Tuesday, 29 April 2008

REMAJA NONGRONG DI AIR MANCUR BOGOR


Hari sabtu merupakan hari penuh kebebasan bagi anak-anak muda di kota Bogor. Hal ini ditunjukkan oleh bagaimana penuh sesaknya daerah Air Mancur sejak sore hari dengan kaum remaja yang nonkrong di trotoar, taman kota maupun di tenda-tenda penjual makanan. Tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Mereka tampil dengan berbagai budaya khas mereka, mulai dari cara berpakaian, berbahasa, berkelompok dengan nama dan identitas pembeda yang spesifik, apakah sebagai kelompok biker, atau semata-mata mengelompok begitu saja. Hiruk pikuk ini akan terus berlangsung hingga dini hari.

Fenomena tersebut barangkali menunjukkan remaja Bogor masa kini yang cenderung lebih cepat kepribadian yang mandiri, sehingga dapat memutuskan bersenang-senang dengan bebas di air mancur dan pulang hingga larut malam tanpa merasa terancam karena merasa mampu menjaga dirinya sendiri.

Namun fenomena tersebut juga dapat berarti lain. Para remaja yang mudah meninggalkan rumah dan pulang hingga larut malam menunjukkan perubahan dalam pola interaksi keluarga. Orang tua masa kini memiliki kontrol yang lemah terhadap anak remajanya. Sehingga si anak, termasuk juga remaja putri dapat meninggalkan rumah hingga larut malam.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertama, barangkali orang tua saat ini tidak lagi memiliki waktu untuk menasihati atau membatasi tindakan anaknya. Atau bahkan ia telah kehilangan hak memperingatkan anaknya karena selama ini tidak menjalankan kewajiban sebagai orang tua secara baik. Mungkin karena si orang tua sibuk dengan berbagai tetek-bengek mulai dari pekerjaan, arisan, meeting, party, shoping dsb sehingga waktu untuk anak semakin terbatas.

Kedua, orang tua masa kini mengalami disorientasi dalam memahami kemajuan dengan membebaskan anak keluar malam seolah orang tua tengah mengajarkan tentang kebebasan bersikap sebagai bentuk didikan yang progresif. Orang tua yang maju adalah orang tua yang penuh kebebasan.

Tempat nongkrong bukanlah tempat yang aman untuk bergaul. Berbeda jika remaja tengah berada di sekolah dimana kontrol sosial relatif ditegakkan. Tempat nongkrong merupakan wilayah penuh kebebasan bagi remaja untuk berkenalan dengan apa saja, mulai dari narkoba hingga seks bebas. Saat nongrong aturan keluarga tidak diperdulikan sama sekali. Di sisi lain remaja belum sepenuhnya memiliki kontrol dalam dirinya.

Hal negatif lainnya yang ditunjukkan oleh fenomena nongkrong remaja adalah bahwa remaja masa kini memiliki prilaku konsumtif naif. Pakaian yang mereka pakai, bagaimana mereka mengelompok serta membangun indentitasnya, apakah sebagai kelompok funk atau biker, serta habitus mereka secara keseluruhan adalah imitasi dari apa yang mereka saksikan melalui iklan, sinetron, televisi, MTV, media massa, internet dsb, tanpa mengetahui pasti apa manfaatnya. Apakah dengan demikian ia semakin sehat, intelek, cerdas, terampil, matang secara sosial? Ia dapat dengan mudah mengikuti fashion ataupun gaya hidup baru meski harus menghabiskan banyak uang dari orang tuanya demi memuaskan hasrat mereka akan imajinasi kecantikan, up to date, trand dsb.

Kebebasan remaja sebagaimana yang aku saksikan di Air Mancur Bogor setidaknya membuatku merenung, mau kemanakah remaja kita ini tumbuh dan berkembang. Katakanlah bahwa remaja membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri, tempat untuk bersosialisasi dengan bentuk bernongkrong ria, namun bagaimana respon kita terhadap kenyataan bahwa ruang yang sama dapat menjadi tempat dimana remaja menjadi tanpa kontrol, mempertunjukkan prilaku ugal-ugalan dan tawuran yang dapat membahayakan dirinya, menjadi tempat berkenalan dengan seks bebas maupun penggunaan narkoba. Atau menjadi tidak prihatin terhadap kondisi masyarakat yang tengah terbatas, tanpa kepekaan sosial mempertontonkan bentuk kekayaan mereka seperti motor Honda, Tiger dsb, di depan umum meskipun saat ini banyak orang yang tengah hidup melarat, boro-boro membeli apa yang tengah mereka tunjukkan, untuk membeli makanan saja sulit.

Sesungguhnya remaja masa kini berada dalam kondisi tidak terlindungi dan terkendali dalam ranah sosial yang bergerak tanpa arah dan tujuan yang pasti. Mereka bebas nonkrong dimana saja, di berbagai tempat, yang salah satunya di Air Mancur Bogor, serta mengembangkan budaya mereka sendiri tanpa bekal nilai-nilai sosial yang memadai. Mereka bebas lepas tanpa sebuah batasan. Namun semua tidak perduli, pemerintah, masyarakat maupun orang tua. Menyedihkan, remaja kini dididikan secara apatis dan dikhawatirkan kelak mereka juga akan berkembang menjadi orang yang apatis tidak hanya pada orang tua dan masyarakat namun juga kepada bangsa serta negaranya.

Monday, 28 April 2008

IKATAN SOSIAL PEREDAM EFEK NEGATIF KAPITALISME (KASUS KELUARGA SILABAN)


“Kami dengan sepenuh hati menyerahkan uang ini untuk biaya pengobatan lae kami, walau sedikit namun kami harapkan dapat membantu,…..ini, mohon diterima sebesar 10 juta rupiah”, kata amang Silaban sambil menyerahkan amplop berisi uang kepada itonya, R. Silaban yang suaminya sedang terbaring sakit. R Silaban tidak dapat menahan haru dan secara mendadak memeluk tubuh amang Silaban sambil menumpahkan tangisnya. “Terima kasih, ito”, katanya sambil tersedu….

Destruktif Kapitalisme
Konon katanya kita tengah hidup di dunia yang kejam. Coba lihat saja kenyataan yang ada disekeliling kita, kejahatan terjadi dimana-mana, kemiskinan merajalela, penghisapan di antara manusiapun muncul dengan berbagai rupa. Banyak manusia tereksplotasi, anak-anak yang diperjualbelikan oleh orang tuanya, gadis-gadis yang diperdagangkan pada hidung belang atau orang-orang yang dimanipulasi dengan dikirim ke luar negeri tanpa sebuah jaminan. Barangkali kita tengah berada di zaman edan sebagaimana ramalan Jayabaya.

Meskipun terlihat tragis, sesungguhnya tatanan sosial dan hubungan ekonomi masyarakat saat ini tengah mendekati apa yang dicita-citakan oleh Adam Smith maupun para pemikir masa lampau, ketika urusan ekonomi lepas dari campur tangan negara, masyarakat memasuki masa dimana demokrasi tengah dilembagakan, kebebasan pers dipelihara, setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya dengan bebas dan pemimpin dipilih oleh pilihan rakyat secara langsung. Belum lagi kita tengah berada di era dimana teknologi sedemikian berkembang dan barang pemuas kebutuhan diproduksi secara berlimpah oleh industri massal. Tentunya hasil akhir adalah masyarakat sejahtera dan bebas dari eksploitasi. Adam Smith meyakini bahwa pasar atau hubungan ekonomi, darimana manusia memenuhi kebutuhannya, memiliki hukum yang akan membawa kehidupan manusia pada keseimbangan [1]. Artinya dalam kondisi pasar yang sempurna akan membawa kesejahteraan pada setiap umat manusia. Jadi biarkan saja urusan penyediaan kebutuhan hidup disesuaikan sepenuhnya dengan mekanisme pasar.

Namun kenyataan yang terjadi, pasar kadang bekerja tidak sempurna. Kekayaan dan surplus dari sebuah aktivitas produksi tidak serta merta terdistribusi secara adil. Misalnya saja hal yang terjadi di Indonesia bahwa setengah total pendapatan negara hanya dimiliki 2 persen penduduk Indonesia. Artinya kekayaan dan aset-aset yang diperlukan untuk aktivitas produksi hanya dimiliki segelintir orang dan mereka kemudian dapat menikmati hidup secara berkelimpahan. Selebihnya hanya menjadi penonton dari kemegahan berbagai fasilitas sosial dan kemegahan peradaban yang diciptakan khusus bagi mereka yang bisa membayar. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnyapun kadang harus empot-empotan. Berdasarkan data BPS diketahui bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta orang (17,75 persen) artinya ada hampir 39,05 juta orang yang memiliki pendapat rata-rata Rp. 152 .847,-dan sebagian besar dihabiskan untuk menyediakan kebutuhan makanan sehingga tidak mungkin bagi mereka menikmati barang-barang kemewahan.

Meskipun demikian, mereka yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnyapun turut mengalami penurunan kualitas psikologis. Adam Smith mensyaratkan bahwa seseorang harus memberikan kontribusi agar dapat memperoleh insentif yang sebanding, karena tidak ada yang cuma-cuma dalam sistem kapitalisme. Namun obsesi untuk mendapatkan upah, bunga maupun profit yang merupakan pendapatan dari aset yang dimiliki dapat menjadi sebuah keinginan yang desktruktif. Jika pemilik modal berusaha untuk memaksimalkan perolehan profitnya, tenaga kerja berusaha mengharapkan gaji dan pemilik aset berusaha mendapatkan sewa semaksimal mungkin, pada akhirnya dapat menciptakan suasana saling eksploitasi. Namun siapakah dari mereka yang menang?Apakah ada kemenangan itu?

Secara parsial mungkin ya, seorang pemilik modal mungkin akan mendapatkan profit dengan mengeskplotasi tenaga kerjanya, seorang tenaga kerja dapat memperoleh gaji yang tinggi setelah mampu menekan perusahaannya, namun secara keseluruhan mereka tengah membentuk sebuah hubungan yang sosial yang merugikan bagi jiwa manusia baik yang mengalami kemenangan maupun kekalahan. Saat setiap orang akan berusaha untuk mendapatkan keuntungannya dengan membangun jaring-jaring impersonal dengan menjadikan setiap hubungan sebagai sarana untuk memaksimalkan keuntungan dengan mengorbankan orang lain. Sehingga kualitas hubungan antar manusia tereduksi, saling mengeksploitasi, tanpa ikatan emosional, memperhamba materi. Hubungan antar manusia menjadi saling curiga serta penuh kekhawatiran. Jika untung saat ini maka selalulah berjaga-jaga karena besok orang lain mungkin akan memanfaatkan kita.

Lebih ironis lagi, di masa penuh kemajuan ini semakin banyak orang yang mengalami keterasingan, sindrom kesepian dan kehampaan hidup. Kondisi sosial yang tercipta saat ini meningkatkan stres, konflik, kecemasan, masalah psikososial, perubahan perilaku, dan meningkatnya gangguan mental yang beraneka ragam [2]. Misalnya saja di Indonesia menunjukkan bahwa 30-50% pasien yang berobat ke fasilitas kesehatan umum (termasuk rumah sakit) ternyata mempunyai latar belakang gangguan mental emosional. Di Indonesia, diperkirakan satu dari lima penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa dan mental [3]. Jika hubungan kapitalisme di satu sisi memberikan kesenangan sesaat namun di lain waktu menanamkah kekhawatiran, siapakah yang sesungguhnya diuntungkan dari keberadaan sistem kapitalisme?

