Friday, 15 February 2008

WAKTU DAN KEKASIH TERCINTA


Saat ini tepat jam 5 sore dan aku sedang menunggu Bb pulang kerja. Biar waktu tidak terasa berlalu, karena ia baru pulang pukul jam 10 malam, jadi ku putuskan main internet di warnet yang tidak jauh dari tempat kerjanya.

Meskipun proses searching begitu lambat, tidak banyak situs yang bisa dibuka, entah kenapa, tidak sedikitpun rasa jemu jenuh, bosan, bt, dsb untuk menunggu Bb pulang. Bahkan tidak terasa, aku sudah  menunggunya selama 3 jam. Dan ini berbeda saat aku janjian dengan kawan di pol Lorena Lebak Bulus sewaktu akan bersama-sama berangkat ke luar kota. Meski baru menunggu 15 menit namun rasa bosan sudah diubun-ubun, dan perasaan jengkel serta dongkolpun merasukiku.

Aneh juga? Kok, menunggu kawan, meskipun cuma 15 menit, terasa begitu lama dan menjemukan sedangkan menunggu kekasih berjam-jam tidak terasa lama dan menjemukan. Meskipun secara objektif waktu lima belas menit hanya memerlukan tiga loncatan jarum jam panjang sedangkan waktu selama berjam-jam memerlukan putaran lingkaran penuh jarum jam panjang.


Konsep Waktu
Mungkin fenomena itu dapat dijelaskan demikian. Menurut Heiddegard dalam kehidupan keseharian, kesadaran manusia terhadap sesuatu di luar dirinya cenderung bersifat subjektif  yang melibatkan aspek emosional dan kebebasan di dalam memberikan makna terhadap pengalamannya. Namun melalui subjektifitas tersebut, menurut Heiddegard, manusia menjadi autentik. Ia dapat mengekspresikan sisi kemanusiaannya.

Jika kita melihat sebuah daun, jarang sekali kita memikirkannya dalam wujud substansi biologis, yang disusun atas ribuan sel-sel dan memiliki klorofil. Melainkan semata-mata sebuah benda berwarna hijau yang tampak menarik dan menyenangkan hati. Dan saat berhubungan dengan rasa suka atau tidak suka, maka pengalaman tersebut akan berbeda pada masing-masing orang. Meski secara objektif semua orang mengakui bahwa daun adalah bagian tanaman tempat proses fotosintesis berlangsung.

Demikian halnya dengan waktu, aku memikirkan waktu, mengamati jam atau merasakan sebuah durasi saat aku tengah menantikan sesuatu. Namun bagimana aku merasakan dan memaknainya akan sangat ditentukan oleh konteks, terkait dengan wujud sebuah penantian?

Jika yang dinantikan sesuatu yang istimewa, maka pergerakan waktu tidak terasa menjemukan. Setiap detik dimaknai sebagai saat-saat mendekati peristiwa yang menyenangkan. Namun jika yang dinantikan adalah hal yang sebaliknya, maka detik-detik menjadi sebuah pembuangan waktu sia-sia.

Seperti halnya Pak Bono, seorang manajer Perusahaan rokok, yang tengah menunggu Haris, bawahannya, yang akan menemuinya pada sebuah cafĂ©. Jika Haris tidak muncul tepat waktu, maka Pak Bono akan merasa dongkol dan bersiap-siap memarahi bawahan sambil berkata, "Kamu membuang-buang waktu saja”.

Dalam membangun relasi bisnis penghargaan waktu sangat ditekankan. Komitmen terhadap waktu pertemuan menjadi indikasi keseriusan dalam berbisnis. Namun dalam hubungan kekeluargaan aturan demikian tidak berlaku, waktu dapat begitu saja diboroskan dan toleransi terhadap ketidaktepatan waktu sangat tinggi.

Menanti sesuatu yang Istimewa
Seperti halnya dalam menjalani kehidupan, kesadaran kita akan waktu juga ditentukan oleh bagaimana kita memaknainya. Saat seseorang merasa bahagia, waktu seolah berlalu begitu cepat. Meskipun waktu objektif berjalan dalam intensitas yang sama namun mereka yang menikmati hidup senantiasa berharap memiliki waktu tambahan bagi hidupnya. Tapi sebaliknya, orang yang selalu merasa sengsara, akan mengharapkan gerak waktu dapat dipercepat. Agar segala caruk-maruk persoalan dapat cepat berlalu. Jika tidak juga berlalu dan permasalahan semakin membuat frustasi maka menghentikan waktu akhirnya menjadi pilihan bagi sejumlah orang, yakni dengan jalan mengakhiri hidup

Oleh sebab itu mengapa aku tetap sabar menunggu dan detik demi detik kulalui dengan senang hati, tidak lain karena aku tengah menunggu seorang yang istimewa. Tidak terasa menjemukan meskipun harus menunggu selama 3 jam karena sesaat lagi ia akan memanggil, “Sudah lama menunggu, sayang?”, yang terdengar renyah dan menyejuk hatiku. Setidaknya hal tersebut membuatku menyadari bahwa waktu subjektifku tidak lepas dengan apa yang kunantikan akan hadir. Menyenangkankah atau tidak?

Meski waktu objektif memiliki durasi yang sama namun perasaanku terhadap waktu dapat berbeda tergantung pengharapanku terhadap apa yang akan hadir, karena sesungguhnya setiap manusia, demikian halnya aku, memiliki sebuah ruang kebebasan untuk menciptakan horizon kehidupan di dalam kesadarannya, dimana ia menjadi hakim terhadap realitas yang dipersepsikannya dan menentukan maknanya dalam autentitasnya.

No comments: