Sunday, 27 July 2008

PRINSIP YANG DIANUT PARA PENGENDARA KENDARAAN BERMOTOR DI INDONESIA


Saya sering pusing ketika harus membawa mobil di Jakarta. Bagaimana tidak, ulah para pengguna jalan seringkali mengakibatkan mengendara mobil menjadi pekerjaan yang paling mendebarkan. Mata saya harus awas karena bisa saja motor menyalib tiba-tiba dari sebelah kiri, atau metro mini yang memotong dan kemudian memaksa untuk diberi ruang untuk masuk. Intinya membawa mobil di Jakarta bikin pusing dan stress.

Namun kesembrautan jalan raya tidak hanya terjadi di Jakarta namun juga di kota-kota lain di Indonesia. Ketidaktertiban para pengguna jalan mengakibatkan angka kecelakaan di Indonesia relatif tinggi. Konon setiap 30 menit satu orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas di Indonesia dan setiap satu jam ada yang terluka parah karena kecelakaan (BBC Indonesia, 2008).

Dan perilaku yang terpuji para pengguna jalan turut dipengaruhi prinsip-prinsip yang dianut oleh para pengguna kendaraan. Berdasar apa yang saya amati terhadap para pengguna kendaraan bermotor di Jakarta maupun di kota lain di Indonesia, ada beberapa prinsip utama yang dianut oleh para penguna kendaraan di Indonesia, yakni:

Jangan ada ruang kosong, bos!. Prinsip pertama yang sering dianut pada pengendara kendaraan di Indonesia jangan ada ruang kosong. Rasanya kurang indah jika di jalan raya ada celah di antara mobil yang tidak dimanfaatkan. Kalau ada, ya, sebet aja bleh.

Kalau macet setiap bagian yang tidak terisi kendaraan motor harus diserobot biar full. Termasuk juga trotoar, jalur kanan, taman kota, areal pom bensin atau areal kosong non-jalan yang bisa dilalui biar dapat terus bergerak.

Jadi tidak usah heran jika metromini sering nyelonong memaksa masuk jalur orang lain sambil mengedip-ngedipkan lampu panjangnya, memaksa kendaraan di jalur yang benar untuk minggir. Atau motor yang berseliwiran masuk ke jalan pejalan kaki yang membuat pejalan kaki ekstra hati-hati. Mungkin menurut aturan lalu lintas itu salah tapi bagi para pengguna jalan ini adalah “hukun alam”.

Jalan hanya milik saya dan..................saya. Di Indonesia, barang atau fasilitas publik sering diartikan bahwa barang ini adalah milik gw dan saya boleh pakai, dong. Namun tentunya bukan berarti boleh dipakai seenaknya, seperti para pengguna telepon umum yang sering kali menggunakan seenak hati. Sampai teleponnya rusak dan akhirnya“kacian deh lo!”, kata seorang teman yang gemas dengan orang-orang yang suka membanting gangga telepon. Karena tidak ada lagi yang berhak menggunakan telepon umum lagi karena teleponnya sudah rusak.

Begitu juga pada pengguna jalan. Sang pengguna jalan sering merasa bahwa hanya dialah sedang menggunakan jalan. Jadi karena jalan ini miliknya maka ia berhak, dong, melakukan apa saja di jalan, termasuk ugal-ugalan di jalan, tidak pake helm dan termasuk naik kendaraan tanpa lampu di malam hari. “Kalau orang merasa tengganggu oleh karena perilakuku, yah, itu bukan urusanku”, kata seorang teman yang selalu membawa motornya tanpa dilengkapi lampu, spion dan asap knalpotnya ngepul kayak asap penjual sate madura.

Saya pembalap bukan orang depresi. Banyak pengguna kendaraan yang bangga kalau dibilang bawa mobil kayak pembalap. “ Wah, saya biasa tuh bawa mobil dari Bogor ke Jakarta cuma 15 menit” kata seorang teman. “Saya tidak nyaman kalau bawa mobil di tol kecepatannya hanya 100 km/jam maunya sih 150-an gitu”, kata seorang supir taksi.