Ikatan Sosial sebagai Sarana Peredam Efek Buruk Kapitalisme
Untunglah masyarakat kita masih menyediakan berbagai bentuk komunitas yang dapat berfungsi sebagai peredam berbagai dampak buruk kapitalisme. Berupa serikat persaudaraan, ikatan tolong menolong yang terbentuk didasarkan ikatan primordial yang tanpa kita sadari dapat merealisasi atau mensubsitusi fungsi hubungan ekonomi kapitalisme. Jika melalui ikatan kapitalisme kita dapat menyediakan kebutuhan kita melalui kontribusi produktif maka hal yang sama dapat terjadi melalui ikatan tolong menolong. Penyebaran modal di kalangan orang Cina di Indonesia tidak selalu didasarkan pertimbangan ekonomis namun karena ikatan persaudaraan semata. Mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya dapat memperoleh kebutuhannya melalui ikatan persaudaraan tersebut. Pemberian dalam konteks sebuah ikatan sosial demikian tidak selalu ekspresi kemurahan hati si pemberi melainkan sebagai sebuah kewajiban [4].

Pemberian dalam ikatan kekeluargaan/sosial lebih berorientasi pada hubungan personal. Pemberian itu terjadi karena si pemberi menghormati atau merasa bagian dari kehidupan si penerima dan bukan untuk mendapatkan sesuatu melebihi yang ia berikan. Sehingga tindakan tersebut didorong dari sebuah empati. Berbeda dengan hubungan kapitalis dimana sisi manusia tidak dipentingkan karena setiap orang berusaha mendapatkan keuntungannya masing-masing. Seorang penjual melemparkan senyum terindahnya bukan karena ia menghargai atau terikat secara emosional dengan pelanggan namun karena dengan demikian si pelanggan merasa nyaman dan kemudian melakukan pembelian, itulah tujuan yang diharapkannya.

Misalnya saja ikatan marga dikalangan orang Batak. Di sana terjadi hubungan yang hangat tanpa melihat siapa anda, apa yang bisa anda tawarkan, seberapa produktifnya anda. Yang penting anda adalah keluarga saya. Setidaknya apa yang saya saksikan pada sebuah acara Bona Tahun Silaban di Bogor (Februari 2007) menjadi bukti ampuhnya ikatan persaudaraan untuk mendistribusikan aset dan kekayaan khususnya bagi mereka yang berkekurangan. R. Silaban hanya seorang perempuan yang memiliki penghasilan pas-pasan dan harus merawat suaminya yang sedang sakit. Dalam hubungan kapitalis, saat seseorang tidak mampu menawarkan sesuatu maka ia tidak akan mendapatkan apapun, tak perduli apakah sedang tertimpa musibah, sedang menderita, tetap harus menawarkan sesuatu. Jika tidak memiliki skill setidaknya seseorang masih dapat menjual harga diri atau menjual organ tubuh yang berharga seperti yang terjadi di India. Namun untung R. Silaban menjadi bagian keluarga besar Silaban yang masih menghargainya sebagai seorang manusia meskipun ia tidak memiliki apapun untuk ditawarkan. Uang sebesar 10 juta mengalir kepadanya wujud keprihatinan Saudaranya tanpa memandang siapapun dia. Tangisan menjadi sebuah simbol terjadinya sebuah hubungan yang sangat manusiawi. Namun yang menjadi pertanyaan apakah ia dapat memperoleh uang 10 juta rupiah dengan begitu mudahnya melalui hubungan kapitalis murni.

Disamping itu kita sering tidak menyadari bahwa apa yang dapat kita peroleh dari kapitalisme hanyalah kebutuhan yang bersifat materialisme. Malah pasar, sedikit banyak menjadi pelembagaan dari individualisme dan sifat tidak bertanggung jawab [5]. Dengan gaji atau keuntungan yang kita peroleh memang kita dapat membeli makanan yang nikmat, rumah yang nyaman maupun menyewa kapal pesiar dari pelaku ekonomi lainnya. Namun dapatkah lebih dari itu? Apakah kapitalisme dapat menyediakan penghargaan dan cinta kasih? Jika dapat, dimana kita dapat membelinya? Menurut Maslow jika kita telah mampu membeli makanan yang lezat, mobil yang trendi, atau menyewa sebuah resort yang indah, sesungguhnya kita baru saja memenuhi kebutuhan yang bersifat dasar, bersifat fisiologi. Namun kebutuhan manusia lebih dari itu, manusia membutuhkan cinta, kasih sayang dan penghargaan serta ruang baginya untuk mengekspresikan diri. Hanya dengan demikian manusia dapat menjadi manusia yang mampu mengaktulisasikan diri, dan dapat menikmati kehidupan meskipun di tengah kondisi fisik yang tidak nyaman.

Ironisnya lagi kita sering menyaksikan bahwa orang-orang yang berkelebihan kekayaan seringkali tidak menikmati hidupnya. Mereka tidak sanggup menikmati realitas kehidupannya sehingga lari kepada realitas maya apakah dengan menggunakan obat-obat yang memabukkan atau larut dalam kesenangan maupun dunia penuh hura-hura untuk melarikan dirinya dari realitas. Atau bahkan memilih untuk mengakhiri hidup karena kehidupan tidak lagi menyenangkan dan membahagiakan. Menurut Durkheim dalam kondisi masyarakat yang ikatan sosialnya rendah tingkat kasus bunuh diri [6] maupun kelainan jiwa relatif tinggi. Dan menurut Psikolog senior, Sartono Mukadis Sartono tingginya kasus bunuh diri menandakan sebuah masyarakat yang sedang sakit.

Sekali lagi ikatan persaudaraan dapat menjadi sarana untuk mencegah kondisi tersebut di atas. Disanalah kita memperoleh kebutuhan psikologis akan cinta kasih, penghargaan sehingga seseorang dapat mengaktualisasikan dirinya. Dalam hubungan demikian orang lain mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan kita menceritakan segala persoalannya dan memberikan dukungan. Tidak saja kesedihan, kegembiraanpun dirayakan bersama. Saat itulah kita menjadi sebagai manusia apa adanya, dengan sisi lemahnya dan bukannya menjadi mesin pekerja sebagaimana dalam dunia kerja yang menuntut kita untuk senatiasa kuat dan tegar.

Pilihan Masyarakat dan Harapan
Setiap orang memiliki kesempatan untuk membina hubungan demikian, namun banyak orang saat ini lebih memilih menghabiskan waktunya bekerja, larut pada hubungan yang bersifat impersonal daripada meluangkan diri sejenak untuk bersama membangun sebuah ikatan sosial yang erat. Banyak orang yang kemudian menilai betapa tidak bermanfaatnya kegiatan mengunjungi Saudara, perkumpulan keluarga, kelompok pengajian, komunitas tolong-menolong dsb. Coba bayangkan jika waktu yang digunakan berkunjung digunakan mencari duit, tentunya begitu banyak yang dapat diperoleh. Bahkan kalau perlu hubungan persaudaraan dibisniskan, sehingga muncul slogan Saudara-saudara- bisnis-bisnis. Banyak orang yang sulit meluangkan waktunya untuk menghibur Saudaranya yang tengah kesusahan atau ikut serta dalam sebuah acara kebersamaan dengan alasan sibuk namun jika diajak mengunjungi tempat-tempat hiburan maka segala kesibukan dapat dengan mudah ditinggalkan. Membina hubungan persaudaraan diperlukan sebuah pengorbanan setidaknya untuk menumbuhkannya.

Menyedihkan memang namun demikianlah kehidupan kita saat ini, banyak dari kita lebih memilih hal yang merusak dari pada hal yang mampu menyempurnakan hidup kita. Kapitalisme mampu menarik hati bagitu banyak orang sebagai sarana untuk mendapatkan berbagai sumber penghidupan, uang, barang kebutuhan dsb. Namun saat manusia dengan manusia lainnya terhubung secara impersonal maka sesungguhnya kehilangan bentuk pemenuhan kebutuhan lainnya. Namun waktu manusia modern lebih banyak dihabiskan dapat hubungan kapitalisme. Dalam 6 hari seseorang menghabiskan 8 jam bahkan lebih waktunya di tempat kerja, dan sisanya digunakan kesenangan sendiri, kapan waktu untuk membina hubungan sosial.

Barangkali setiap orang terkait dalam sebuah jaringan sosial satu sama lain, dan jika setiap orang memelihara dan lebih mengutamakan jaringan tersebut dalam berinteraksi maka kekayaan akan terdistribusi dengan sendirinya. Satu sama lain akan saling mendukung dengan sebuah prinsip bahwa “kita bersaudara sehingga aku memberikan hal ku miliki tanpa pamrih”. Barangkali pada saat itu setiap umat manusia bersaudara, dan tidak lagi melakukan segala sesuatu dengan berorientasi pada kepentingan sendiri. Namun yang menjadi pertanyaan mungkinkah hal tersebut terjadi? Semoga saja….


Catatan Kaki
[1] Menurut keyakinan Adam Smith hukum ekonomi adalah hukum alamiah, yang secara otomatis akan mendorong masyarakat ke arah keseimbangan. Pandangan demikian setidaknya mencerminkan ide pemikiran pada masanya yang terinspirasi oleh pandangan Newton bahwa alam adalah sebuah mesin raksasa yang telah bekeja secara otomatis berdasarkan hukum-hukum keseimbangan. Tugas seorang ilmuan dalam hal ini adalah mengartikulasikan hukum-hukum tersebut dan apa yang dituangkan oleh Adam Smith dalam bukunya The Welath of Nation adalah artikulasi hukum sosial yang dianggapnya alami tersebut.
[2] Kutipan dari kompas tahun 2006
[3] Idem
[4] Stephen M.L., Indirect Symbolic Violence and Rivalry between Equal ini Rurak Punjab, Pakistan, Durham Anthropology Journal ,Vol 12(1) 2004 , p-37
[5] E.F Schumacher, Kecil itu Indah (terjemahan) hlm-43
[6] Dalam hal ini adalah bunuh diri yang bersifat egoistik yang merupakan akibat dari keakuan seseorang menyatakan dirinya berlebihan dihadapan pribadi sosial dengan mengorbankan pribadi sosial itu (lihar Anthony Gidden, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern (terjem) hlm-105)

TOLONG JAUHKAN SINETRON DARI ANAK REMAJA


Hampir setiap hari tayangan sinetron muncul di televisi. Tentu saja hal tersebut bukanlah fenomena asing bagi kita. Hanya kecenderungannya, sinetron-sinetron Indonesia mulai mencari segmen baru, yakni pada golongan remaja. Sehingga tidak heran jika kemudian kita menyaksikan kisah percintaan muda-mudi yang penuh polemik, namun si cowok ditampilkan dengan mengenakan celana gantung ke sekolah dengan bahan dasar biru. Tentu ini bukan trand baru, melainkan kisah percintaan itu terjadi antara dua remaja yang masih duduk di bangku SMP. Namun hiruk-hiruk pikuk persoalah yang mereka hadapi layaknya persoalan orang dewasa. Bahkan di salah satu sinetron, ada yang mengambarkan perselingkuhan disimbolkan dengan adegan ciuman antara si pria dengan perempuan lainnya. Dan sekali ini konteksnya ini terjadi pada remaja yang masih duduk di bangku SMP.

Trend ini menurut hemat saya terjadi sejak kesuksesan film layar lebar menyajikan kisah percintaan remaja SMA (Ada Apa dengan Cinta). Namun sesaat itu juga peluang ini dimanfaatkan oleh sineas untuk mereproduksinya ke dalam sinetron. Pada awalnya sasaran pada anak-anak yang masih duduk di bangku SMA, namun apakah karena sebuah ide kreatif atau oportunis kemudian menjadikan sasaran selanjutnya remaja awal, yang masih duduk di tingkat SMP. Asal saja anak SD tidak dijadikan sasaran. Tentunya saja membuat kategorial ini berdasarkan konteks pendidikan yang dimunculkan dalam scane cerita. Dan ini adalah tindakan yang rasional mengingat remajalah yang kemungkinan besar menghabiskan banyak waktu di depan televisi.

Sinetron dan Dampak Buruknya
Perihal apakah yang sesungguhnya diperoleh remaja dari cerita-cerita sinetron?. Tentunya kita tidak perlu berharap banyak dari sinetron karena pembuatannya dari awal tidak pernah memiliki orientasi pendidikan. Lihat saja hal-hal yang muncul dalam sinetron remaja. Sensualitas tubuh, wanita yang seksi dan pria yang modis, berbadan bidang atau macho, remaja yang tampak cool dengan mobil mewahnya, seks diidentikkan dengan cinta, pemberontakan terhadap orang tua demi membela percintaan yang terlarang adalah simbol kedewasaan, fasion sebagai identitas. Intinya kehidupan remaja seolah terpusat pada gaya, fisik dan hubungan romantisme.

Dan sinetron tidak pernah bermaksud mendorong remaja untuk memiliki impian untuk bisa sejenius Einstein, Habibie atau menjadi seorang pribadi yang cinta tanah air. Karena scane demikian sudah menjadi jatah film layanan masyarakat dan dokumenter.

Sinetron menjadi sebuah ruang simulasi dimana segala sesuatu menjadi mungkin, menciptakan sesuatu tanpa acuan realitas. Sehingga sinetron mampu menampilkan sesuatu hal yang unik, nyeleneh, melanggar batas-batas, apalagi yang bersifat sensual dan vulgar, karena semua itu cukup menarik efektif menarik perhatian pemirsa.

Di sisi lain, sinetron seolah menjadi sahabat remaja, yang tengah mencari identitas, lepas dari standar orang tua yang memusingkan. Bahwa remaja seolah memiliki gayanya sendiri yang cenderung progress dari apa diajarkan orang tua, dan simpel. Karena menjadi remaja yang trand, cukup mengetahui cara berpakaian stylist, menata rambut dengan model tertentu, percintaan yang lebih terbuka. Sekaligus sinetron selalu memenangkan percintaan remaja di hadapan orang tua. Karena larangan pacaran atau segala bentuk pembatasan orang tua adalah bentuk kekolotan dan melawannya adalah bentuk perjuangan sebuah kemajuan.

Yang pasti bahwa apa yang dimunculkan dalam sinetron adalah sebuah realitas imajiner. Jika dulu tidak wajar anak sekolah menggunakan baju seragam yang ketat, dibiarkan keluar, atau yang gadisnya mengenakan rok mini. Namun apa yang ditonjolkan sinetron, anak sekolah yang mengenakan baju acak-acakan, rambut ditata secara trandy dan semua itu awalnya hanya ada di dunia sinetron dan tidak di dunia nyata.

Namun apa yang terjadi saat ini, bahwa tidak lagi sulit menjumpai remaja yang telah menyesuaikan gaya hidupnya dengan apa yang ia saksikan di televisi. Demikian halnya remaja yang menahan tangan guru ketika hendak ditampar, atau berciuman di taman sekolah, anak SMP yang membawa mobil mewah, semuanya itu pada awalnya hanya ada di dunia sinetron. Namun remaja di dunia nyata secara berangsur-angsur tapi pasti mulai mewujudkannya dalam kehidupannya.

Maka saat ini kita harus menyaksikan berbagi fenomena perilaku destruktif remaja. Remaja yang konsumtif, karena ia tertarik untuk menyesuaikan penampilannya dengan artis di televisi. Remaja yang terjerumus pada perilaku seks bebas, karena ia tidak dapat membedakan antara cinta sejati dengan birahi karena sinetron juga menyamarkannya. Tindak kekerasan dan pemberontakan remaja terhadap orang tua maupun otoritas tertentu, juga tidak mustahil sebagai dampak dari apa yang ia lihat setiap hari di televisi.

Pembatasan Media
Bahwa televisi menjadi sahabat remaja, yang menghabiskan banyak waktunya di depan televisi. Sehingga tidak heran apa yang tayangkan di televisi secara langsung maupun tidak lansung mempengaruhi sikap dan sifat remaja. Sedangkan di sisi lain remaja memiliki daya kriris yang rendah dalam memandang apa yang ia saksikan.

Namun sineas, memilih untuk membuat sinteron dengan tema-tema demikian, dan stasiun televisi menayangkan sinetron seperti ini hanya untuk satu tujuan, yakni profit. Dan mereka tidak memiliki kepentingan terhadap dampak selanjutnya.

Secara etis tindakan demikian tidak dapat dibenarkan, namun kenyataannya, logika media massa adalah demikian. Oleh sebab itu, maka media massa dan para sineas perlu dibatasi daya kreatif dan keserakahannya dalam mengisi pundi-pundi keuntungannya. Bahwa kepetingan sineas atau stasiun swasta harus sesuai dengan kepentingan bangsa.

Sehingga pemerintah patut menetapkan kelompok umur yang dapat dijadikan sebagai konsumen sinetron-sinetron yang hanya bertujuan hedonis semata, dibatasi pada usia dimana seseorang dapat telah dapat menilai apa yang disaksikannya secara kritis. Sedangkan remaja disediakan film-film yang mendorong peningkatan rasa tanggung jawab terhadap masa depannya, pengetahuannya, dan bukan dijadikan objek sineteron atau iklan remaja yang disajikan secara murahan.

Media harus menjadi bagian dari konsensus nasional dalam menciptakan manusia Indonesia berkualitas di masa depan, sekaligus sebagai pembatas logika keuntungan ekonomi semata. Dan media harus memiliki tanggung jawab atas itu, melalui tayangan yang bermutu, bertujuan untuk penyebar ilmu pengetahun, serta memunculkan figur-figur yang dapat dijadikan contoh bagi remaja. Sehingga porsi iklan ataupun sinetron murahan yang ditujukan bagi anak remaja sama sekali hilang.

Apakah ini sebuah propaganda atau bentuk pembatasan kebebasan ekspresi seni? tentu tidak. Bahwa kondisi ini tidak berkaitan atau membatasi media dalam menyampaikan informasi untuk mengkoreksi kebijakan pemerintah. Hanya tujuannya membersihkan cerita imajiner yang dapat membentuk perilaku negatif pada remaja. Bahkan menurut saya sinetron cenderung menjadi sebuah propaganda massif, yang membentuk sikap-sikap tertentu pada remaja, konsumtif yang menguntungkan industri mode. Atau membuat remaja lebih terbuka terhadap hubungan romantis dan seks, pemberontakan terhadap otoritas, meskipun sikap sebaliknya lebih baik.

Namun saya juga pernah mendengar pendapat salah seorang artis (saya lupa namanya dan mungkin banyak juga orang berpikiran demikian) yang terdengar sok demokrasi. Untuk apa dibatasi, toh remaja juga dapat mencari hal-hal yang merusak di internet atau dari VCD bajakan?

Argumen ini cacat logika karena analog dengan pernyataan untuk apa melarang orang membunuh, toh dimana-mana banyak terjadi pembunuhan. Bahwa yang tidak baik tentunya tidak patut dilaksanakan, meskipun hal yang buruk tidak dapat dihindari sepenuhnya. Setidaknya media secara moral tidak terlibat dalam pengrusakan mental para remaja calon pemimpin bangsa.

Oleh sebab itu tidak ada alasan untuk terus membiarkan sinetron murahan menghiasi televisi lengkap dengan iklan-iklan yang tidak mendidik ditujukan bagi remaja. Kita harus melindungi anak-anak dari upaya proganda media, baik sadar maupun tidak sadar, untuk menjadi konsumtif dan berjiwa pemberontak. Salah satu solusi terbaik adalah dengan peraturan pembatasan atau pelarangan penayangan sinetron bertema percintaan atau iklan bertema pada remaja. Dan dengan penerapan yang tegas terhadap peraturan tersebut diharapkan pemeritah dapat secara berwibawa membatasi ambisi media atau sineas untuk mengeruk keuntungan secara tidak etis.

Sunday, 27 April 2008

BENCANA ALAM, PERUBAHAN PARADIGMA DAN KAUM PEREMPUAN


Terjadinya fenomena pasang di Jakarta, menyadarkan kita bahwa alam semakin tidak bersahabat. Air menggenangi beberapa lokasi di Jakarta Utara akibat laut pasang. Termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa yang perlahan-lahan ikut terendam. Ketinggian air mulai dari mata kaki hingga betis orang dewasa. Namun ancaman bahwa Jakarta secara perlahan akan tenggelam semakin jelas dari hasil penelitian ditemukan bahwa setiap tahun tercatat rata-rata permukaan air laut di Teluk Jakarta naik 0,8 milimeter. Konon timbulnya fenomena ini terkait dengan persoalan pemanasan global yang semakin memprihatinkan.

Bencana yang terjadi akhir-akhir ini tidak lepas dari arogansi manusia dalam berinteraksi dengan alam. Manusia seolah berhak mengeksploitasi alam tanpa batas dengan sebuah imajinasi bahwa manusia berkuasa atas alam. Manusia memandang dirinya lebih berharga dari spesies lain. Alam yang diam seolah menjadi entitas lemah yang mengabdi sepenuhnya bagi kepentingan manusia.

Namun kenyataan saat ini membuat pandangan bahwa alam ada bagi manusia harus dikoreksi. Alam memiliki hak merealisasikan dirinya menuju kesetimbangan. Bencana yang kita alami adalah reaksi alam mengukuhkan tingkat equlibriumnya, dimana keberadaan manusia adalah ibarat penyakit yang mengerogori bumi dan membuatnya sakit. Bahkan seorang profesor dari Universitar Texas mengatakan bahwa bumi akan lebih baik jika 90% dari populasi manusia binasa (David, 2006).

Menanggapi persoalan pemanasan global dan degradasi membutuhkan perubahan paradigma menyeluruh dalam berinteraksi dengan alam. Dari yang bersifat subordinasi atau paternalistik menjadi lebih bersifat maternalistik. Sifat paternalistik mengagungkan orientasi efisiensi, agresifitas, rasionalitas yang merendahkan dimensi intuitif dan spiritualisme. Sehingga alam dipandang semata-semata sebagai materi. Rasionalitas menjadikan alam materi bisu serta sebagai objek orientasi kepuasan manusia. Efisiensi menuntut proses eksploitasi cepat bagi kepentingan manusia dengan pengorbanan minimal yang mengsyaratkan matinya dimensi emosional dalam pengambil keputusan secara cepat.

Namun dari perspektif maternalistik setiap entitas demikian halnya alam memiliki makna inheren melampau keberadaannya sebuah wujud materi. Sehingga alam menjadi agung dan menciptakan rasa penghormatan melalui pandangan holistik. Bahwa alam bukan entitas diam, melainkan organisme bersuara namun raib oleh kesadaran manusia modern yang berinteraksi melalui investigasi scientifiknya.

Kualitas maternalistik, analog dengan kualitas interaksi antara seorang ibu dengan anaknya, terkait dengan beberapa kualitas yakni pemeliharaan, penuh cinta kasih, perhatian dan perlindungan. Melibatkan intuitisi dalam pengambilan keputusan yang ketepatannya hampir sama dengan pengambilan keputusan secara rasionalitas. Tidak melihat segala persoalan partikuler melainkan secara totalitas. Dimensi keterikatan emosionalitas pada interaksi maternalistik menciptakan sosok pribadi yang altruistik dan afirmasi diri.

Ketika interaksi maternalistik dijadikan dasar dalam berinteraksi maka alam menjelma menjadi sesuatu yang harus dipelihara. Alam tidak dipahami sebagai materi belaka melainkan entitas yang memiliki self-nya yang berhak merealisasikan dirinya. Relasi dengan alam dibangun atas dasar pemeliharaan dan pelestariaan serta kasih sayang. Alam memiliki makna inheren yang melebihi keberadaannya sebagai materi. Melalui kesadaran intuitif spirit alam dirasakan kehadiran melalui dimensi keagungan dan ketakberhinggaan yang berakhir pada keindahan.

Dalam mengatasi ancaman bencana dan degradasi lingkungan manusia belum didasarkan pada penghormatan terhadap alam. Penyelesaian persoalan kerusakan alam masih menganut etika anthroposentrisme dimana manusia diposisikan sebagai pusat alam semesta sehingga hanya manusia yg memiliki nilai, dan untuk kepentingan manusia peran ekosistem sekitarnya dikesampingkan, digantikan dengan etika baru yang berpegang pada sikap hormat, prinsip kepedulian dan no harm, arif, serta tanggung jawab kepada alam (Agus Prabowo dan Didy Wurjanto, 2007). Bahwa kerusakaan alam diyakni dapat diatasi melalui tindakan manipulasi dengan teknologi baru.

Namun perubahan paradigma ke arah maternalistik, mengsyaratkan perubahan prilaku terhadap alam. Solusinya degradasi lingkungan tidak harus berakhir pada solusi teknologi. Melainkan pada perubahan perilaku hidup manusia, misalnya dengan mengurangi konsumsi barang-barang yang menghasilkan polutan atau berdampak pada pengrusakan lingkungan. Dari berbagai fakta diketahui kebiasaan manusia makan lebih banyak tidak baik kondisi atmosfir (Kher, 2007).

Paradigma maternalistik dapat diwujudkan sebagai sebuah word view melalui pendidikan. Yakni pendidikan yang tidak hanya menempatkan rasionalitas dan orientasi efisinasi pada titik sentral melainkan juga memasukkan dimensi intuitif dan spiritualisme di dalamnya. Dimensi nurturing dalam pendidikan perlu ditanamkan secara mendalam, bahwa segala entitas di alam harus dihargai, dipelihara, dan dicintai karena memiliki nilai keberhargaan yang sama dengan umat manusia.

Hal lainnya yang juga penting dilakukan untuk melembagakan perpektif maternalistik adalah dengan melibatkan kaum perempuan lebih luas dalam membangun diskursus solutif, sebagai pemilik kualitas maternalistik. Wacana ecofeminisme harus diberikan ruang sentral. Intelektual perempuan layak diberi ruang lebih untuk menyuarakan perspektif mereka dalam memahami alam. Dengan harapan bahwa kaum perempuan mendapat tempat untuk menyuarakan pemahaman tentang alam dan memberikan pencerahan bagi seluruh umat manusia.

Thursday, 24 April 2008

PERSOALAN AHMADIYAH, KEBENARAN AGAMA DAN SPIRITUALISME


Akhir-akhir ini muncul polemik tentang apakah Ahmadiyah tetap dapat menjalankan aktivitasnya di Indonesia. FUI bersikeras menuntut pemerintah untuk mengeluarkan SK menyerukan bahwa Ahmadyah adalah aliran sesat. Dan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) pada Rabu (16/4) lalu telah mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah membubarkan segala kegiatan jamaah Ahmadiyah di Indonesia karena terbukti beberapa materi ajarannya menyimpang dari kaidah pokok agama Islam (Depkominfo).

Namun di sisi lain dalam wawancana di sebuah televisi swasta Adnan Buyung Nasution mengkhawatirkan (SCTV, 24 Maret 2008), bahwa dengan memformalkan pelarangan tersebut malah memberikan legitimiasi terhadap kelompok tertentu melakukan anarkisme terhadap kelompok Ahmadyah.

Pihak Ahmadyah juga menolak jika disebut sesaat. Mereka mengklaim sebagai Islam sejati karena juga menjalankan ibadah dan melaksanakan perayaan agama sebagaimana umat Islam ini lainnya.

Kenyataan Dibalik Fenomena Pelarangan
Namun hal apa yang sungguhnya tengah terjadi dibalik hiruk pikuk persoalan Ahmadiyah?

Pertama, kehadiran Ahmadyah mengambarkan bahwa masyarakat Indonesia tidak dapat dibekap dalam sebuah pemahaman agama yang bersifat dogmatisme dan patenalistik. Islam tidak lagi dipahami sebagaimana yang diajarkan oleh para pemimpin agama atau ulama. Melalui kemajuan media informasi dan komunikasi(intenet) serta pergaulan intenasional membuat masyarakat Indonesia dapat bersentuhan dengan pemikiran, atau ajaran Islam yang berbeda.

Hanya, para pemimpin agama atau ulama belum sepenuhnya menyadari hal ini. Umat Islam di Indonesia tetap dipandang masyarakat terbatas dan primordial yang pemahamannya akan Islam hanya berasal dari ulama atau pemimpin agama. Sehingga kemunculan aliran sesat adalah manifestasi penyimpangan pemahaman umat.

Kedua, manusia, sedemikian halnya umat Islam di Indonesia, membutuhkan orientasi hidup. Dan agama merupakan salah satu sumber orientasi kehidupan manusia. Orientasi hidup dalam hal ini mengacu pada konsepsi Enrich Fromm adalah cara individu berhubungan dengan dunia yang membentuk karakternya secara umum . Melalui orientasi hidup manusia membangun respon terhadap konflik yang terjadi dalam kehidupannya (http://en.wikipedia.org/).

Namun orientasi hidup dapat tereposisi ketika gagal mengatasi atau memaknai setiap tantangan hidup yang dihadapinya. Orientasi hidup bertahan, tumbuh berkembang sejalan dengan kontekstualisasi sejarah.

Saat ini masyarakat Indonesia tengah dibebani berbagai masalah sosial. Harga-harga bahan makan melonjak, kehidupan semakin susah, bencana alam terjadi tanpa henti, eksploitasi diantara manusia terjadi dimana-mana. Pemerintah sering berlaku kejam dengan masyarakat kecil, dimana akhir-akhir ini marak terjadi pengusuran pedagang kaki kecil dan pembersihan para gelandangan. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat kehilangan harapan menatap masa depan kehidupannya. Dan dalam situasi kehidupan umat yang memprihatinkan, apakah Islam dengan ajarannya yang benar dapat memberikan orientasi hidup sebagai pegangan bagi masyarakat yang menghadapi tekanan sosial secara bertubi-tubi?

Mudahnya sejumlah kelompok masyarakat Indonesia mengikuti ajaran yang dianggap sesaat, meskipun sejak kecil terdidik menurut ajaran yang benar, barangkali manifestasi keberadaan agama mainstreim beserta ajarannya yang benar tidak lagi bermakna bagi mereka. Mungkin Agama mainstreim terlalu sibuk menegakkan dogma dan membela eksistensinya seolah tengah membela kebenaran Tuhan, namun ada sejumlah umat yang merasa terlupakan. Agama mainstreim berjuang tanpa lelah menilai kesalahan atau mengatasi ancaman dari pihak lain, namun lupa jika umat tengah menghadapi tekanan hidup, termarginalkan secara sosial, mengalami luka-luka batin. Bukankah dalam hal ini agama seharusnya berfungsi menyembuhkan kemelut hati umat?

Ketiga, agama mainsteim tengah mengalami kegalauan atau ketakutan yang tidak beralasan terhadap ancaman dari luar. Umat didorong menutup diri terhadap pengaruh dari luar dengan mengangkat musuh-musuh abstrak/imajiner seperti kaum pluralis, kaum misionaris, dsb. Para pemimpin agama mainstreim seolah kehilangan kepercayaan diri menghadapi kehadiran berbagai ajaran yang berbeda. Sehingga jalan paling aman membuat umat memusuhi segala sesuatu yang dianggap berbeda. Atau dengan melakukan kekerasan serta intimadasi terhadap kelompok-kelompok yang dianggap mengancam keberadaan eksistensi agama mainstreim untuk mengamankan diri.

Sesungguhnya kecemasan ini menurut hemat saya terlalu berlebihan. Bukankah selama kehadiran agama mainstreim mampu membawa umat pada pengalaman spiritual yang mendatangkan kedamaian batin, akan sangat kecil kemungkinan umat tertarik dengan ajaran-ajaran atau agama lain.

Sikap yang Seharusnya Dilakukan
Oleh sebab itu bagaimanakah seharusnya menyikapi kehadiran Ahmadiyah?

Pertama, ini adalah saat untuk bercermin. Melakukan evaluasi diri akan lebih bermanfaat daripada melakukan kekerasan atau intimidasi terhadap mereka yang berbeda. Mungkin kehadiran agama mainstreim tidak lagi menyentuh kehidupan umat. Tidak lagi menjadi tepat teduh, melainkan institusi otoriter yang semata-mata berfungsi menetapkan benar salah perilaku umat. Melalui evaluasi diri agama mainstreim dapat merubah diri khususnya dalam berhubungan dengan umat.

Kedua, membina dialog dengan mereka yang berbeda. Sejarah membuktikan represi tidak dapat sepenuhnya menghancurkan kehadiran sebuah keyakinan. Bukankah Islam juga lahir ditengah-tengah tekanan dari kaum kafir? Demikian agama besar seperti Kristen?

Tindakan represi seringkali menciptakan kelompok yang semula sesat menjadi kelompok yang tertindas dan mendapatkan simpati dari masyarakat luas. Khususnya masyarakat yang juga tengah tertindas oleh kekuasaan yang lalim. Sehingga represi seringkali menjadi tindakan kontraproduktif.

Namun melalui dialog dapat para pemimpin agama mainsteim dapat memahami mengapa eks-umatnya memilih untuk menyebrang kepada ajaran yang sesat. Mungkin saja mereka mengalami pengalaman religius, meraih ketentraman hati, mendapatkan dukungan sosial yang nyata dari kelompok sesat tersebut. Sesuatu yang sebelumnya tidak diperoleh pada agama mainstreim.

Ketiga, para pemimpin agama mainstreim harus menyadari bahwa pluritas adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari sebagai dampak pergaulan hidup masyarakat yang semakin menglobal. Agama mainstreim tidak saja akan menghadapi kemunculan berbagai ajaran yang menyimpang namun juga tumbuh suburnya pandangan ateistik. Pandangan tersebut dapat merasuki pikiran umat secara masif tanpa terekspresikan dalam sebuah organisasi formal. Tidak ada cara yang paling tepat menghadapi tantangan tersebut selain berupaya untuk memberikan manfaat bagi umat. Sehingga umat tetap teguh pada keyakinan yang benar.

Namun pada akhirnya eksistensi kebenaran agama tidak ditentukan oleh berapa banyak umat yang tercakup di dalamnya. Agama hadir buat manusia, bukan sebaliknya. Agama menjadi mediasi agar manusia dapat bertemu secara pribadi dengan khaliknya. Dogma tidak menjamin seseorang mampu memperoleh pengalaman spiritual. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam pencarian terhadap Tuhan, bahkan tanpa memandang apakah ia seorang pemimpin agama atau umat biasa. Kebenaran agama dibuktikan secara personal dan tidak secara kolektif. Agama yang benar adalah agama yang mampu menjaring makna kehidupan yang berpuncak pada pengalaman spiritual, dengan mengalami kehadiran sang pencipta pada kesadaran batiniah.

Oleh sebab itu polemik tentang eksistensi Ahmadyah tidak perlu terjadi jika semua pihak menyadari bahwa kebenaran agama terletak pada fungsinya bagi kehidupan umat. Dan tidak diidentikkan dengan kebenaran dogma atau ibadah.