secara unitas. Setidaknya pemahaman kaum idealis dihadirkan kembali, bahwa realitas yang kita sadari bukanlah sesuatu yang bebas dari kesadaran kita melainkan produk mental. Nietzche memahami realitas sebagai kaostik, pengetahuan adalah hasil dari usaha manusia memaknainya. Realitas menurut Hegel adalah manifestasi roh absolut yang tidak dipahami oleh manusia yang menjadi sarana untuk mengarahkan alam kesadaran manusia untuk akhirnya mengkonstruksi masyarakat sesuai dengan kehendak roh itu sendiri. Atau sebuah wujud sorga dan neraka dalam kesadaran manusia yang masih terikat kedagingan menurut konsep Boehme. Intinya adalah apa yang kita sadari berbeda dengan keberadaan dari ada itu sendiri.

Jika demikian mengapa pengetahuan itu seolah menjadi mungkin. Menurut David Hume hubungan kausalitas, dasar dari pembentukan pengetahuan, menjadi mungkin karena kontruksi metal, karena kita menganggap fenomena tersebut berhubungan, dampak proses pembiasaan. Padahal fenomena tersebut hadir begitu saja sebagai kumpulan sensasi indrawi yang menyeruak terus menerus dan tidak berhubungan satu sama lain. Menurut Imannuel Kant pengetahuan menjadi mungkin karena dalam pikiran manusia secara aktif mengkonstruksi sensasi yang hadir dalam kesadaran manusia ke dalam ketegori-kategori, setidaknya konteks ruang dan waktu ada dampak dari aktivitas pikiran manusia.

Kebenaran, pengetahuan menurut Foucault terkait dengan kekuasaan. Kekuasaan terpelihara melalui intitusi, pendidikan, pemerintah, negara dan sebagainya. Teori evolusi menjadi sebuah pengetahuan absolut saat pendidikan formal menaturalisasi konsep tersebut, yang tertanam dalam benak banyak orang dan menjadi sebuah dogma dimana pihak yang menentangnya akan dikucilkan. Foucault menyebutkan konsep kegilaan tidak pernah bersifat mutlak namun setiap masa perlu defenisi secara spesifik, membagi-bagi kategori kegilaan pada homoseksual, neurotik, psikosa dsb, serta seperangkan institusi yang berhak memperlakukannya, atau aturan pemerintah yang memarginalkannya. Namun hal ini timbul karena masyarakat selalu butuh mengurung dan memarginalkan golongan tertentu, mulai orang penyakit kusta pada abad pertengahan hingga orang-orang gila pada abad modern.


Masyarakat Postmodern

Masyarakat postmodern toleran terhadap relativitas. Paganisme, religiusitas dan scientifik hidup berdampingan secara rukun. Pola hidup kuno dibangkitkan kembali, Yoga, Zen mendapat tempat kembali dalam kehidupan masyarakat kotemporer. Artinya setiap orang dapat memahami realitas dengan cara berbeda, kebenaran mungkin akan lebih tepat dinilai secara pragmatis, yang tepat adalah yang memberi manfaat. Paganisme tidak diharamkan selama menjalankannya memberikan kesenangan, manfaat yang nyata bagi pelakunya. Seni tidak lagi menjadi sesuatu yang kaku, realisme dihancurkan, budaya tinggi dan budaya rendah menjadi kabur, seni pertama adalah bagi kesenangan itu sendiri, ibarat seorang anak kecil dengan sesuka hari mencoret-coret dinding. Individualisme semakin terlembagakan dalam masyarakat postmodern.

Kebenaran realitas tidak lagi menjadi hal penting bagi manusia postmodern, apakah ia eksis? apakah ia benar? Kalau perlu realitas diasingkan jika memusingkan. Simbol dari postmodern adalah cyberspace, dimana manusia posmo menghabiskan waktu berinteraksi dengan dunia maya entah itu melalui televisi maupun komputer. Realitas masyarakat posmo adalah realitas sinetron, film superhero, internet dsb. Menurut Jean Budrilllard masyarakat posmo adalah masyarakat hanyut dalam sajian simularcum dan hiperrealitas. Simularca adalah parodi dari realitas tanpa referensi. Apakah superman sungguh-sungguh ada? Apakah dunia akan selalu berakhir dengan adil dimana yang jahat akan selalu kalah seperti dalam film-film melodrama? Segalanya tampak nyata, meskipun sesungguhnya sebuah produk imajinasi manusia menggunakan kecanggihan komputer namun akhirnya dianggap real. Remaja jaman sekarang adalah generasi penuh kekerasan seperti diajarkan film gangster, tria dimana kekerasan adalah akhir segala penghinaan diri. Atau wanita akan menjadikan dirinya ibarat Brithney Spears.

Hiperalitas sebagaimana telah disebutkan adalah ketidakrealan menggantikan yang real itu sendiri. Iklan yang mengambarkan seseorang wanita menjadi putih karena menggunakan lotion tertentu, adalah hasil kerja disainer grafis yang melakukan manipulasi gambar dengan meningkatkan pencahayaan pada kulit model. Sebuah penipuan, namun para wanita menyikapinya sebagai kecantikan ideal, tingkat kulit putih demikian harus diperoleh. Wanita berusaha berbagai cara, jika tidak berhasil akan mengurangi rasa percaya diri karena menjadi tidak sempurna. Model-model fasion, rambut dan habitus dipertontonkan seolah telah menjadi bagian realitas, sebuah trand, meskipun sesungguhnya hanya ada dalam tayangan layar kaca. Masyarakat berusaha mencocokkan realitasnya dengan sesuatu yang artifisial sebagai sebuah kebutuhan mengikuti trand.

Jika Marx mengatakan realitas akan membatasi hal praksis, namun apakah mencakup realitas maya demikian. Barangkali lebih tepat jika disebut sebagai sebuah ideologi, ide yang menyamarkan realitas, namun disini kehadirannya begitu nyata. Keberadaan ideologi menguntungkan pihak dominan, namun bukankah cyberspece telah menjadi bagian hidup masyarakat tanpa melihat golongan. Bahkan golongan kapitalis, sebagai golongan dominan malah lebih responsif terhadap pemanfaatan televisi, dan turut terserap dalam realitas di dalamnya. Seorang kapitalis memiliki televisi lebih dari satu, komputer, booknote, laptope telah menjadi bagian tak terlepaskan dari kehidupnya. Jika demikian siapa yang diuntungkan dari keberadaan cyberspace, televisi, internet, atau malah semua orang membutuhkannya untuk menciptakan simulasi realitas atau jika perlu kacamata simulasipun diciptakan agar manusia dapat hidup dalam dunia virtual yang menyenangkan dimana segalanya mungkin.

Penutup
Demikian gambaran singkat tentang postmodern menurut pemahaman saya . Saat realitas tidak lagi dipahami secara unitas maka posmo menampakkan kakinya di bumi. Realitas dapat dilihat secara beragam, dari berbagai perspektif, jika perlu realitas digantikan dengan realitas virtual yang memberikan kenyamanan. Kita telah berada di era ini, dengan kebebasan untuk mengikuti ritual pagan, Yoga, menjadi Budhaisme oleh sebuah alasan pragmatis, serta menjadikan acuan hidup dan idealitas tidak pada perenungan atas pengalaman keseharian melainkan secara instan melalui televisi telah menyediakan acuan yang siap digunakan kapan saja. Saat tidak ada diskursus yang menyatukan masyarakat maka setiap orang bebas menentukan caranya mengada dihadapan realitas. Oleh sebab itu tidak ada salahnya jika kita menyambut kehadiran era posmo ini dengan penuh suka cita.

Catatan Kaki
1. Winkipedia, Muson
2. Stanley J. Grenz, Primer on Poatmodernisme, hlm 102
3. Jean-R. Lyotard, Krisis dan Masa Depan Pengetahuan, (terjemahan) hlm 95-96
4. L.C Dunn & TH. Dobzhansky, Heredity, Race and Society, hlm 83
5. Lihat Stanley J. Grenz, Primer on Poatmodernisme, hlm 99
6. Salah satu yang terkejam adalah yang dilakukan oleh Hitler
7. Baca I. Bambang Sugiharto, Postmodern: Tantangan bagi Filsafat

Sunday, 20 April 2008

PEMBERIAN TAK TERBALASKAN DAN ENIGMA


Sebuah tindakan besar bagi kemanusiaan akan sangat terkait dengan aktivitas pemberian. Mustahil sebuah tindakan kemanusiaan terjadi tanpa kerelaan seseorang membagikan atau bahkan mengorbankan sesuatu yang ia miliki dan hargai kepada orang lain. Pemberian yang bernilai kemanusiaan mengandung unsur pengorbanan, karena kita harus memberikan sesuatu yang bernilai dan saat ada beribu alasan untuk tidak melakukan pemberian tersebut.

Nilai dari sebuah pekerjaan kemanusiaan tidak diukur dari indikator popularitas. Bahwa tindak-tanduk sosok ternama seperti Gandhi atau Martin Luhter Jr. yang telah memberikan inspirasi bagi kemanusian global tidak lebih bernilai dari sebuah tindakan kemanusiaan seorang pengemis yang menyisikan sedikit penghasilannya yang seharusnya untuk makan demi membiayai pengobatan rekannya sesama pengemis.

Dimanakan letak kebermaknaan sebuah pemberian itu? Letak kebesaran sebuah pemberian adalah pada cirinya yang tanpa timbal balik. Pemberian yang mengandung sebuah pengorbanan atau tindakan yang baik kemudian mendapatkan balasan berupa penghormatan atau popularitas adalah hal biasa. Tapi menjadi sulit jika pemberian dan perbuatan baik itu sepenuhnya terbebas dari sebuah aksi timbal balik. Sangat sulit bagi seseorang yang melakukan sebuah tindakan baik tanpa menghilangkan jejak dirinya. Akan selalu ada yang ia peroleh dari tindakan baiknya apakah berupa penghargaan, pujiaan, pertolongan balasan.

Pemberian tulus atau seolah tanpa pamrih dapat bersifat semu ketika didasarkan harapkan akan sebuah pengakuan diri atau ego si pemberi. Mengharapkan agar orang lain mengindahkan keberadaan si pemberi. Saat pemberian terjadi maka si penerima akan menatap si pemberi dan menempatkan dirinya pada kesadarannya sebagai pribadi terhormat. Senyuman dan tatapan si penerima menjadi sebuah balasan yang bersifat imateril.

Rasanya sulit membayangkan sebuah pemberian, meskipun sangat dibutuhkan si penerima, berakhir pada penghinaan, perendahan atau pengindahan. Orang demikian cenderung akan dicemohkan dan dianggap tidak tahu sopan santun. Namun dalam kondisi demikianlah pemberian menjadi sempurna. Saat si pemberi terlupakan dan raib dibalik segala kebaikannya.

Pemberian terbalaskan dapat disamakan dengan sebuah aktivitas transaksi. Pemberian bantuan dengan harapan sebuah balasan, analog dengan penawarkan sebuah barang untuk mendapatkan uang. Pemberian demikian bersifat transaksional. Pemberian sedemikian hanya bersifat temporer. Ketika balasan diberikan maka aksi reaksi akan berhenti dengan sendirinya.

Saat si pemberi raib atau menolak sebuah pembalasan, pemberian itu tidak berkesudahan sehingga si penerima tidak mampu membalaskannya. Si pemberi menempatkan pemberian sebagai tujuan. Mengasihi dan menolong musuh adalah contoh pemberian yang sempurna, ketika si pemberi tidak saja sulit membalas dengan hal positif karena terdistoris oleh kebenciannya namun juga akan membawa si pemberi pada ancaman dari si musuh.

Pemberian yang sejati akan menjadi sebuah enigma. Layaknya sebuah benih yang ditanam dan menumbuhkan tanaman yang bakal menghasilkan biji yang melimpah. Ketika pemberian tidak terbalaskan pada si pemberi maka si penerima akan membalaskannya tanpa arah dan tanpa batas. Maka pemberiaan itu tidak saja menjadi metapersonal namun juga metahistoris dan terus hidup pada generasi demi generasi menjadi sebuah prasasti yang abadi.

Monday, 14 April 2008

HUMANISME DOSTOEVSKY


Mari kita sejenak berkhayal, memilki banyak uang kemudian menghabiskannya untuk menolong seorang pengemis? Atau mengorbankan hidup kita demi orang lain yang tidak pernah kita kenal sebelumnya dan tidak lebih dari seorang pemabuk? Barangkali zaman telah mengajarkan untuk melihat pengorbanan demikian sebagai sebuah ketololan.

Namun bukankah kita telah diajarkan tentang kasih (khususnya umat Kristen). Oleh karena itu apakah kasih? Dan bagaimana kiranya kasih itu dijalankan?. Sekiranya zaman ini senantiasa memarginalkan orang-orang yang dianggap tidak berfungsi secara sosial seperti pengemis, pemabuk dan gelandangan oleh karena itu manusia seperti apakah yang layak menjadi objek kasih dari manusia lainnya?

Disamping itu ketika humanisme merupakan suatu pandangan luhur yang diagung-agungkan manusia zaman ini, yang dipahami sebagai pertanggungjawaban penuh terhadap kemanusian, apakah itu mencakup semua manusia tanpa memandang klas, status, dsb? Atau hanya lebih ditujukan pada golongan tertentu yang lebih layak dianggap manusia?. Dan seperti apakah manusia yang dimaksud?.

Dostoevsky dan Persoalan Kemanusiaan
Barangkali Dostoyevskylah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Melalui karyanya, Dostoyevsky melakukan kontemplasi bagaimana humanisme harus dipahami, yang digambarkan melalui hubungan antar tokoh utama pada karyanya. Dostoyevski merupakan seorang pengarang novel dan cerita pendek pada abad ke-19 yang berasal dari Rusia, yang banyak mengangkat kisah penderitaan dan kemiskinan di kalangan masyarakat Rusia.

Barangkali dua karyanya yang berjudul “Orang-orang Malang” dan “Pencuri yang Jujur” merupakan refleksi dan cerminan kekayaan pemikirannya terhadap humanisme.

Orang-orang Malang (Poor Folk) merupakan novelnya pertamanya yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat Rusia. Novel ini berbentuk korespondensi surat-surat cinta antara Maker Devushkin, seorang pria setengah baya yang bekerja sebagai juru tulis di kantor pemerintahan dan Varenka, seorang gadis belasan tahun yang tidak lagi memiliki orang tua dan telah dinodai dengan sangat jahat oleh seorang pria kaya yang bernama Tn. Byakov. Dalam novel ini dikisahkan Maker Devushkin, didorong oleh cintanya yang begitu besar terhadap Varenka, mengorbankan seluruh kekayaannya untuk memenuhi kebutuhan sang gadis semata-mata agar sang gadis dapat hidup bahagia.

Sedangkan Pencuri yang Jujur (The Thief) merupakan cerita pendek yang mengisahkan hubungan yang begitu tulus antara Astafi, seorang pemuda yang dermawan dengan Emelian, seorang pria pemabuk yang suka mencuri.

Dan pesan apakah yang disampaikan oleh Dostoyevsky melalui kedua karyanya ini?.

Secara umum kedua kisah tersebut mengambarkan bentuk cinta dan keperdulian terhadap sesama yang ditunjukkan melalui pengorbanan yang sangat ekstrim. Sulit bagi kita untuk dapat memahami tindakan Maker Devushkin yang mengorbankan sebagian besar hartanya agar dapat membeli hadiah-hadiah bagi Varenka? Hingga kemudian Maker Devushkin terpaksa harus tinggal di kamar kos yang sempit dan menyiksa agar dapat menghemat uangnya dan sampai meminjam uang dari sahabatnya, yang pada akhirnya menimbulkan masalah baginya, semata-mata agar dapat memenuhi kebutuhan hidup Verenka. Maker Devushkin menyadari jikalau mereka mustahil untuk bersama; dan hal ini terbukti di akhir kisah dimana Varenka meninggalkannya untuk menikah dengan pria yang lain; namun tidak menyurutkan pengorbanannya untuk dapat membahagiakan Varenka.

Barangkali juga cukup aneh bagi kita melihat pengorbanan yang begitu besar yang dilakukan oleh Astafi terhadap Emelia yang hanya seorang pemabuk dan pencuri?. Astafi bahkan mengetahui bahwa Emelia mencuri mantelnya untuk membeli minuman keras namun ia tetap menerima Emelia untuk tinggal di rumahnya. Astafi berusaha untuk merubah kebiasaan mabuk-mabukan Emelia dan mendorongnya untuk bekerja namun tidak pernah berhasil. Tidak ada hal yang menguntungkan dari hubungannya dengan Emelia namun tidak juga menyurutkan pengorbanan Astafi untuk merawat Emelia dan berharap ia dapat meninggalkan kebiasaan buruknya. Barangkali hanya Astafilah yang menangisi kematian Emelia.

Dostoevsky dan Humanisme
Melalui kedua cerita itu Dostoyevsky mencoba mengambarkan bentuk hubungan antara manusia yang melampau batas-batas pemahaman rasionalitas. Humanisme yang melampaui batas nalar manusia. Tindakan-tindakan yang dalam pandangan manusia zaman ini lebih merupakan bentuk ketololan dari pada kearifan. Namun humanisme seperti inilah yang hendak ditawarkan oleh Dostoyevsky, menjadikan kemanusiaan di atas segala-galanya. Tiada kewajiban manusia yang bersifat aprioi selain bertanggung jawab terhadap kemanusiaan.

Dalam setiap diri manusia, tanpa memandang keberadaannya, mengandung tanggung jawab bagi orang lain. Manusia dalam ketelanjangannya sebagaimana konsepsi Levinas, mengandung kewajiban moral bagi manusia yang lain untuk bertangung jawab terhadap keberadaannya, yang tereksperikan melalui wajah. “Lihatlah wajah manusia maka engkau akan lihat kerentaan di dalamnya yang menimbulkan keibaan” ungkap Levinas.

Bagaimana mungkin? Bagi Dosteyevsky humanisme tidak dapat terpahami dalam tatanan nalar melainkan dalam tatanan intuisi. “Biarkanlah intuisimu berbicara tentang kemanusiaan”. “Berkorbanlah, lakukanlah sesuatu terhadap sesamamu maka engkau akan memahami arti dari kemanusiaan”.

Nalar dapat terjerumus pada pemahaman kuantitatif empiris dengan batas-batas ada sebagai dasar legitimasi. Sehingga manusia dikonsepsikan sebagai tubuh dengan atribut yang melekat sebagai sesuatu yang dapat dipersepsikan. Dalam batas-batas nalar, kriteria yang membuat manusia menjadi manusia, terjerat dalam batas kuantitatif seperti “seberapa pentingkah nilai dari seorang manusia?, cenderung diukur dari karya cipta/produktivitas yang dia hasilkan; seberapa bermartabatkah dia? cenderung diukur dari harta yang dia miliki.

Pemahaman demikianlah yang ditolak oleh Dostoyevsky. Emelian dalam pandangan masyarakat umum adalah sampah masyarakat yang sebaiknya disingkirkan, namun secara intutif Astafi mampu melihat keberhargaan Emelian sebagai seorang manusia, sehingga baginya menyelamatkan Emelian tidak sebuah ketololan melainkan sebuah kewajiban. Dan bagaimanakah bentuk penghargaan terhadap kemanusiaan itu diterapkan? adalah melalui pengorbanan, sebagaimana yang dilakukan oleh Makar Devuskhi yang mengorbankan segala-galanya demi kasihnya kepada Varenka.

Kristus dan Dostoevsky
Namun apakah mungkin bagi kita mewujudkan prinsip-prinsip kemanusian yang sedemikian ketika nalar kitalah yang selama ini berkuasa dalam menentukan keputusan yang tepat? Bukankah kapitalisme juga telah, tanpa sadar, menguasai batas-batas rasional kita dalam menafsirkan realitas. Bukankah manusia bernilai selama ia produktif dan mampu menyediakan hal-hal yang dibutuhkan oleh orang lain?. Atau bukankah manusia menjadi manusia selama ia mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan akumulasi kapital organisasi sosial?.

Bagaimana seandainya jika manusia menjadi tidak produktif, oleh Kafka dianalogkan sebagai seekor kecoak, apakah manusia akan tetap dihargai sebagaimana mestinya seperti halnya manusia yang produktif? Atau malah sebaliknya, mereka akan diusir dari tatanan sosial dan kematiannya tidak akan pernah diratapi melainkan diharapkan sebagaimana yang dialami oleh orang tua jompo, orang gila, penjahat, pengemis, pengamen dsb.

Yesus barangkali yang pertama mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia. “Doakan musuhmu, beri pipimu yang sebelah kanan jika engkau ditampar di pipi sebelah kiri, jadikan sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, demikianlah yang diungkapkan oleh Yesus yang membuat orang-orang pada masanya tercengang,

Bagaimana mungkin?”. Tentu saja kesemua itu dilakukan melampaui batas nalar manusia yang cenderung bersifat Imperatif Kategoris, yakni suatu kewajiban moral yang harus dijalankan tanpa harus ditanyakan mengapa dan apa tujuannya. Namun Dostoyevskylah yang secara apik dapat menjelaskan prinsip kasih tersebut dalam realitas nyata dan konstruksi kehidupan sehari-hari di tengah-tengah hidup penuh penderitaan. “Jadikanlah setiap manusia sebagaimana manusia melalui pengorbananmu”, barangkali demikianlah yang dapat kita simpulkan daripadanya.

Itu pulalah pesan yang hendak disampaikan oleh Dostoyevsky tentang hubungan antara sesama manusia, yakni berbuatlah, berkorbanlah terhadap sesama manusia dan biarkanlah intuisi mengajarkanmu makna dari kemanusiaan.

Bahan Bacaan
1. Dostoevsky, F. "The Thief". The Online English Libarary (www.englishlibrary.org)
2. Dostoevsky, F. "Poor Folk". Short Story. The Literature Network (www.online-literature.com)

Monday, 25 February 2008

ETIKA DAN PERUBAHAN BANGSA


Layakkah etika dijadikan titik tolak bagi perubahan nasib bangsa Indonesia? Tepatkah pertanyaan ini disampaikan? Bagi seorang ekonom, barangkali pertanyaan tersebut mengada-gada, bagaimana etika dapat dijadikan solusi bagi persoalan yang dihadapi Indonesia, karena apa yang sesungguhnya persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia, krisis ekonomi, pengangguran, serta berbagai konflik-konflik sosial seluruhnya berpangkal pada persoalan kesejahteraan yang membutuhkan penyelesaian secara ekonomi. Mekanisme pasar adalah solusi terbaik. Perubahan ke arah yang lebih baik diartikan perbaikan tingkat kesejahteraan. Oleh sebab itu menurut para ekonom persoalan Indonesia harus diselesaikan melalui formulasi kebijakan ekonomi yang tepat.

Lagi pula, masihkah ada ruang bagi etika, saat manusia dipandang berdasarkan perpektif ilmu pengetahuan, sebuah mesin mekanis yang sikap dan perilakunya adalah manifestasi dari kerja struktur kepribadian pada tatanan nirsadar dengan hukum-hukum keteraturan sebagaimana diartikulasikan oleh Sigmund Freud, atau dibentuk oleh sebuah interaksi dari sistem biologis tubuh dan internalisasi sistem sosial. Sehingga pikiran dan kesadaran semuanya adalah sesuatu yang manifetasi kerja otak secara tidak sadar sehingga kehendak bebas serta subjektivitas manusia diturunkan dari tahta sucinya.

Lihat saja apa yang didegungkan oleh kaum behavioritas tentang perilaku manusia. Bahwa kebiasaan atau tingkah laku pada manusia terbentuk sebagai akibat mekanisme stimulus-respon. Terdapat empat komponen yang mendorong terbentuknya tingkah laku dan kebiasaan manusia yakni, (1) adanya dorongan atau kebutuhan internal yang bersifat primer seperti rasa lapar, haus atau derivasi dari kebutuhan primer yang bersifat sekunder seperti mendapatkan prestasi, jabatan, dsb, dsb (2) cues, atau adanya stimulasi faktor-faktor eksternal respon yang sesuai dengan kaulitas pemenuhan kebutuhan yang tersimpan dalam memori kita, (3) respon, maka kita akan melakukan tindakan (3) reward, setelah bertindak kita apakah kebutuhan kita akan terpenuhi atau malah semakin mengalami ketegangan, jika terpenuhi tindakan yang kita pilih akan terkondisikan, sehingga saat kita mengalami kebutuhan yang sama dalam kondisi eksternal yang sama, maka yang kita akan kembali mengulangi tindakan yang mendatangkan insentif positif . Prinsip ini hendak berkata bahwa setiap perilaku setiap manusia bersifat deterministik yakni mengejar kesenangan, dan tingkah laku yang menghasilkannya akan bertahan, sedangkan yang tidak, tereduksi dengan sendiri.

Jika demikian, asal usul tindak kejahatan bukan berasal dari sebuah keputusan bebas individu menjadi jahat, melainkan karena terkondisikan demikian. Sehingga dengan demikian, bagaimanakah manusia harus dibebankan tanggung jawab terhadap tindakannya? Kalaupun seorang kriminal dihukum karena tindak kejahatannya lebih merupakan bentuk pengkondisian, pemberian insentif negatif agar tindakan tereduksi serta tidak lagi menjadi kebiasaan.

Ketiadaan tanggung jawab personal terhadap tindakannya juga turut mendapat pembenaran dari perspektif genetis. Bahwa kecenderungan tindakan adalah hasil pengkodean genetik yang diwariskan secara biologis. Sifat-sifat seperti dermawan, penyayang, bengis timbul bukan akibat pilihan bebas melainkan sebagai ekspresi dari materi genetis yang sudah membawa karakter awal yang bakal dimiliki seseorang. Sehingga kebijakan eugenetika patut dilakukan untuk mengurangi jumlah penduduk yang lahir dengan bawaan gen negatif serta untuk menghasilkan kualitas yang unggul . Artinya timbul tindakan yang amoral bukan karena sebuah pilihan melainkan secara biologis, materi genetik telah menentukan bahwa seseorang memiliki sikap atau tindakan yang cenderung asosial. Maka wajar jika negara mewajibkan agar mereka yang cacat mental, mengalami penyakit bawaan genetis, pelaku kejahatan berat atau yang memiliki kecenderung asosial untuk dikebiri atau tidak diperkenankan memiliki keturunan.

Modernitas dan Anti Kebebasan Individu
Munculnya pandangan sebagaimana disebutkan di atas cerminan dari geliat modernitas yang telah merasuki segala bidang. Modernitas adalah sebuah proyek intelektualitas yang berusaha memahami realitas dalam konsep permodelan, sebagai menifestasi hukum keteraturan dan kekelan energi, yang diperoleh melalui observasi objektif. Menurut Lyotard modernitas adalah proyek intelektualitas dalan sejarah dan kebudayaan barat yang mencari kesatuan di bawah bimbingan suatu Ide pokok, yang terarah kepada kemajuan. Era modern ditandai dengan manusia tidak lagi menjelaskan fenomena alam secara mistis melainkah secara naturalis . Eksplanasi naturalis dirintis oleh kaum filsuf Yunani, sedangkan prinsip keteraturan dan hukum-hukum kekekalan telah muncul sejak era Newton, yang memandangan bahwa alam semesta adalah sebuah mesin raksasa yang bergerak secara teratus berdasarkan hukum-hukum yang bersifat mutlak..

Pada awalnya konsep demikian hanya diterapkan pada ilmu pengetahuan alam karena banyak teori-teori maupun permodelan untuk menjelaskan fenomena alam dapat tampaknya dapat memperoleh kesepakatan universal. Bahwa setiap benda yang dilemparkan ke atas akan kembali jatuh ke bawah, benda yang jatuh pasti akan menimbulkan bunyi. Hukum alam adalah sebuah pernyataan jika suatu peristiwa terjadi yang lain akan menyusul . Teori mekanika Newton secara meyakinkan mampu menjelaskan setiap fenomena gerak dari benda-benda di alam. Demikian halnya dengan hukum termodinamika atau hukum fisika lainnya sepertinya dapat diterapkan menjelaskan berbagai kejadian dalam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Namun karena hubungan sebab-akibat begitu nyata dan jelas pada fenomena alam ternyata juga turut mengairahkan para kaum intelektual di bidang sosial, serta mulai mengadobsi anggapan bahwa ilmu sejarah, perilaku manusia, dan ekonomi juga memiliki hukum yang bersifat alamiah. Obsesi ini mendorong peristiwa sosial harus dijelaskan dalam sebuah model hubungan sebab akibat yang disusun melalui observasi. Agust Comte menyarankan agar ilmu sosial mengikuti metodologi positivisme yakni, menerapkan observasi objektif dalam menjelaskan kejadian sosial. Demikian juga dengan Adam Smith yang memiliki visi untuk mendirikan hukum alamiah yang bersifat tetap dan mutlak dalam hubungan ekonomi.

Perkembangan ilmu pengetahuan bergerak pada penjelasan reduksionisme. Hukum keteratuan akan lebih akurat jika kita dapat sampai pada sebuah substansi yang tidak dapat lagi terbagi, yakni molekul, atom, sel, gelombang seiring dengan ditemukannya sejumlah alat-alat observasi yang memampukan manusia melihat elemen yang lebih kecil lagi dari suatu benda. Sehingga eksplanasi terhadap realitas harus dijelaskan kepada hal-hal yang tidak lagi kasat mata. Sebuah benda bergerak atau mudah terurai lebih disebabkan manifestasi quantum, gelombang energi, dsb. Demikian halnya dengan fenomena kehidupan, bahwa aktivitas kehidupan, perilaku harus dijelaskan dengan biologi sel, kadar gula dalam darah, jumlah hormon dalam sel-sel tubuh.

Kecenderungan yang terjadi kemudian, manusia turut menjadi salah satu objek yang harus dijelaskan dengan konsepsi demikian. Bahwa manusia dipandang sebagai sebuah mesin yang bekerja berdasarkan hukum-hukum mutlak, yang termanifesikan pada kerja organ-organ tubuh, hingga pada biologi sel. Manusia menjadi lapar karena kadar gula didalam tubuh darah menurun, dimana perasaan lapar adalah hasil dari interperasi otak atas adanya kekurangan tersebut, maka otakpun mengorganisasikan alat-alat tubuh untuk mendorong terjadinya aktivitas makan. Maka otak akan menghadirkan memori jenis-jenis makanan yang dibutuhkan, mengerakkan mata melihat dimana makanan tersedia, mengerakkan tangan untuk mengambil makanan, serta memerintah mulut untuk mencerna makanan secara mekanis. Sedangkan untuk prosesnya terjadi secara otomatis lepas dari perintah otak secara sadar.

Skeptisme terhadap Pengetahuan
Namun pada akhir abad ke-20 hingga abad ke-21, secara perlahan kaum intelektual memasuki masa skeptisme terhadap ilmu pengetahuan yang diawali dari ranah filsafat. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan kegagalan ilmu pengetahuan positif mewujudkan janjinya memberikan dunia yang lebih baik, saat segala rahasia alam telah terpecahkan dan hukum telah disingkapkan secara sempurna. Malah manusia abad ke-20 harus menyaksikan dunia modern, yang diklaim telah dibebaskan dari kebodohan dan keyakinan yang tidak memiliki dasar, menjadi dunia penuh kekejaman, dimana teknologi dan ilmu pengetahuan secara sistematis digunakan untuk membinasakan umat manusia melalui bom, nuklir atau senjata pemusnah. Manusia diperhadapkan pada persoalan krisis hidup dan lingkungan sebagai dampak langsung maupun tidak langsung dari ilmu pengetahuan apalagi saat sakralitas lokalitas dihilangkan karena tidak memiliki landasan sientifik yang malah semakin mengairahkan dorongan egoisme manusia untuk mengeskploitasinya secara serampangan. Belum lagi teori-teori ilmiah, seolah-olah demikian, yang dikaitkan dengan eksistensi manusia, seperti keyakinan terhadap evolusi, sifat bawaan secara genetis, telah menjadikan manusia sebagai objek pengafkiran, seperti yang pernah dilaksanakan oleh Hitler, dengan membangun proyek pembunuhan massa untuk membersihkan ras-ras ataupun orang-orang yang tidak sesuai dengan cita-cita memajukan Jerman.

Hal ini diawali dari pemberontakan terhadap scientific-empirisme yang ditetapkan sebagai satu-satu cara berhubungan dengan ada dan memperoleh kebenaran dari padanya, dengan sebuah keyakinan dogmatis bahwa apa disaksikan adalah sebagaimana objek itu berada. Namun para pengkritik mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar, bagaimanakah kita dapat menjamin bahwa apa yang kita lihat adalah sebagaimana keberadaan dari objek yang kita persepsikan? Jika kita melihat jeruk berwarna hijau, apakah benar bahwa jeruk tersebut benar-benar seperti yang kita saksikan dan bukan semata-mata gambaran mental saya semata. Bahwa Sartre menegaskan bahwa apa yang kita alami dan kita sadari adalah ada dalam kesadaran kita dan bukannya ada dalam keadaan dirinya. Jika syarat dari pengetahuan adalah menyarikan ada sebagaimana adanya bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kita tengah berinteraksi dengan ada itu sendiri. Jika kita tidak dapat membuktikan hal tersebut maka keyakinan tersebut menjadi dogma yang harus dibangung terlebih dahulu agar pengetahuan menjadi mungkin. Sehingga bisa saja, sebagaimana konsepsi Barkley bahwa semuanya tidak nyata melainkan hanyalah sebuah persepsi. Dan kita hidup dalam dunia yang diciptakan oleh gambaran mental kita, sekaligus menjadikan kesadaran sebagai titik sentral eksistensi kita..

Maka legitimasi hukum-hukum alam sebagai sesuatu yang ada secara natural menjadi terbantahkan, melainkan menjadi cara manusia memaknai ada dalam kesadarannya. Pengetahuan yang kita bangun tidak berpusat ke luar melainkan ke dalam diri kita. Menurut Nietzche manusia sesungguhnya yang menata dan meyusun realitas secara seenaknya dan sesuai dengan selera pribadi kita . Kalaupun hukum alam itu ada sesungguhnya ia berada melampau konsep-konsep pemikiran kita. Dan ia menambahkan bahwa kebenarannya hanya sebagai sebuah fungsi dari bahasa yang kita pakai . Runtuhnya objektifitas seolah hendak mengajak untuk mengembalikan otonomisasi manusia, bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki kehendak bebas, oleh karena kemampuan akal budinyalah maka pengetahuan dapat dihasilkan, meskipun ilmu pengetahuan itu pada akhirnya menjadikan manusia sebagai objek observasinya dan memunculkan manusia sebagai mesin otomatis.

Etika Baru dan Konsepsi Levinas
Etika eksis selama kita menyadari keberadaan manusia sebagai mahluk yang memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab terhadap tindakannya. Manusia adalah adalah pengada dengan status ontologisnya oleh Heiddegerd disebut Desain, yakni pengada yang mempertanyakan adanya dan memaknai pengada diluar dirinya. Sehingga subjek memiliki titik sentral dalam dirinya, sehingga keputusan yang ia ambil adalah manifestasi dari status ontologisnya.

Adanya kebebasan manusia dalam memaknai realitas sebagai sebuah kenyataan ontologis mengakibatkan sejarah kehidupah manusia, sebagai totalitas pengadakan yang memiliki kebebasannya, memiliki arah yang tidak dapat ditentukan. Upaya Marx merekonstruksi akhir sejarah kapitalisme layak disebutkan ramalan di siang bolong, karena keyakinanya lahirnya revolusi klas di negara dengan kapitalisme yang sangat maju tidak juga muncul sampai saat ini, meskipun ia dengan sangat menyakinkan telah mengartikulasikan tahapan perkembangan sejarah manusia hingga pada akhir dari sejarah itu sendiri.

Barangkali demikian halnya, bahwa kita dapat membangun sebuah struktur, model atau teori yang menjelaskan dinamika masyarakat, namun seringkali model tersebut mampu menjelaskan keberadaan masyarakat masa lalu, namun tidak untuk masa depan. Seperti halnya obsesi Levi Strauss untuk mengangkat struktur absolut dibalik berbagai fenomena sosial, sistem kekerabatan, layaknya struktur aturan bahasa, sepertinya tidak tepat sasaran, karena struktur tersebut tidak mampu menjelaskan dinamika masyarakat. Setidaknya kritik Bourdieu terhadap strukturalisme, bahwa generalisasi tentang perilaku-aturan perkawinan, prosedur ritual dan semacamnya yang dihasilkan oleh antropologi struktural, tidak prediktif ataupun deskriptif , merupakan kritik yang cukup telak.

Dengan demikian saya menekankan kembali status kebebasan manusia. Bahwa manusia adalah mahluk otonom, yang mengambil keputusan secara sadar, meskipun tubuhnya bekerja dalam tatanan mekanistis dan menuntut agar keputusan manusia diarahkan untuk mewujudkan keseimbangannya, sehingga manusia merasakan lapar, harus, kantuk, namun ia sanggup berkata tidak, atau menunda pemenuhannya. Hal ini sekaligus berarti manusia kesadaran manusia tidak menjadi subordinasi tubuh, namun memiliki ruang kebebasannya sendiri.

Oleh sebab itu etika menjadi mungkin karena manusia memiliki kebebasan dalam pengambilan keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan kejahatan timbul bukan karena terkondisikan oleh adanya dorongan genetis, atau situasi sosial tertentu, melainkan karena ia menyatakan ya terhadap kejahatan iu sendiri. Meskipun adakalanya manusia memiliki sisi emosional yang dapat mengarahkan sebuah tindakan tertentu yang tidak dibenarkan, sesungguhnya juga tidak lepas dari kemampuan ego untuk mengendalikannya dengan pikiran sadar. Bahwa adakalanya adalah kecenderungan bawah sadar adalah bersumber dari otomisasi pemikiran sadar yang telah terinterlisasi. Menurut Sarlito timbulnya perilaku kekerasan di tengah-tengah masyarakat Indonesia, konflik antar suku ataupun agama semuanya berawal dari prasangka-prasangka negatif yang ditanamkan terhadap suku atau agama lain sehingga saat terjadi pergesekan prasangka tersebut menjadi sebuah tindakan praktis yang destruktif, dan darimanakah prasangka itu muncul, yakni dari pedagogis keluarga maupun kelompok yang awalnya ditanamkan secara sadar .

Keberadaan etika tidak saja menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas, melainkan juga bahwa manusia adalah mahluk sosial. Bahwa kehidupannya tidak lepas dari keberadaan manusia lainnya, sehingga ia memiliki tanggung jawab terhadap orang lain. Bahwa sejak dilahirkan seorang manusia bergantung pada yang lain, ia diasuh oleh ibunya hingga sejak kecil, ia memperoleh pendidikan sosial dari ayah atau gurunya, ia membutuhkan penghargaan dan cinta kasih dari sahabat-sahabatnya, ia melakukan aktivitas produksi bersama kehadiran orang lain, bahkan saat ia mati ia membutuhkan orang lain untuk mengurusi jasadnya.

Konsep manusia egoistik, manusia hendak berkuasa ala Niezchesian, menurut hemat saya cenderung pandangan naif karena kehidupan manusia tidak bisa lepas dari manusia lain dan hidup bersama dengan sesamanya dengan masing-masing tetap memelihara ruang kebebasan adalah hal yang tidak mustahil, namun dengan memisahkan dirinya dan memusatkan keputusan pribadinya hanya semata-mata bagi dirinya maka ia sepenuhya melepaskan dirinya dari realitas eksistensinya serta hidup secara terasing.

Etika Simetris dengan Etika Unsimetris
Jika demikian apakah landasan dari etika itu? Menurut hemat saya, etika harus dibangun berdasarkan kesadaran akan kenyataan manusia itu sendiri. Saya kurang sependapat dengan pendapat Franz Magnis, yang mengacu pada konsepsi Immanuel Kant, bahwa landasan etika berada pada suara hati, menjadi pesan transendental yang bersuara dalam diri manusia dari tatanan noumenanya untuk mengatasi keterbatasan kita menjangkaunya pada tatanan fenomenal. Seolah kesadaran etika timbul tidak dengan menatap kehadiran orang lain, melainkan dengan sebuah kontemplasi belaka, seolah prosedur yang telah ditentukan dan bukan buah dari perenungan manusia itu sendiri.

Demikian halnya konsepsi etika utilitarian ala Bertham, bahwa apa yang baik adalah yang menimbulkan kesenangan. Sehingga etika universal adalah apa yang baik, atau memberikan kesenangan bagi mayoritas orang. Artinya mengapa membunuh orang lain tidak diperkenankan karena tidak ada seorangpun didunia ini ingin meninggalkan kehidupan yang begitu indah ini, sehingga dengan demikian tidak ada seorangpun yang dapat membenarkan pembunuhan itu terjadi. Namun etika demikian memiliki sebuah resiko totaliter, dan cenderung akan menyingkirkan kaum minoritas. Misalnya jika pandangan ini diterapkan di Indonesia, tentunya wajar-wajar saja jika golongan agama minoritas dibredel tidak boleh melakukan ibadah, karena apa yang mereka lakukan menimbulkan ketidaknyamanan penganut agama mayoritas. Dan pendapat umum masyarakat dapat menentukan elemen masyarakat mana yang harus disingkirkan, seperti penjahat, pelacur, kaum homoseksual layaknya diasingkan atau jika boleh dihukum mati saja. Sehingga adakalnya hak-hak pribadi dapat digilas begitu saja saat bertentangan dengan apa yang menjadi kepentingan golongan mayoritas.

Mencari landasan etika sebaiknya terarah pada manusia itu sendiri, sebagai sebuah keyataan dalam kesadaran kita. Yang harus dikaitkan dengan bagaimanakan kenyataan manusia itu sendiri harus dipahami. Pertama-tama manusia tidak layak kita jadikan sebagai bagian proyek ontologis, karena apa yang kita lekatkan kepadanya sekaligus juga akan kita lekatkan pada diri kita sendiri. Proyek ontologis seringkali berakhir dengan istilah memahami. Bahwa kita memahami orang lain, seolah kita memahami diri kita, apakah ini bukan sebuah pernyataan yang sedikit semberono?

Memahami berbeda dengan mendeskripsikan, bahwa benar manusia memiliki tubuh, bisa merasa sedih, gembira, namun semua itu adalah deskprisi belaka dan terikat dengan persoalan bahasa. Bahwa istilah tubuh, mata, gembira adalah makna yang kita lekatkan ada sebuah fenomena kehadiran? Namun apakah manusia dalam dalam kenyataannya sendiri? apakah manusia sebagai wujud universalnya? Bahkan kita tidak pernah mengetahui tujuan pasti dari kehadiran kita dan manusia dari abad ke abad di dunia ini? Bahwa manusia dapat terdeformasi, sehingga dalam tulisannya FX Hardiman kemudian mempertanyakan apakan saat janin bermata satu, memiliki stuktuktur tubuh layaknya sesosok monster layak dijadikan sebagai manusia? Hal ini setidaknya menjadi respon terhadap pemahaman kita terhadap batas-batas kenyataan manusia pada aspek fisik belaka.

Jika manusia tidak layak dipahami secara ontologis, bagaimanakah selayaknya kita memahami manusia? Maka pertanyaan ini dijawab dengan sangat lugas oleh Levinas, seorah filsuf etika, yang menyatakan pemahaman kita terhadap manusia harus berawal dari sebuah kesadaran meontologi. Meontologi, berarti ketiadaan, menghadirkan sebuah momen ketidaktahuan yang oleh Gabriel disebut sebagai sumber lahirnya sebuah misteri, seperti halnya Tuhan yang juga sebuah misteri. Dimana misteri menghadirkan kekaguman. Oleh sebab itu Levinas menegaskan bahwa pertemuan kita dengan orang lain senantiasa bernuansa etis, bahwa tidak ada yang dapat kita sarikan daripadanya kecuali tuntutan untuk memelihara, tidak boleh membunuh, dan pesan ini adalah pesan transendental bagi kita dari sesuatu misteri.

Wajah manusia menjadi titik sentral pertemuan kita dengan yang lain (other), dimana wajah tidak dipahami dalam konteks maupun sensualitas melainkan wajah dalam metahistori dan dalam kesadaran kontemplasi. Sekaligus menjadi titik tolak pertemuan antara aku dengan kamu untuk menyatu dan membuka diri menjadi kita , dimana segala kekomplekan kita menyatu dan ego melebur menyatu dengan membuka diri masing-masing.

Oleh sebab itu dalam konsepsi Levinas etika muncul didasarkan sebuah keterbukaan atas orang lain sebagaimana dirinya, lepas dari segala pra-konsepsi, yang oleh Husserl menjadi sarana mencapai sebuah kesadaran murni, namun oleh Levinas membawa kesadaran kita pada ketiadaan. Dimana dalam ketiadaan ada sebuah misteri, dalam misteri ada sebuah kekaguman dan kekaguman menanamkan sebuah rasa tanggung jawab, memperhamba diri bagi sebuah wujud maha sempurna. Dengan konsepsi demikian etika menjadi sebuah prinsip yang tidak terbatas pada sebuah prosedur namun terletak pada sebuah afirmasi diri yang pada penerapannya akan bervariasi sesuai dengan konteks dan masanya. Dalam pemahaman demikian maka, manusia tidak tersubordinasi dalam kewajiban melaksanakan etika seperti konsepsi Kant, melainkan berdasarkan perenungan dirinya secara bebas dan atas pertemuannya dengan orang lain serta tidak bersifat pragmatis yang dapat secara tidak sengaja mendehumanisasi yang lain sebagaimana konsepsi etika utilatarian.

Etika Baru bagi Indonesia
Indonesia memerlukan sebuah revolusi etika dengan mengembalikan fungsi etika sebagai bentuk pemeliharaan hubungan di antara manusia yang terpusat pada yang lain bukan pada kepentingan diri. Etika sebagai ancuan dalam bertindak dapat menjadi sumber dari berbagai perilaku altruistik dan berioeintasi sosial, yang mengatasi hubungan yang semata-mata ekonomi yang cenderung tidak menciptakan keadalilan. Memberi dan menolong sesama dapat dilakukan kapan saja, bahkan saat tengah kesusahanpun manusia dapat saling membantu. Penerapan kebijakan untuk mendorong perbaikan kesejahteraan, hanyalah menciptakan kondisi yang mendorong orang melakukan tindakan tidak merugikan orang lain atau memberikan keuntungan bagi masyarakat berdasarkan kepentingannya sendiri. Orang membayar pajak yang akan didistribusikan kepada kepentingan masyarkat dilakukan bukan karena sebuah kesadaran untuk membantu sesamanya melainkan agar pemerintah tidak memberikan hukuman. Kebijakan pemerintah hanyalah menjadi tekanan eksternal yang mendorong seseorang menyesuaikan tindakan dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah, namun saat kebijakan itu ditarik maka seseorang yang egois akan kembali pada kebiasaan awalnya.

Sesungguhnya etika yang diajarkan oleh agama, maupun negara peraturannya dapat mendorong timbulnya kesadaran akan sesama manusia sebagai mahluk yang maha sempurna sebagai cipta Tuhan Yang Maha Kuasa, namun pada pelaksanaannya kesadaran ini raib dan menjadi sebuah prosedural yang dilaksanakan secara dogmatis dan terjebak dalam pelaksanaan mekanistis. Bahwa seorang penjahat harus dihukum, jika perlu disingkirkan karena undang-undang memungkinkan demikian, sekaligus kita menjadikan hukum semata-mata alat untuk menumbuhkan egoisme diri.

Seperti halnya kasus Ceriyati, seorang TKI yang kembali mengalami penyiksaan di Malaysia dan kemudian melarikan diri dengan turun dari gendung apartment hanya dengan menggunakan tali dari kain yang dipilin, sesaar kita mengalihkan perhatian kita padanya, mungkin karena banyak dari kita terkesima atas apa yang tampilankan media massa, yang memperlihatkan mukanya yang lembam. Kita menjadi iba karena efek sensualitas media, namun apakah ini termasuk dapat sebuah sikap etis.

Etika tidak berhubungan dengan rasa iba, karena etika harus berawal dari rasa hormat kita terhadap manusia dan kemanusiaan. Sehingga keperihatinan kita dan dukung terhadap tindakan hukum, bantuan materi atau keterlibatan terlibat dalam tim investigasi seharus tidak timbul secara mendadak hanya karena kita tersentak kaget. Ceriyati mengalami kondisi demikian karena kita selama ini tidak memiliki sikap yang tegas terhadap adanya pengiriman TKI kerja secara ilegal yang tidak dipersiapkan dengan baik, atau adanya orang-orang yang tidak bertanggungjawab mencari orang-orang lugu dan polos untuk dikirim bekerja ke luar negeri untuk dieksploitir. Atas nama kemanusiaan kita patut bersikap dan bertidak terhadap segala bentuk dehumanisasi. Dan dehumanisasi tidak saja dialami oleh Cayati, bahwa ada jutaan orang di Indonesia mengalami gizi buruk, tidak memiliki tempat tinggal, ada banyak orang yang harus tergilas oleh mesin-mesin kekuasaan, pedagang-pedagang yang digusur demi keindahan kota, pemilik tanah yang harus kehilangan hak demi kepentingan pengusaha-pengusaha serakah. Indonesia seolah menjadi negara dimana prinsip utilitarian dilembagakan meskipun yang menetapkan apa yang benar bukan mayoritas masyarakat melainkan para pengusa dan mereka yang kaya.

Saat kita melihat wajah mereka yang tertindas satu persatu, menghayatinya, toh keberadaan mereka adalah bentuk keterikatannya eksistensinya dalam konteks sosial tertentu, ia tidak berbeda dengan kita, ia adalah manusia, mahluk yang unik, yang sebagaimana dengan kita, hadir begitu saja dalam dunia tanpa tahu dari mana berasal dan bagaiman akan berakhir, segalanya adalah misteri. Wajahnya ceminan wajah kita, bahwa perlakuan yang buruk terhadap dia adalah ketidakpenghargaan terhadap kemanusiaan dan juga terhadap keberadaan diri kita sendiri.

Penghargaan terhadap kemanusiaan bersumber dari rasa tanggung jawab terhadap manusia. Sekedar mengungkapkan konsepsi Levinas, melalui wajah orang lain kita diperintahkan untuk memelihara orang lain dan boleh membunuhnya. Dan jika etika demikian yang tertanam dalam hati sanubari setiap manusia Indonesia, siapapun dia, mulai dari para pejabat hingga rakyat jelat, dari orang yang kaya raya hingga mereka yang miskin, maka Indonesia akan menjadi negara yang damai dan sejahtera. Pejabat oleh tanggung jawab moralnya terhadap sesama tidak akan melakukan korupsi atau penyelewengan jabatan, seorang pengusaha tidak akan mengeksplotasi pekerja atau menghimpun kekayaan bagi diri sendiri, yang miskinpun tidak melakukan tindakan anarkis oleh karena kemiskinannya. Akhirnya semua orang saling melayani sesamanya, saling berkorban, bagi setiap orang tidak lagi terbatas atas ikatan promordial melainkan kemanusiaan secara universal. Jika kondisi ini tercapai maka segala krisis tengah dialami di Indonesia akan segera sirna, pemiskinan manusia, kejahatan dan berbagai bentuk eksplotasi terhadap manusia juga akan sirna perlahan tapi pasti. Dan semua ini bukanlah sebuah angan-angan melaikan hal yang mungkin tercapai jika setiap manusia Indonesia membuka diri bagi sesamanya dan memandangnya sebagai sebuah misteri serta menghadirkan sebuah tanggung jawab etis yang harus dipikulnya.

Thursday, 31 January 2008

RELASI EKONOMI, ALAMIAH ATAU ETIS


Kapitalisme gagal menciptakan kesejateraan dan keadilan? Indonesia yang menerapkan ekonomi kapitalisme harus menghadapi kenyataan bahwa jumlah orang miskin bertambah di republik ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2007 sebanyak 37,17 juta jiwa. Di sisi lain rentang pendapatan tertinggi dan terendah juga sangat lebar, dimana sekitar 80 % aset nasional berada di tangan 10 % penduduk terkaya. Banyak anggota masyarakat yang mengalami kekurangan gizi, setidaknya angka 8 % dari total jumlah anak balita mengalami gizi buruk.

Namun bagaimana ketidakadilan ini muncul? Bukankah relasi ekonomi kapitalisme diyakini memiliki tangan-tangan tidak terlihat yang akan menciptakan keseimbangan pasar. Menurut perspektif ekonomi klasik, yang diyakini sejumlah ekonom kontemporer, dalam kondisi netralitas etika, efisiensi dan pertumbuhan produksi akan memberikan keuntungan bagi perusahaan dan kemudian memberikan dampak peningkatan kesejahteraan masyarakat (tringkle down effect).

Pembenaran Egoisme?
Mekanisme pasar konon bergerak berdasarkan hukum-hukum alamiah seperti halnya hukum mekanika pada fenomena alam. Hukum ini menciptakan keseimbangan pasar dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun kenyataan menunjukkan hal berbeda. Relasi ekonomi yang dianggap menciptakan kondisi equilibrium akhirnya menghasilkan berbagai bentuk ketidakadilan. Misalnya saja pada pasar tenaga kerja, tidak setiap pekerja dapat memasuki bidang pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya. Tidak semua pekerja dapat diserap oleh dunia kerja sehingga menciptakan pengangguran.

Fenomena busung lapar yang terjadi di Indonesia terjadi bukan karena bahan pangan bergizi tidak tersedia melainkan karena banyak orang yang tidak mampu membeli. Mereka yang miskin tidak memiliki hak untuk memperoleh dan mengkonsumsi makanan yang melimpah di pasar karena tidak memiliki uang untuk membeli. Mekanisme pasar mengsyaratkan pertukaran menguntungkan agar sebuah barang dapat dimiliki seseorang, tidak penting apakah barang tersebut sangat dibutuhkan oleh seseorang dan menyangkut kelangsungan hidupnya. Karena seorang pedagang adalah manusia manusia rasional yang tengah berusaha mendapatkan keuntungan dari aktivitas pertukaran tersebut.

Dan sumber ketidakadilan tersebut terjadi ketika mekanisme pasar dibangun di atas hubungan manusia yang egoistik. Menurut Smith sudah menjadi kondrat manusia untuk senantiasa mengejar kepentingannya sendiri. Manusia selalu ingin memperoleh kesenangan dan kecenderung sudah ada sejak lahir dan tidak lenyap hingga ia mati (Canterbary, 196). Demikian halnya dengan relasi ekonomi, bahwa manusia sebagai mahluk ekonomis senantiasa ingin memaksimalkan kepuasaannya dengan mengorbanan yang minimal. Segala yang ia lakukan di dalam berinteraksi pasar, menjual barang dan jasa demikian halnya ketika membeli sebuah produk, adalah semata-mata untuk mendapatkan kepuasan atau keuntungan yang sebesar-besarnya.

Saat setiap orang memikirkan dirinya sendiri akan senantiasa memunculkan ketidakadilan karena sumber daya yang tersedia terbatas dan terdistribusi tidak merata sehingga tidak semua orang mendapatkan keuntungan melalui hubungan pasar. Mereka yang memiliki modal, menguasai faktor-faktor produksi, akan mampu menjaring manfaat lebih besar dari hubungan pasar sedangkan mereka yang tidak memiliki modal, keahlian atau aset, hanya bisa menawarkan tenaga kerja bagi si pemilik modal dan mendapatkan manfaat yang tidak sepadan dengan si pemilik modal yang memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja. Dalam hubungan pasar tujuan masing-masing pelaku adalah memaksimalkan kepuasan sehingga komoditas menjadi terutama dan sisi manusianya raib.

Konon melalui mekanisme pasar si miskin diyakini akan memperoleh manfaat melalui trickle-down efect (efek manfaat yang menetes). Bahwa kekayaan diperoleh seseorang akan bermanfaat bagi orang lain atau mereka yang miskin, karena peningkatan kekayaan seseorang akan meningkatkan daya belinya yang dapat mendorong tumbuhnya aktivitas di pihak lain. Artinya meskipun seseorang makin kaya namun ia juga akan memberikan manfaat kepada orang lain karena daya beli mereka merangsang mereka yang belum mendapatkan keuntungan ekonomi untuk melakukan aktivitas produktif yang bernilai dan mendorong tersebarnya kekayaan seseorang kepada mereka.

Hanya saja tidak semua orang memiliki akses terhadap pasar, bahwa seseorang harus memiliki modal dan skill untuk bisa memperoleh keuntungan pasar. Kenyataannya banyak orang yang tidak memiliki modal, skill atau kemampuan yang memadai untuk menciptakan produk atau jasa yang bernilai untuk dijual. Hal ini disebabkan rendahnya tingkat pendidikan atau keahlian, karena bagi kebanyakan orang pendidikan menjadi barang mahal, atau skill yang dimiliki tidak bernilai di pasar, seperti para penari kesenian tradisional yang tidak mampu menjual keahliannya secara komersial karena dianggap budaya terbelakang. Atau masyarakat tradisional yang tidak memiliki orientasi hidup yang berkompetisi dan tidak memahami bagaimana mekanisme kapitalisme bekerja, mengalami shok ketika harus menjadi bagian dalam struktur masyarakat kapitalisme. Demikian juga dengan mereka yang cacat yang tidak mampu berkerja dengan baik. Mereka dapat dipastikan tersisih dalam sistem kapitalisme.

Relasi ekonomi kapitalisme tidak saja dianggap gagal menciptakan pemerataan kesejahteraan namun juga turut menciptakan proses dehumanisasi dalan relasi di antara manusia. Pekerja dalam sistem kapitalisme mengalami alineasi, dimana ia mengalami dirinya sebagai sosok terasing karena tidak lagi sebagai pencipta aktivitas-aktivitasnya sendiri-tetapi semua tindakannya dan dampaknya menjadi majikannya, yang ia taati dan ia sembah. Apa yang ia kerjakan adalah bukanlah sebuah ekspresi diri melainkan sebagai aktivitas yang terotomatisasi demi untuk mengabdi kepada si pemilik modal.

Relasi Ekonomi, Kehendak Bebas dan Etika
Namun benarkah citra manusia sesuram yang digambarkan teori ekonomi kontemporer, yakni sebagai mahluk yang egois. Apakah manusia senantiasa menjadikan kepentingan dirinya sebagai tujuan hidupnya. Manusia menjadi mahluk yang terbelenggu kebutuhan instingtual untuk memperoleh kesenangan.

Kenyataannya manusia tidak selalu demikian. Manusia memiliki kemampuan berkorban dengan menunda kesenangannya bagi kesenangan orang lain . Manusia memiliki kemampuan melepaskan diri dari apa yang disebut hukum kepuasan. Tindakan binatang secara instingtual bertujuan untuk memelihara kehidupannya, namun manusia berbeda ia tidak secara institual digerakkan oleh kebutuhan biologis. Ia juga memiliki kebutuhan ideologi, menciptakan makna bagi kehidupannya, berusaha mencari apa yang ia sebagai kebenaran atau nilai-nilai kebajikan dan rela mengorbankan kehidupannya demi mempertahankan kebenarannya. Bahwa seseorang yang fanatis terhadap keyakinan agamanya mungkin lebih memilih dihukum mati dari pada dipaksa memungkiri keyakinannya. Kondisi demikian tidak terjadi pada binatang. Dan manusia memiliki kemampuan melakukan tindakan altruistik, mengorbankan dirinya bahkan kehidupannya untuk melindungi dan menyelamatkan kehidupan orang lain.

Manusia memiliki kehendak bebas, meskipun di satu sisi ia memiliki dorongan instingtual untuk memenuhi kebutuhan. Ia menyadari dirinya sanggup untuk mengambil sikap terhadap dorongan-dorongan biologis. Misalnya lapar, ada makanan tersedia, tetapi ia tetap bisa menolak untuk memenuhinya. Manusia tidak saja ingin memelihara kehidupannya namun juga berusaha memakni kehidupannya serta menetapkan orientasi kehidupannya. Sehingga manusia tidak saja mengambil keputusan dan tindakan dalam sebuah orientasi pragmatisme melainkan juga atas pertimbanga etis. Apakah tindakan ini baik atau buruk untuk dilakukan. Manusia dapat menjadikan keberadaan manusia lain sebagai pertimbangannya dalam mengambil keputusan. Apakah tindakan yang diambil merugikan orang lain atau tidak. Ia dapat menunda keputusan yang merugikan orang lain meskipun hal tersebut menguntungkan bagi dirinya.

Demikian halnya dalam kaitannya dengan relasi ekonomi. Bahwa keputusan untuk mengejar kesenangan bukanlah satu-satunya keputusan yang dapat diambil melainkah sebuah pilihan diantara berbagai pilihannya lain yang dapat dilakukan manusia secara bebas. Manusia dapat memutuskan mengejar kesenangan namun tidak merugikan bagi orang lain. Seorang pengusaha dapat saja memutuskan memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dengan cara menekan biaya tenaga kerja. Toh, dengan kondisi tingkat pegangguran yang tinggi membuat bergain pemilik perusahaan lebih besar dan seorang pekerja secara rasional memilih tetap bekerja dengan upah rendah, karena akan lebih buruk nasibnya jika tidak bekerja, banyak orang yang siap menempati posisinya jika ia dipecat. Namun secara etis si pemilik modal bisa saja tidak melakukan hal tersebut melainkan membayar pekerja secara layak, dengan pertimbangan upah yang diberikan harus dapat memenuhi kebutuhan pokoknya.

Oleh sebab itu dengan mengantungkan kepada keyakinan bahwa pasar akan membawa kebaikan bagi kehidupan manusia pada akhirnya akan menciptakan kekecewaan, jika didasarkan pada egoisme individu. Keburukan pasar dapat direduksi dengan menjadikan hubungan ekonomi tidak luput dari pertimbangan etis, tidak mengejar kepuasan maksimal melainkan kepuasan yang wajar, pada tingkat dimana orang lain tidak dirugikan. Keputusan ekonomi harus menjadi keputusan yang terarah ke luar, bahwa keberadaan manusia juga harus menjadi pertimbangan. Saat akan melakukan transaksi seseorang harus memiliki sebuah pertimbangan apakah uang itu cukup digunakan membeli oleh si pedagang untuk membeli kebutuhannya kelak. Atau ketika menawarkan sebuah produk, si pedagang dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut akan memberikan manfaat bagi mereka yang ingin membeli.

Adakalanya terdapat dikotomi antara etika dan ”hukum alamiah” dalam menilai sebuah relasi ekonomi. Orang yang mendapatkan kekayaan dengan menggunakan aset-asetnya dapat dibenarkan menurut perspektif ekonomi namun menjadi tidak etis ketika ia merperkaya di sisi lain ada orang lain menderita. Mendapatkan kepuasan maksimal melalui hubungan ekonomi adalah tindakan yang rasional, namun menjadi tindakan etis jika sengaja seseorang mengorbankan kapasitas usahanya agar memberikan kesempatan untuk menikmati manfaat ekonomi.

Oleh sebab itu ketidakadilan dan kemiskinan yang masih terjadi saat ini mengambarkan bahwa mekanisme pasar tidak memberikan kesejahteraan jika manusia melaksanakan pure sebagai keputusan yang terpusat pada dirinya. Mekanisme pasar adalah sistem yang terbentuk namun manusia memiliki kebebasan dalam memutuskan apa yang ia beli, seberapa banyak, apakah menguntungkan atau tidak dengan menfaatkan komponen pasar seperti uang, harga, mekanisme distribusi dsb. Tidak ada tangan-tangan yang tidak telihat yang menciptakan kesimbangan, namun apa yang kita sebut sebagai sebuah sistem adalah akumulasi keputusan dan karakteristik individu secara keseluruhan, dan keseimbangan terjadi ketika manusia mau bertindak secara bertanggung jawab.

Ketidakadilan mengambarkan bahwa banyak orang Indonesia yang berlum bertindak etis. Tanggung jawab etis tidak saja pada penderitaan orang lain yang berhubungan langsung dengan dirinya melainkan juga pada orang lain yang tidak berhubungan secara langsung. Karena kita juga bisa secara tidak langsung penyebab penderitannya. Kebutuhan kita akan barang-barang yang terbuat dari kayu turut memelihara tumbuhnya industri perkayuan yang melakukan penjarahan hutan dan mengakibatkan rusaknya ekosistem hutan yang merugikan masyarakat sekitar. Dostoevsky menyebutkan bahwa kita harus bertanggung jawab terhadap penderitaan manusia.

Namun mungkinkah segenap masyarakat Indonesia memiliki kesadaran demikian?.