Anehnya meskipun banyak orang Indonesia bangga disebut pembalap tapi tidak banyak orang Indonesia yang menjadi pembalap beneran seperti Ananda Mikola.

Atau jangan-jangan orang Indonesia sebenarnya bukan terobsesi jadi pembalap karena untuk apa uji nyali dengan melewati kendaraan orang lain yang tidak berniat berlomba. Kenapa tidak disirkuit, berlomba dengan orang lain yang juga nafsu berkejar-kejaran dengan kendaraan bermotor.

Barangkali banyak orang Indonesia yang sesungguhnya sudah terkena depresi berat. Alias punya keinginan cepat-cepat mengakhiri hidup, karena syukur-syukur kalau tabrakan, niat untuk koit tercapai, sudah itu dapat santunan pula dari jasaraharja.

Time is money.
Kalau kita melihat orang membawa mobil di jalan tol pastilah kita beranggapan bawah orang Indonesia sangat menghargai waktu dan tentunya orang yang sangat produktif. Mobil dilajukan sangat kencang dan terlihat seperti orang yang tidak sabaran.

Tapi ups, itu belum tentu benar. Kalau orang Indonesia menghargai waktu dan pekejar keras, sudah dari dulu negara ini lepas dari krisis karena masyarakatnya gila kerja.

Namun banyak orang membawa mobil tergesa-gesa bukanlah karena ingin mengejar sesuatu yang produktif. Melainkan ingin segera menyediakan waktu untuk tidur atau membuang-buang waktu untuk hal yang tak perlu. Buktinya saya banyak mengenal orang yang membawa mobil kayak orang kesetanan tapi urusan kerja tidak secepat atau seefektif ia membawa mobil.

Karena seorang yang berpikir ekononis produktif sesungguhnya menyadari bahwa tidak hanya waktu yang layak disebut sebagai capital namun juga, dan yang paling berharga, adalah nyawa.

Saya pintar kamu bodoh. Kebiasaan aneh orang Indonesia adalah suka ngumpati orang yang melakukan kesalahan ketika membawa kendaraan. “ Bodoh kami!”. “Tolol kamu”.

Apakah ini berarti kebanyakan orang Indonesia mahir membawa mobil?

Tidak juga, buktinya masih banyak kecelakaan yang terjadi di Indonesia. Dan lebih anehnya sering kali seorang pengendara kesal kalau ada pengedara yang lain berhenti di sembaran tempat, belok tidak menggunakan lampu sign. Tapi kalau jujur sama jujur apakah benar orang itu juga tidak pernah melakukan hal yang sama.

Seperti halnya seorang supir angkotan jurusan Cibinong-Kampung Rambutan yang selalu membunyi klekson tanpa henti dan buat telinga pekak setiap ada angkot lainnya berhenti sembarangan tempat. Ia kadang sambil teriak marah-marah kepada pengemudi angkot di depannya yang berhenti sembarangan. Namun anehnya, begitu angkot di depannya tersebut pergi, eh, malah ia yang kemudian berhenti sembarangan di tempat yang sama.

Tapi itu tadi, karena setiap pengguna kendaraan merasa paling pintar maka iapun berhak mengumpati orang lain dan juga berhak juga melanggar aturan.

Di atas merupakan prinsip para pengguna jalan yang sering kali tidak irasional. Dan dampaknya jelas, yakni mengakibatkan kesemrautan lalu lintas , kemacetan dan kecelakaan.

Selagi orang Indonesia tidak belajar menganggap membawa kendaraan bertujuan memudahkan dirinya untuk mencapai suatu tempat dengan nyaman dan selamat. Dan bukan ajang melakukan gambling dengan nyawa atau pamer kehebatan di tempat yang tidak tepat. Maka jalan raya di Indonesia akan tetap sangar bagi setiap pengendara kendaraan bermotor dan layak dijadikan tempat untuk uji nyali.

No comments: