Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Sunday, 27 July 2008

PRINSIP YANG DIANUT PARA PENGENDARA KENDARAAN BERMOTOR DI INDONESIA


Saya sering pusing ketika harus membawa mobil di Jakarta. Bagaimana tidak, ulah para pengguna jalan seringkali mengakibatkan mengendara mobil menjadi pekerjaan yang paling mendebarkan. Mata saya harus awas karena bisa saja motor menyalib tiba-tiba dari sebelah kiri, atau metro mini yang memotong dan kemudian memaksa untuk diberi ruang untuk masuk. Intinya membawa mobil di Jakarta bikin pusing dan stress.

Namun kesembrautan jalan raya tidak hanya terjadi di Jakarta namun juga di kota-kota lain di Indonesia. Ketidaktertiban para pengguna jalan mengakibatkan angka kecelakaan di Indonesia relatif tinggi. Konon setiap 30 menit satu orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas di Indonesia dan setiap satu jam ada yang terluka parah karena kecelakaan (BBC Indonesia, 2008).

Dan perilaku yang terpuji para pengguna jalan turut dipengaruhi prinsip-prinsip yang dianut oleh para pengguna kendaraan. Berdasar apa yang saya amati terhadap para pengguna kendaraan bermotor di Jakarta maupun di kota lain di Indonesia, ada beberapa prinsip utama yang dianut oleh para penguna kendaraan di Indonesia, yakni:

Jangan ada ruang kosong, bos!. Prinsip pertama yang sering dianut pada pengendara kendaraan di Indonesia jangan ada ruang kosong. Rasanya kurang indah jika di jalan raya ada celah di antara mobil yang tidak dimanfaatkan. Kalau ada, ya, sebet aja bleh.

Kalau macet setiap bagian yang tidak terisi kendaraan motor harus diserobot biar full. Termasuk juga trotoar, jalur kanan, taman kota, areal pom bensin atau areal kosong non-jalan yang bisa dilalui biar dapat terus bergerak.

Jadi tidak usah heran jika metromini sering nyelonong memaksa masuk jalur orang lain sambil mengedip-ngedipkan lampu panjangnya, memaksa kendaraan di jalur yang benar untuk minggir. Atau motor yang berseliwiran masuk ke jalan pejalan kaki yang membuat pejalan kaki ekstra hati-hati. Mungkin menurut aturan lalu lintas itu salah tapi bagi para pengguna jalan ini adalah “hukun alam”.

Jalan hanya milik saya dan..................saya. Di Indonesia, barang atau fasilitas publik sering diartikan bahwa barang ini adalah milik gw dan saya boleh pakai, dong. Namun tentunya bukan berarti boleh dipakai seenaknya, seperti para pengguna telepon umum yang sering kali menggunakan seenak hati. Sampai teleponnya rusak dan akhirnya“kacian deh lo!”, kata seorang teman yang gemas dengan orang-orang yang suka membanting gangga telepon. Karena tidak ada lagi yang berhak menggunakan telepon umum lagi karena teleponnya sudah rusak.

Begitu juga pada pengguna jalan. Sang pengguna jalan sering merasa bahwa hanya dialah sedang menggunakan jalan. Jadi karena jalan ini miliknya maka ia berhak, dong, melakukan apa saja di jalan, termasuk ugal-ugalan di jalan, tidak pake helm dan termasuk naik kendaraan tanpa lampu di malam hari. “Kalau orang merasa tengganggu oleh karena perilakuku, yah, itu bukan urusanku”, kata seorang teman yang selalu membawa motornya tanpa dilengkapi lampu, spion dan asap knalpotnya ngepul kayak asap penjual sate madura.

Saya pembalap bukan orang depresi. Banyak pengguna kendaraan yang bangga kalau dibilang bawa mobil kayak pembalap. “ Wah, saya biasa tuh bawa mobil dari Bogor ke Jakarta cuma 15 menit” kata seorang teman. “Saya tidak nyaman kalau bawa mobil di tol kecepatannya hanya 100 km/jam maunya sih 150-an gitu”, kata seorang supir taksi.

Anehnya meskipun banyak orang Indonesia bangga disebut pembalap tapi tidak banyak orang Indonesia yang menjadi pembalap beneran seperti Ananda Mikola.

Atau jangan-jangan orang Indonesia sebenarnya bukan terobsesi jadi pembalap karena untuk apa uji nyali dengan melewati kendaraan orang lain yang tidak berniat berlomba. Kenapa tidak disirkuit, berlomba dengan orang lain yang juga nafsu berkejar-kejaran dengan kendaraan bermotor.

Barangkali banyak orang Indonesia yang sesungguhnya sudah terkena depresi berat. Alias punya keinginan cepat-cepat mengakhiri hidup, karena syukur-syukur kalau tabrakan, niat untuk koit tercapai, sudah itu dapat santunan pula dari jasaraharja.

Time is money.
Kalau kita melihat orang membawa mobil di jalan tol pastilah kita beranggapan bawah orang Indonesia sangat menghargai waktu dan tentunya orang yang sangat produktif. Mobil dilajukan sangat kencang dan terlihat seperti orang yang tidak sabaran.

Tapi ups, itu belum tentu benar. Kalau orang Indonesia menghargai waktu dan pekejar keras, sudah dari dulu negara ini lepas dari krisis karena masyarakatnya gila kerja.

Namun banyak orang membawa mobil tergesa-gesa bukanlah karena ingin mengejar sesuatu yang produktif. Melainkan ingin segera menyediakan waktu untuk tidur atau membuang-buang waktu untuk hal yang tak perlu. Buktinya saya banyak mengenal orang yang membawa mobil kayak orang kesetanan tapi urusan kerja tidak secepat atau seefektif ia membawa mobil.

Karena seorang yang berpikir ekononis produktif sesungguhnya menyadari bahwa tidak hanya waktu yang layak disebut sebagai capital namun juga, dan yang paling berharga, adalah nyawa.

Saya pintar kamu bodoh. Kebiasaan aneh orang Indonesia adalah suka ngumpati orang yang melakukan kesalahan ketika membawa kendaraan. “ Bodoh kami!”. “Tolol kamu”.

Apakah ini berarti kebanyakan orang Indonesia mahir membawa mobil?

Tidak juga, buktinya masih banyak kecelakaan yang terjadi di Indonesia. Dan lebih anehnya sering kali seorang pengendara kesal kalau ada pengedara yang lain berhenti di sembaran tempat, belok tidak menggunakan lampu sign. Tapi kalau jujur sama jujur apakah benar orang itu juga tidak pernah melakukan hal yang sama.

Seperti halnya seorang supir angkotan jurusan Cibinong-Kampung Rambutan yang selalu membunyi klekson tanpa henti dan buat telinga pekak setiap ada angkot lainnya berhenti sembarangan tempat. Ia kadang sambil teriak marah-marah kepada pengemudi angkot di depannya yang berhenti sembarangan. Namun anehnya, begitu angkot di depannya tersebut pergi, eh, malah ia yang kemudian berhenti sembarangan di tempat yang sama.

Tapi itu tadi, karena setiap pengguna kendaraan merasa paling pintar maka iapun berhak mengumpati orang lain dan juga berhak juga melanggar aturan.

Di atas merupakan prinsip para pengguna jalan yang sering kali tidak irasional. Dan dampaknya jelas, yakni mengakibatkan kesemrautan lalu lintas , kemacetan dan kecelakaan.

Selagi orang Indonesia tidak belajar menganggap membawa kendaraan bertujuan memudahkan dirinya untuk mencapai suatu tempat dengan nyaman dan selamat. Dan bukan ajang melakukan gambling dengan nyawa atau pamer kehebatan di tempat yang tidak tepat. Maka jalan raya di Indonesia akan tetap sangar bagi setiap pengendara kendaraan bermotor dan layak dijadikan tempat untuk uji nyali.

Monday, 21 April 2008

HARI BUMI, SUARA ALAM DAN PERUBAHAN PARADIGMA

Hari bumi tepat jatuh pada tanggal 22 Maret 2008. Sebuah perayaan yang harus dilaksakan dengan kondisi prihatin karena ibu bumi tengah sekarat.

Apakah bukti bahwa bumi sedang sakit? Pertama bumi semakin hari semakin panas. Dengan menggunakan model dari IPCC, Indonesia diperkirakan mengalami kenaikan dari temperatur rata-rata dari 0.1 sampai 0.3ºC per dekade dan kenaikan suhu ini berdampak pada kenaikan permukaan air laut dan kenaikan intensitas dan frekuensi dari hujan, badai tropis, serta kekeringan (wwf Indonesia, 2007).

Kedua bencana seolah terjadi tanpa henti. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional Indonesia, dalam kurun waktu 2003-2005 bencana alam yang terkait dengan cuaca mencapai 1,429 kasus atau 53.3% dari total bencana alam yang terjadi di Indonesia yang tentunya terkait dengan fenomena pemanasan global.

Kado apakah yang layak kita berikan untuk meringankan penderitaan sang bumi? Tidak ada hal yang lebih tepat selain sebuah perubahan. Yakni perubahan paradigma kita dalam berinterasi dengan alam

Membangun Interaksi dengan Alam sebuah Paradigma Baru
Pertama menurut hemat saya, alam berhak bersuara dan dihargai eksistensinya oleh manusia. Menurut Hanss Peter Duerr (1985) dalam bukunya yang berjudul “Dreamtime: Concerning the Boundary between Wildness and Civilization”,mengatakan bahwa manusia tidak akan mengeksplotasi alam yang berbicara kepadanya.

Masyarakat primitif menggambarkan alam sebagai pribadi artikulatif. Binatang, tumbuhan bahkan benda-benda mati seperti batu ataupun sungai dipahami sebagai wujud yang memiliki pikiran dan mampu berbicara dengan manusia. Hal ini mengakibatkan manusia primitif lebih menghormati alam dibandingkan manusia zaman ini dan menjalani kehidupan yang selaras dengan alam. Di sisi lain alam bagi masyarakat primitif memiliki kepribadian yang dapat memberikan reaksi terhadap tindakan manusia. Alam dapat murka sebagai reaksi terhadap tindakan manusia yang tidak tepat.

Marilah kita awali perubahan paradigma dengan merubah kaca mata kita dalam berinteraksi dengan alam. Dari kaca mata scientisme yang mereduksi alam semata-mata materi menjadi kacamata seorang seniman yang mampu melihat sisi keagungannya. Kita harus memiliki paradigma yang memungkinkan suara alam teraktulisasi dalam diri kita.

Sesungguhnya alam tidak dapat semata-mata dipadang sebagai materi yang mati. Alam memiliki spirit yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia.Wujud keberadaan alam turut membentuk kehidupan manusia. Alam yang indah dan lestari akan mendatangkan kedamaian batin sedangkan alam yang rusak akan menciptakan suasana batin yang tidak damai. Dan alam bergerak menurut aturan-aturan yang sepenuhnya kita pahami.

Oleh sebab itu alam selayaknya dipandang sebagai sebuah organisme yang hidup dan memiliki hak untuk mempertahankan eksistensinya. Ia memiliki hukum-hukum yang harus dihormati oleh manusia. Tanpa penghormatan tersebut, maka akan timbul reaksi dari sang alam terhadap hal-hal yang menganggu keseimbangannya yang kemudian kita alami sebagai bencana yang mengancam. Manusia harus dengan santun mendengarkankan tuntutan alam, prakondisi apa yang dibutuhkannya agar ia tetap lestari. Tujuannya agar interaksi manusia dengan alam berkembang ke pada tatanan yang harmonis.

Aksi Konkrit
Oleh sebab itu suara alam harus dilibatkan dalam setiap keputusan yang diambil manusia. Baik di tingkat pribadi atau kolektif. Apa yang disebut keputusan terbaik adalah tidak saja memberikan keuntungan optimal bagi manusia melainkan juga ketika keputusan yang diambil memiliki dampak negatif minimum terhadap kelestarian alam.

Tidak ada keputusan manusia yang bebas dari dampak buruk bagi alam. Bahkan aktivitas untuk bertahan hidup, bernafas, makanan, minum, dsb akan selalu memiliki dampak negatif bagi alam, karena tetap akan mengasilkan dan menyisakan zat-zat buangan yang menjadi beban alam. Manusia hanya dapat meminimumkan dampat negatif dari aktivitasnya terhadap alam dan bukan menghilangkannya.

Maka setiap keputusan mulai, dari kebijakan di tingkat pemerintah hingga personal, misalnya untuk melakukan pembangunan gedung fisik, lapangan golf, belanja kebutuhan sehari-hari, memutuskan untuk berperang dengan negara lain, melakukan perdagangan dengan bangsa lain, membeli alat elektronik, memutuskan untuk menikah dsb harus juga didasarkan pada pertimbangan pada dampak kerusakan alam.

Kita harus mempertimbangkan berapa zat polutan atau sampah atau dampak negatif lainnya yang akan kita hasilkan dari setiap keputusan yang diambil. Jika dapat dikalkulasikan berapakah sesungguhnya kerugian yang diperoleh. Tidak saja dampak jangka pendek namun juga dampak jangka panjang perlu dipertimbangkan. Apakah keputusan yang diambil akan menganggu kelangsungan hidup organisme yang lain dan kelestarian alam? Jika dampak negatif tidak bisa dihindari maka harus juga dibangun mekanisme insentif bagi alam.

Logika ekonomi yang menyebutkan bahwa pertimbangan rasional adalah saat berusaha melakukan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan maksimal, diubah dengan melakukan pengorbanan yang wajar agar kebutuhan optimal dapat terpenuhi dan kelestarian alam terjaga.

Karena apa yang disebut pengorbanan seringkali adalah biaya yang harus dikelurkan untuk jasa atau pengorbanan yang telah dilakukan untuk mendapatkan barang atau sesuatu yang dibutuhkan. Namun pernahkah kita mengintroduksi jasa alam bagi kelestarian hidup manusia. Setiap barang yang diperoleh oleh manusia, tidak mungkin sepenuhnya diciptakan oleh manusia dari ketiadaan melainkan merangkaikan dari hal-hal yang telah disediakan oleh alam.

Dan bagaimana mewujudkan pola pengembilan keputusan demikian? Yakni melalui peraturan pemerintah, yang akan mendorong setiap orang untuk berpikir dengan mempertimbangkan alam sebagai faktor kelayakan keputusan publik. Menindak setiap pihak yang dalam pengambilan keputusannya yang tidak mempertimbangkan aspek alam. Kedua adalah melalui pendidikan, yang melembagakan logika ekologosentris, agar dikemudian hari dapat menjadi sebuah habitus dan frame dalam pengambilan keputusan.

Hanya saat keberadaan alam telah tersuarakan dan setiap orang belajar mendengar alam berbicara maka pada saat itu juga manusia akan belajar menghargai alam. Bahwa alam memiliki ”self”-nya sendiri yang juga memiliki hak untuk merealisasikan diri dalam proses evolusi seperti halnya spesies manusia.

Wednesday, 16 April 2008

BINCANG-BINCANG, ISTRI SIMPANAN BULE DAN KISAH SERAM


Si supir taksi bertubuh tambun dan kalau dilihat dari samping terlihat agak sangar dan membuatku sempat beranggapan buruk dengan si supir taksi. Kami naik taksi dari Tebet (dari rumah kakak Desi) ke Cilandak, mengantar Bb (sekarang istriku), setelah itu lanjut ke Kelapa Dua. Entah kenapa, aku sempat berpikir untuk turun di Cilandak dengan Bb kemudian naik taksi lain melanjutkan perjalanan sampai ke kelapa dua. Tapi setelah sampai di Cilandak aku mengurungkan niatku. Setelah Bb turun, aku melanjutkan perjalanan.

Suasana sempat hening hingga kami sampai disimpang Ragunan dimana si supir gendut kemudian menanyakan, apakah akan lewat Ciganjur atau Jagakarsa. Dan aku menyarankan lewat Jagakarsa tapi karena kulihat raut wajahnya sedikit kurang yakin. Maka kemudian aku menanyakan apakah dia paham lewat jalan tersebut.

”Wah, pak, kurang yakin saya”, jawabnya demikian.

”Ya, sudah lewat jalan yang Bapak ngerti saja”, kataku kemudian.

” Kita lewat Ciganjur saja, ya, pak, karena saya biasa mengantarkan penumpang langganan saya lewat situ, terus lewat PPD, nanti tembusnya ke daerah Pancasila”, katanya.

” Oh, sering ke situ, ya?

”Ya, saya sering ngantar orang bule, di situ banyak istri simpanan bule-bule”
jawabnya.

” Banyak orang bule yang punya istri simpanan di situ?”, tanyaku.

“ Banyak, mas! setiap mau kemari mereka selalu minta saya untuk mengantar”.

Kisah tentang istri simpanan menjadi kisah yang menggugah rasa ingin tahuku dan menghidupkan pembicaraan di antara kami. Karena aku tertarik mendengar lebih lagi tentang istri simpanan bule-bule itu.

Iapun menceritakan lagi tentang istri simpanan bule. Dan orang-orang asing yang biasa ia antar adalah orang Belanda, orang Belgia, Australia dan Filipina, semuanya bekerja di kedutaan.

Namun saat aku menanyakan apakah istri simpanan si bule-bule cakep-cakep. Tiba-tiba saja tubuh tambunnya bergetar dan kemudian terdengar suara cekikikan.

“Waduh, mas, kalau saya ditawarain, mau aja asal mata saya dimeremi”

“Lho, kenapa?”
, tanyaku

Wah, orang wajahnya satu tingkat di bawah pembokatku”.

“ Tapi ko, si bule mau?”, tanyaku kemudian.

“ Ya, begitu mas, karena si bule lebih suka cari cewek yang kulitnya agak sawo matang, kalau yang putih, mah, di negaranya banyak. Cari yang jelek biar nggak macam-macam kali, kalau cantikkan, jangan-jangan sering dipake orang. Tapi memang mereka itu nggak cari cantik tapi pelayanannya, biar jelek tapi di suruh “maen” gaya apapun mau”.

Mendengar cerita si supir taksi itu aku menjadi tersenyum geli. Sambil berguman dalam hati, “ Namanya cowok, untuk urusan yang satu itu agak sulit dikontrol, kalau tidak terpuaskan bikin kepala puyeng”.

Dan pembicaraan kami terus mengalir. Sampai kemudian aku bertanya tentang pengalaman ekstrim yang pernah dialaminya selama membawa taksi.

“ Waduh, banyak mas, apalagi kita kan sering dapat bagian malam. Kadang dapat penumpang yang mabuk, atau perek dengan pasangan kencannya. Kalau yang mabuk, asal tidak menyusahkan tetap saya antar ke tujuan, tapi kalau rada-rada resek, saya turunin aja, daripada saya yang susah. Dan untuk yang lagi kencan, pernah ada kejadian, si laki-laki gelagatnya mulai makin aneh, dan mesra-mesraannya dengan si perek semakin hot dan arah-arahnya udah mulai lepas kontrol. Desahan mereka udah seperti mau bersetubuh. Karena merasa nggak nyaman, taksi saya stop, mereka saya turunkan. Mereka sempat protes. Saya bilang aja, kalau mau gituan di hotel aja”, demikian ia ceritakan.

Kemudian aku menanyakan pengalamannya yang lain. Iapun menceritakan pengalamannya membawa penumpang stress dan sedikit kurang waras.

” Ada juga mas, seorang pria, naik dari kalibata dan minta di antar ke rumahnya di daerah Jakarta Pusat, tapi sebelumnya, ia minta dibawa dulu ke Bogor, balik ke Jakarta dan mutar-mutar di Jakarta. Pertama saya ragu, benar gak permintaan si penumpang ini, jangan-jangan nanti nggak dibayar, atau malah mau bertindak jahat. Begitu saya meyakinkan lagi soal permintaan mutar-mutar itu. Malah dia marah, dia bilang, apa Bapak tidak percaya, saya anak dokter RS Cipto dan uang saya banyak, sambil dia menunjukkan tumpukan uang 100 ribuan di dompetnya. Karena saya jadi sedikit yakin maka sayapun menuruti permintaan si penumpang aneh. Dan kami menghabiskan waktu sore sampai malam keliling Bogor dan Jakarta, sampai argo mati karena sudah melewati limit Rp 600.000,-. Akhirnya saya mengantarkan ke rumahnya dimana orang tuanya sudah menunggu dan kemudian malah minta maaf pada saya. Maaf ya, pak, kata ayahnya, anak saya agak stress, jadi agak menyusahkan Bapak. Enggak ko, jawabku mesem-mesem. Dan hari itu aku mendapatkan Rp 900.000, wah itu sama saja dengan setoran untuk seminggu. Untung saja dia bukan orang jahat, tapi orang stress, dan orang stress yang baik”.

Namun pengalaman yang paling ekstrim, menurutnya adalah pas tanpa sadar membawa mayat dari rumah sakit di kebun jeruk tengah malam. Demikian ia ceritakan

Waktu itu saya akan menaikkan penumpang dari rumah sakit malam dini hari sekitar jam 12-an menjelang jam satuan, mereka bertiga, satu cewek dua cowok tapi salah satu dari mereka di tuntun, seperti orang tidur. Saya tidak punya pikiran apapun pas waktu itu. Si cewek duduk di depan dan dua orang cowok duduk di belakang. Selama perjalanan saya sering memperhatikan penumpang yang tertidur itu dari spion, dia dipakaikan topi dan kaca mata hitam. Kok, tidak bergerak sama sekali, kalau ada lonjakan tubuhnya bergoncang tapi tidak ada respon, atau terbangunlah setidaknya. Dan selalu setiap tubuhnya tergeser kawannya yang satu lagi mengatur kembali posisi badannya. Tapi saya semakin curiga ketika si cewek yang duduk disebelah saya, selalu meneteskan air mata, dan sesekali menangis agak hebat yang membuat konsentrasi saya agak terganggu. Dan sebuah lonjakan yang agak keras membuat tubuh cowok aneh itu terjatuh dan plok, jatuh begitu saja sampai badannya terselonjor ke depan, dan temannya dengan segera dan terlihat agak panik segera menarik badannnya kembali. Dan tangis si cewek semakin keras melihat sosok tubuh si cowok aneh tiba-tiba muncul disebelahnya. Saya merasa ada yang aneh, dan saya menghentikan taksi dan minta konfirmasi. Saya bilang, sebenarnya ini ada apa? Maaf, pak, jawab mereka, sebenarnya saudara kami ini sudah meninggal. Wah, bapak cari masalah sama saya, gimana nanti kalau ada polisi, saya bisa ditangkap karena membawa mayat, jawab saya. Bagaimana, ya, pak, kalau kami pakai ambulan kami harus bayar 2 juta sedangkan kami hanya ada duit 800 ribu kata si cewek di depan, kata mereka. Tolonglah kami pak, kami hanya pedagang kecil, masa Bapak tega meninggalkan kami di jalan. Akhirnya karena nggak tegaan akhirnya saya antar mereka, pas mereka bayar, saya kasih sedikit uang sebagai bantuan buat mereka. Tapi sejak saat itu saya tidak lagi mau narik tengah malam, agak trauma”.

Luar biasa pengalaman si supir taksi, melalui pekerjaannya menbawa taksi setiap hari, ia bisa mendapat pengalaman yang jarang di alami orang-orang kebanyakan. Membawa orang bule dengan istri simpanannya, mengantar orang stress keliling-keliling Bogor-Jakarta sampai membawa orang mati. Ia juga pernah sempat tanpa sadar membawa penumpang seorang gembong pengedar ekstasi. Setelah mengantar si penumpang dan sesaat sehabis meninggalkan gang rumahnya, tidak lama kemudian terdengar suara tembakan. Awalnya tidak menyadari kejadian apa itu, tapi setelah melihat berita televisi, baru ia sadari bahwa penumpangnya itu adalah seorang gembong narkoba dan mengalami penyergapan oleh polisi malam itu dan sempat terjadi melakukan perlawanan, sehingga terjadi baku tembak tapi akhirnya ia bisa dilumpuhkan. Dan ia bisa melihat wajahnya si penjahat diperlihatkan pada acara tersebut dan tentu ia mengenalinya.

Setelah lama asik ngobrol dengan si supir taksi, akhirnya akupun sampai di depan rumah. Aku membayar argo dengan melebihkan sedikit, tips buat ceritanya yang menarik. Namun pengalaman berbincang-bincang dengan si supir taksi membuatku belajar banyak hal, yakni:

Pertama, kadang penilaianku terhadap seseorang pada awal tatap muka sering keliru. Aku sering menganggapan seseorang itu tidak baik atau kurang simpatik hanya karena wajahnya yang sangar atau kulitnya yang hitam. Dari pengalamanku bertemu dengan si supir taksi, wajah sangarnya ternyata tidak menunjukkan bahwa ia seorang yang tidak baik. Saat mulai berbicara dengannya aku menyadari bahwa ia adalah seseorang yang hangat, dan tidak punya niatan buruk. Artinya persepsi terhadap seseorang akan lebih akurat setelah mengalami sebuah interaksi interpersonal. Dan penilaian di awal pertemuan seringkali dipenuhi prasangka.

Kedua, pemahaman terhadap realitas akan semakin baik jika kita mengenal begitu banyak pengalaman baru. Pengetahuan tidak hanya didapat dari buku melainkan juga dari pengalaman. Apa yang kita peroleh dari buku adalah artikulasi atau hasil analisa seseorang terhadap pengalamannya yang terjadi di masa lalu namun apa yang kita peroleh dari peristiwa hari ini adalah sebuah pengalaman baru sekaligus dapat menjadi sumber pengetahuan baru. Seperti halnya si supir taksi melalui pengalamannya ia dapat mengetahui kecenderungan orang-orang asing di Indonesia yang suka cari simpanan dan preferensinya serta persepsinya terhadap wanita Indonesia, tidak dengan membaca buku kajian sosiologis melainkan dari pengalaman langsung.

Ketiga, pengalaman baru akan bisa diperoleh jika kita meluaskan cakrawala kehidupan kita. Bahwa setiap hari kita memperoleh pengalaman hidup namun karena kita menjalani kehidupan yang bersifat rutinitas maka agak sulit bagi kita memperoleh pengalaman yang unik. Si supir taksi oleh karena pekerjaan harus bertemu banyak orang berbeda setiap hari di berbagai tempat membuat dia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan pengalaman baru yang menarik atau pengalaman ekstrim, yang ketika dijalani membuat jantung bedegub, atau kebingungan atau ketakutan namun setelah berlalu menjadi sebuah pengalaman menarik untuk dikenang dan diceritakan. Seperti halnya aku yang antusias mendengarkan ceritanya yang tidak pernah terekam dalam memoriku.

Keempat, meskipun tidak pernah memperoleh kesempatan mengalami langsung pengalaman ekstrim namun kita dapat mendengarkannya dari cerita orang lain. Syaratnya adalah mau berbincang-bincang dengan siapa saja, menghargai setiap kisah yang diceritakan orang lain tanpa justifikasi, atau pikiran kritis. Orang yang kurang berpendidikan kadang cukup beruntung bisa menyaksikan pengalaman ekstrim yang dapat memacu hormon adrenalinnya dan mendapatkan kesenangan luar biasa. Dan kita bisa dapat memperoleh banyak hal dari padanya. Oleh sebab itu tidak ada salahnya untuk berbincang-bincang dengan siapa saja dan temukan pengalaman menarik yang memperluas wawasan dan pemahaman kita terhadap realitas kehidupan.

Friday, 15 February 2008

WAKTU DAN KEKASIH TERCINTA


Saat ini tepat jam 5 sore dan aku sedang menunggu Bb pulang kerja. Biar waktu tidak terasa berlalu, karena ia baru pulang pukul jam 10 malam, jadi ku putuskan main internet di warnet yang tidak jauh dari tempat kerjanya.

Meskipun proses searching begitu lambat, tidak banyak situs yang bisa dibuka, entah kenapa, tidak sedikitpun rasa jemu jenuh, bosan, bt, dsb untuk menunggu Bb pulang. Bahkan tidak terasa, aku sudah  menunggunya selama 3 jam. Dan ini berbeda saat aku janjian dengan kawan di pol Lorena Lebak Bulus sewaktu akan bersama-sama berangkat ke luar kota. Meski baru menunggu 15 menit namun rasa bosan sudah diubun-ubun, dan perasaan jengkel serta dongkolpun merasukiku.

Aneh juga? Kok, menunggu kawan, meskipun cuma 15 menit, terasa begitu lama dan menjemukan sedangkan menunggu kekasih berjam-jam tidak terasa lama dan menjemukan. Meskipun secara objektif waktu lima belas menit hanya memerlukan tiga loncatan jarum jam panjang sedangkan waktu selama berjam-jam memerlukan putaran lingkaran penuh jarum jam panjang.


Konsep Waktu
Mungkin fenomena itu dapat dijelaskan demikian. Menurut Heiddegard dalam kehidupan keseharian, kesadaran manusia terhadap sesuatu di luar dirinya cenderung bersifat subjektif  yang melibatkan aspek emosional dan kebebasan di dalam memberikan makna terhadap pengalamannya. Namun melalui subjektifitas tersebut, menurut Heiddegard, manusia menjadi autentik. Ia dapat mengekspresikan sisi kemanusiaannya.

Jika kita melihat sebuah daun, jarang sekali kita memikirkannya dalam wujud substansi biologis, yang disusun atas ribuan sel-sel dan memiliki klorofil. Melainkan semata-mata sebuah benda berwarna hijau yang tampak menarik dan menyenangkan hati. Dan saat berhubungan dengan rasa suka atau tidak suka, maka pengalaman tersebut akan berbeda pada masing-masing orang. Meski secara objektif semua orang mengakui bahwa daun adalah bagian tanaman tempat proses fotosintesis berlangsung.

Demikian halnya dengan waktu, aku memikirkan waktu, mengamati jam atau merasakan sebuah durasi saat aku tengah menantikan sesuatu. Namun bagimana aku merasakan dan memaknainya akan sangat ditentukan oleh konteks, terkait dengan wujud sebuah penantian?

Jika yang dinantikan sesuatu yang istimewa, maka pergerakan waktu tidak terasa menjemukan. Setiap detik dimaknai sebagai saat-saat mendekati peristiwa yang menyenangkan. Namun jika yang dinantikan adalah hal yang sebaliknya, maka detik-detik menjadi sebuah pembuangan waktu sia-sia.

Seperti halnya Pak Bono, seorang manajer Perusahaan rokok, yang tengah menunggu Haris, bawahannya, yang akan menemuinya pada sebuah café. Jika Haris tidak muncul tepat waktu, maka Pak Bono akan merasa dongkol dan bersiap-siap memarahi bawahan sambil berkata, "Kamu membuang-buang waktu saja”.

Dalam membangun relasi bisnis penghargaan waktu sangat ditekankan. Komitmen terhadap waktu pertemuan menjadi indikasi keseriusan dalam berbisnis. Namun dalam hubungan kekeluargaan aturan demikian tidak berlaku, waktu dapat begitu saja diboroskan dan toleransi terhadap ketidaktepatan waktu sangat tinggi.

Menanti sesuatu yang Istimewa
Seperti halnya dalam menjalani kehidupan, kesadaran kita akan waktu juga ditentukan oleh bagaimana kita memaknainya. Saat seseorang merasa bahagia, waktu seolah berlalu begitu cepat. Meskipun waktu objektif berjalan dalam intensitas yang sama namun mereka yang menikmati hidup senantiasa berharap memiliki waktu tambahan bagi hidupnya. Tapi sebaliknya, orang yang selalu merasa sengsara, akan mengharapkan gerak waktu dapat dipercepat. Agar segala caruk-maruk persoalan dapat cepat berlalu. Jika tidak juga berlalu dan permasalahan semakin membuat frustasi maka menghentikan waktu akhirnya menjadi pilihan bagi sejumlah orang, yakni dengan jalan mengakhiri hidup

Oleh sebab itu mengapa aku tetap sabar menunggu dan detik demi detik kulalui dengan senang hati, tidak lain karena aku tengah menunggu seorang yang istimewa. Tidak terasa menjemukan meskipun harus menunggu selama 3 jam karena sesaat lagi ia akan memanggil, “Sudah lama menunggu, sayang?”, yang terdengar renyah dan menyejuk hatiku. Setidaknya hal tersebut membuatku menyadari bahwa waktu subjektifku tidak lepas dengan apa yang kunantikan akan hadir. Menyenangkankah atau tidak?

Meski waktu objektif memiliki durasi yang sama namun perasaanku terhadap waktu dapat berbeda tergantung pengharapanku terhadap apa yang akan hadir, karena sesungguhnya setiap manusia, demikian halnya aku, memiliki sebuah ruang kebebasan untuk menciptakan horizon kehidupan di dalam kesadarannya, dimana ia menjadi hakim terhadap realitas yang dipersepsikannya dan menentukan maknanya dalam autentitasnya.

Monday, 4 February 2008

WANITA DAN PRAGMATISM


Sebuah syair lagu menggungkapkan bahwa wanita dijajah pria sejak dulu kala . Hal ini seolah menunjukkan, sudah takdir wanita tunduk terhadap pria. Wanita sering juga digambarkan sebagai sosok yang tereksploitasi oleh pria. Sosok wanita yang baik adalah pelayan pria yang setia, patuh terhadap segala keinginan suaminya bahkan ada sebuah ungkapan tradisional yang menyatakan bahwa sorga dan nerakanya wanita ditentukan oleh suaminya, jika suaminya ke sorga maka iapun ikut ke sorga dan kalau suaminya ke neraka ia juga manut ikut ke neraka .

Namun apa yang sering terjadi akhir-akhir ini menunjukkan hal sebaliknya. Kadang malah pria yang terjajah oleh wanita, setidaknya hatinya terjajah. Banyak pria bagaikan kerbau yang dicucuk hidung melakukan apa saja yang diminta wanita pujaan hatinya, memusuhi teman-temannya bahkan saudaranya hanya gara-gara untuk menyenangkan hati sang wanita. Sering juga terjadi seorang pria yang telah mengorbankan segalanya malah dengan gampangnya ditinggalkan oleh sang wanita dengan sebuah alasan sepele seperti tidak cinta lagi atau ketemu pria yang lebih mapan. Si pria menjadi patah hati, dendam bahkan ada yang sampai berakhir dengan bunuh diri.

Wanita sesungguhnya tidak mudah dipahami. Begitu banyak penjelasan psikologis untuk memberikan gambaran seperti apakah sesungguhnya wanita itu. Sering kali antara penjelasan yang satu dengan yang lain bersifat kontradiksi. Misalnya ada sebuah teori yang mengatakan bahwa wanita dalam membina hubungan dengan orang lain lebih berorientasi pada keterbukaan, kenyamanan hubungan serta pembentukan ikatan emosional . Hanya saja teori ini kadang bertentangan dengan kenyataan, ada juga sejumlah wanita yang membina hubungan dengan pria, dapat dengan mudah memutuskan hubungan dengan seorang pria dan meninggalkannya begitu saja hanya karena alasan yang sepele (tidak cinta, kurang mapan, tidak bisa ngemong dsb). Padahal hal itu ia sadari mengakibatkan luka-luka batin.

Dikaitkan dengan parental investment ada teori yang menyebutkan demikian, bahwa wanita cenderung memilih pria yang mapan secara ekonomi dan kepribadian dengan harapan kelak sang pria dapat menyediakan kebutuhan bagi anak dan masa depannya, atau sebuah ekspektasi akan jaminan masa depan anak yang akan dikandungnya (David, 1999). Hanya saja dalam kenyataan seringkali pertimbangan kemampanan sedemikian kontradiksi dengan teori di atas. Ada sejumlah wanita dengan toleran mau dinikahi oleh pria yang telah beristri atau memiliki kebiasaan yang buruk seperti kekerasan fisik, minum-minum dsb hanya karena sang pria mapan secara ekonomi.

Apakah keputusan ini lebih didasarkan pertimbangan parental investment terkait dengan ekspektasi masa depan anak. Bukankah prilaku suami seperti yang disebutkan di atas dapat menciptakan kondisi keluarga yang tidak harmonis, penuh kekerasan dan kurangnya perhatian ayah terhadap anak. Bukankah kondisi demikian dapat menghambat perkembangan si anak untuk tumbuh secara ideal secara fisik maupun mental, yang akhirnya dapat menciptakan kecenderungan prilaku menyimpang pada anak. Ekspeksi demikiankah yang diharapkan sang wanita kelak?

Wanita seperti halnya pria merupakan mahluk yang memiliki kehendak bebas. Faktor-faktor biologis genetis tidak selalu dapat menjelaskan perilaku wanita, karena kesamaan faktor-faktor biologis tidak serta merta menghasilkan karakter dan prilaku wanita yang sama. Atau tidak dapat juga selalu disebutkan bahwa setiap wanita memiliki naluri keibuan seperti halnya semua wanita cenderung matre dalam memilih pasangan. Bahwa apa yang menjadi karakter seorang wanita tergantung kepada kencenderungan pribadinya dalam mengambil keputusan, yang juga dipengaruhi nilai-nilai dan sudut pandang yang ia anut. 

Jika disebutkan bahwa sudah hukumnya jika wanita memilih pria berdasarkan kekayaannya, karena sejak dahulu pria adalah kepala rumah tangga yang harus memenuhi segala kebutuhan istri dan anak-anaknya. Menurut saya hanya suatu usaha pembenaran terhadap prilaku materialisme dan pragmatisme seorang wanita. Karena kekayaan bukan segala-galanya, karena kadang kekayaan malah memberikan peluang lebih besar bagi pria untuk berselingkuh dan menjadi otoriter terhadap istri dan anak-anak. Jika hanya mempertimbangkan kekayaan belaka, yang kadang membuat wanita dengan penuh keyakinan memutuskan menikah dengan pria seorang yang baru ia kenal selama 3 bulan, maka keputusan tersebut adalah sebuah perjudian. Kekayaan tidak dapat menunjukkan apakah seorang pria itu adalah pria yang penuh kejujuran, kasih sayang dan bukan seorang psikopat. Pria dapat menjadi anak manis dan bertopeng menjadi seorang yang hangat, penyayang, rela mengorbankan apapun demi si gadis, dengan tujuan agar sang wanita terperdaya dan mau menerima cintanya dengan penuh keterbukaan. Setelah itu ia kembali pada sifat aslinya yang mungkin saja berbeda dengan sifat yang ditunjukkannya pada awal perkenalan.

Laki-laki memiliki kecenderungan untuk mempertontonkan atribut kemegahannya untuk menarik hati wanita. Dalam dunia binatang seolah sudah menjadi hukum alam jika pejantan yang memenangkan seekor wanita adalah pejantan yang tampak paling gagah dan anggun, seperti misalnya burung merak jantan yang mempertontonkan bulunya yang indah di hadapan si bentina pada saat musim kawin untuk menarik perhatiannya. Namun paling anggun bukan berarti paling setia, karena sudah menjadi kebiasaan hewan bergonta-ganti pasangan selama musim kawin. Bahkan ada juga penjantan yang kemudian mengawini kembali anaknya sendiri.

Bukan berarti kecenderungan di atas menjadi pembenaran untuk mengakui bahwa sudah menjadi takdirnya wanita melihat pria dari atribut keunggulan yang dapat ditunjukkannya seperti kekayaan. Manusia harusnya lebih dari itu, karena tujuan sebuah hubungan percintaan tidak semta-mata sex melainkan menciptakan hubungan permanen sebagai sepasang suami istri yang terikat secara emosional dan saling melengkapi satu sama lain. Manusia adalah mahluk yang memiliki akal dan perasaan yang digunakan dalam mengambil sikap yang diambil. Setidaknya perasaan dalam dirinya menjadi sebuah sumber bagi tindakan etis semacam jangan menyakiti orang lain, karena orang lain dapat menjadi menderita oleh kita, sebagaimana kita merasa tersiksa oleh orang lain.

Oleh sebab itu wanita tidak dapat dijelaskan secara mutlak dan ia memiliki kebebasan dalam memilih  tindakan yang akan diambilnya. Jika seorang wanita sangat materialis atau menjadi tidak perduli dengan perasaan pria yang ditinggalkannya agar dapat bersama laki-laki yang lebih mapan, adalah manifestasi pribadi sang wanita yang semakin egois dan pragmatis dan bukan karena sifat alamiahnya yang kadang pria dituntut untuk memakluminya. Jika sebuah karakter, dikatakan adalah sifat umum dari seorang wanita haruslah sesuatu yang baik, bukannya sifat-sifat yang dapat menjerumuskan sang wanita pada perilaku yang buruk yang dapat membuat seorang pria sakit hati atau patah hati lantas bunuh diri atau membuat seorang wanita akhirnya mendapati pria mapan pilihannya adalah seorang psikopat atau buaya, dan kemudian harus membangun sebuah keluarga yang tidak harmonis.

Karena tidak ada pembenaran apapun terhadap hubungan ekploitasi yang terjadi di antara manusia termasuk juga hubungan diantara wanita dengan pria

Sunday, 17 June 2007

KONDISI PEKERJAAN YANG MEMUSINGKAN (Sepotong Cerita keseharian seorang PNS..

Aku mulai semakin apatis dengan pekerjaanku, dan kondisi di kantor rasanya bakal membuatku semakin cuek saja. Sudah lebih dari sebulan aku uring-uringan, tidak mau perduli dengan pekerjaan dan menyibukkan diri dengan bisnis peminjaman bukuku. Dan aku demikian bukanlah tanpa sebuah alasan. Wajar saja, karena selama 1 bulan pertama aku di ruangan baru Departemen (censor) aku boleh dikatakan sama sekali tidak dikaryakan secara proporsional, pekerjaanku tidak beda dengan kurir juru ketik komputer. meskipun aku sudah memegangn ijazah S2 dari universitas negeri ternama (sombong ni, ye [red]). Semua pekerjaan habis didistribusikan tapi hanya sampai kepala seksi, sisa-sisanya saja tidak sampai ke staf. Kondisi demikian menyebabkanku stagnan yang tadinya begitu sibuk sewaktu masih di semusim, membuatku menjadi sedikit loyo, pengetahuan tidak bertambah, mental dan rasa percaya perlahan-lahan mulai rusak karena seolah-seolah aku menjadi orang yang tidak produktif atau tidak mampu bekerja, dan aku paling tidak suka diperlakukan seperti itu...

Meskipun demikian, sesungguhnya Bosku tetap berusaha memberikan perlakuan istimewa bagiku, karena ia ternyata punya harapan besar dan visi buatku, bahwa aku diproyeksikan menjadi pemimpian teknis dalam tim pengerjaan tugas-tugas pengetikan laporan dan bahan presentasi dengan cepat dan tepat. Aku adalah staf pertama dari ruanganku yang diberikan kesempatan perjalanan dinas dari anggaran tahun 2007, dan bahkan ia juga menjanjikan aku bakal mendapat jatah dinas minimal 1 kali satu bulan. Namun yang membuat suasana kurang nyaman ternyata hanya namaku saja yang tercantum dan saat itu diajukan, staf yang lain tidak. Bosku mecoba memberikan pengertian pada teman-teman yang lain, sewaktu aku mau berangkat ke Papua, setelah aku menerima tiket pesawat PP dari bosku ”Kalian bakal jalan setelah kloter pertama berangkat, dan diajukan nanti, seminggu kemudian”, demikian kata Ibu Iswari sambil melemparkan senyuman manisnya.

Kloter pertama yaitu aku dan bos-bos, sedangkan kloter kedua aku tidak tahu siapa. Tapi ternyata setelah aku pulang hingga sampai tanggal yang dijanjikan ternyata nama staf yang lain tidak diajukan. Dan ternyata hanya aku saja yang berangkat untuk bulan Mei kemarin, anehnya di ruangan lain hampir sebagaian besar stafnya telah dinas luar. Lho, ko, kami harus pakai kloter segala.

Wajarlah jika staf yang lainnya protes, dan yang bikin tidak enak, akupun kemudian turut menjadi objek sasaran, dianggap dianakemaskan, dibedakan gara-gara kamu anak kesayangan. Tentu kurang enak mendengar komentar demikian dari kawan staf sesama ruangan yang bercerita kepada temanku dari ruangan lain yang kemudian menceritakan kepadaku.

Terus terang aku tidak terlalu mengharapkan perjalanan dinas, apalagi aku tidak suka naik pesawat karena sedikit trauma. Bagiku hal yang terutama yang ingin kuperoleh dari pekerjaanku adalah sebuah penghargaan, aku bisa berfungsi, bisa berkarya dan mengembangkan pengetahuan. Dan ini tidak kudapat di Ruanganku, sehingga dengan demikian, sesungguhnya akupun juga tidak diperlakukan secara adil sama seperti halnya teman-temanku. Karena tanpa mereka sadari sistem kerja yang dibentuk cenderung mematikan potensiku.

Untuk mencegah agar suasana semakin tidak enak, apalagi ada benarnya juga, bahwa tidak ada dasar buat Bosku memplotkanku sering-sering dinas, karena aku juga sama sekali tidak mengerti pekerjaan di semusim seperti halnya staf yang lain. Oleh sebab itu aku memutuskan menolak perjalanan dinas selama 3 bulan dengan alasan mau persiapan sekolah ke Australi. Toh, pas pergi dengan pak Maman ke Papua aku juga seperti orang bloon, dan bekerja seperti ajudannya saja, serta diberikan perintah yang aneh-aneh. Sekaligus ini menjadi aksi solidaritasku terhadap teman-teman yang lain, untuk sama-sama merasakan kesusahan.

Begitu keinginanku ini kusampaikan kepada Bosku, kemudian ia dengan senyum simpulnya, yang aku tidak tahu murni atau tidak, mengatakan bahwa aku sudah diplotkan ke Aceh. ”Tapi untung kamu tidak mau jalan, karena dari awal itu rencananya perjalanan itu mau difiktifkan”, demikian katanya. Tentu saja aku terkejut, mereka meplotkan begitu saja tanpa meminta persetujuanku, tanpa memperhitungkan apakah pernah ke Aceh atau tidak, bagaimana kalau nanti aku dipanggil pengawas. Tapi sudahlah, akhirnya kuputuskan untuk menerima saja dan kalau terjadi kenapa-kenapa, ya, jujur saja bilang ke pengawas layaknya orang bloon.

Tapi, meskipun aku sudah dirugikan dan bertekat tidak dinas selama 3 bulan sebagai bentuk solidaritas dan mereka juga mengetahui hal itu, teman-teman sesama staf satu ruanganku ternyata masih saja memonitor jadwal perjalanan dinasku, mereka masih sensitif terhadap adanya perlakuan khusus terhadapku, pas hari seharusnya aku berangkat ke Aceh semua menanyakan ko tidak jadi berangkat, kapan? Dan aku yakin tidak hanya sekedar bertanya demikian, mungkin mereka masih menganggapku diperlakukan istimewa dan memposisikanku satu front dengan para bos (bos batalin). Setidaknya pikiranku demikian cukup beralasan, karena ibu Musrifah entah kenapa tiba-tiba membahas masalah ini pas kami ketemu menjelang masuk ruangan kantor dan sewaktu di lift tiba-tiba saja ia berucap, ” Kamu kan bisa diplotin ke daerah karena kamu anak kesayangan”. Sebuah ungkapan yang tidak sedap di dengar dan disampaikan di depan orang yang tengah berhimpitan di lift. Jujur kata-kata itu setidaknya membuatku tidak enak hati. Aku juga turut dirugikan dalam sistem manajemen pimpinan yang tidak baik dan berusaha untuk turut berada di posisi mereka, malah dinilai demikian.

Tapi sudahlah, memang kondisi ruangan sudah tidak lagi kondusif yang sesungguhnya sudah terbentuk sejak dulu dan orang yang paling bertanggung jawab adalah pimpinan. Mereka tidak mampu menciptakan suasan yang hangat dan penuh kekeluargaan, serta kurang peka terhadap stafnya dan kebijakanannya cenderung menciptakan konflik di antara staf, seperti yang kualami. Mengapa demikian? Ya, tapi sekali lagi ini bukan karena kesalahan mereka, melainkan karena mereka kurang memiliki skill kepemimpinan, karena jabatan PNS cenderung hanya ditentukan administrasi struktural dan preferensi pimpinan yang lebih tinggi. Jadi mereka tidak patut disalahkan, yang milih mereka juga patut disalahkan, siapa suruh orang-orang seperti kami dijadikan pemimpian. Atau barangkali yang memilih merekapun samimawon kemampuannya dengan mereka, mulai dari pejabat E-2 sampai menteri bahkan presidennya. Ah, aku terlalu berlebihan. Sehingga bukannya tidak mungkin orang yang tidak patut menjadi pimpinan dan tidak menguasai bidang pekerjaan tiba-tiba nongol menjadi pimpinan, dan memimpin bawahan yang tidak pintar-pintar amat kayak mereka juga.

Seorang pemimpian yang baik tentunya tahu menyenangkan hati anak buahnya dan tidak serakah, karena secara filosofis adanya pemimpin karena ia ada bawahan, dan keberhasilan seorang pemimpinan tentunya tidak lepas dari kinerja bawahannya. Good leader mampu mendelegasikan tugas dengan baik karena ia memahami betul pekerjaannya dan anak buahnya sehingga ia bisa mengatur porsi tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan stafnya. Tapi pemimpin yang cenderung tertutup dan suka marah-marah, kadang sedang berkompensasi ria terhadap ketidaktahuannya, ”Bagaimana jika pas mengerjakan pekerjaan staf menjadi tahu kalau aku sama bodohnya dengan dia”, atau si pemimpin beranggapan dengan mencari-cari kesalahan si bawahan seolah ia hendak mengajarkan bahwa kamu, bawahan, tolol dan saya, pimpinan, pintar. Manajemen demikian dapat dikategorikan manajemen pinpinbo alias pintar-pintar bodoh.

Cobalah lihat perilaku pimpinanku saja, mereka enak-enakkan jalan-jalannya sedangkan stafnya ada yang berkutat dengan masalah keuanngan. Alasan mereka, wajarlah staf tidak jalan karena tidak menguasai. Pertanyaan kemudian adalah, apakah mereka juga menguasai pekerjaan?

Aku tidak yakin itu. Lagipula pekerjaan pegawai pusat selama ini yang kuamati hanyalah bersifat administrasi, bukannya ke lapangan untuk merancang mesin, melakukan supervisi teknis pembangunan kebun, supervisi pembuatan robo, yang juga bisa dilaksanakan oleh staf asal diberikan pengarahan . Dan merekapun sering kembali dengan dua lembar data dan akhir kegiatan perjalanan tidak lebih dari sebuah laporan yang 2 tahun kemudian bakal dikiloin, dibuat dengan ciplak sana-sini yang tamatan SMP pun aku yakin bisa membuatnya. Coba lihat saja isinya, jika target di lapangan yang tidak tercapai maka alasan penyebabnya sangat klise yakni karena kurangnya kesadaran masyarakat. Dan rekomendasi pemecahan juga sangat mengawang-ngawang yakni menyadarkan masyarakat, seolah petani kita suka merem-melek. Toh, sesungguhnya motivasi pimpinan pergi dinas juga tidak jauh berbeda dengan staf, mengharapkan sisa tiket dan lonsum, buktinya ketika bakal ada peraturan bahwa tiket dan lonsum harus real, maka pimpinan juga ikut-ikutan lemes kayak stafnya dan malah ada yang nyeletuk, ” Kalau begitu besok-besok nggak usaha jalan, saja”. Lho, kok, langsung down begitu.

Lagipula untuk apa mengharapkan keuntungan dari uang negara, karena itu sesungguhnya bukan hak kita yang kadang diperlakukan layaknya uang pribadi, sehingga tidak heran anggaran yang tiba-tiba masuk ke pos yang salah akan menimbulkan konflik seperti harta kekayaan yang dicaplok orang lain. Dan tidak ada salahnya jika memanfatkan wewenang untuk kesejahteraan orang banyak dan bukannya kepentingan sendiri, apalagi sadar diri tidak juga sepintar seorang peneliti dan bodohnya sama dengan staf. Jadi untuk apa lengak-lenggok tidak jelas ke sana ke mari layaknya seorang konsultan swasta ternama seperti Hermawan Kertajasa.

Dan sekarang ini aku benar-benar terjepit dan kondisi ini benar-benar tidak menyenangkan. Istilahnya, maju kena mundur kena. Oleh sebab itu tidak ada salahnya untuk beberapa masa ke depan perlu sedikit cuek dan rada-rada apatis khususnya untuk pekerjaan yang tidak bermutu, kalau aku masukin hati maka pikiranku jadi puyeng dan aku bisa stress. Tapi ini bukan berarti aku menjadi stagnan dan kelayapan nggak jelas, nongkrong di koperasi dan jarang masuk, melainkan ini menjadi masa dormansi, saat aku mengembangkan kreativitasku dengan menfaatkan peluang yang ada di kantor atau di bidang lain untuk menciptakan kesempatan baru serta pengembangan diri sehingga pada saat awan kelabu ini berlalu aku sudah lebih matang lagi dan siap kembali melakukan tugas negara dengan penuh tanggung jawab.......(ungkapan hati seorang PNS muda tentang pengalamannya juga dialami oleh ribuan PNS di seluruh nusantara, mulai dari yang masih muda hingga yang sudah bangkotan, dan mengharapkan agar sistem Birokrasi Indonesia mengalami reformasi...)