Sunday, 20 April 2008

PEMBERIAN TAK TERBALASKAN DAN ENIGMA


Sebuah tindakan besar bagi kemanusiaan akan sangat terkait dengan aktivitas pemberian. Mustahil sebuah tindakan kemanusiaan terjadi tanpa kerelaan seseorang membagikan atau bahkan mengorbankan sesuatu yang ia miliki dan hargai kepada orang lain. Pemberian yang bernilai kemanusiaan mengandung unsur pengorbanan, karena kita harus memberikan sesuatu yang bernilai dan saat ada beribu alasan untuk tidak melakukan pemberian tersebut.

Nilai dari sebuah pekerjaan kemanusiaan tidak diukur dari indikator popularitas. Bahwa tindak-tanduk sosok ternama seperti Gandhi atau Martin Luhter Jr. yang telah memberikan inspirasi bagi kemanusian global tidak lebih bernilai dari sebuah tindakan kemanusiaan seorang pengemis yang menyisikan sedikit penghasilannya yang seharusnya untuk makan demi membiayai pengobatan rekannya sesama pengemis.

Dimanakan letak kebermaknaan sebuah pemberian itu? Letak kebesaran sebuah pemberian adalah pada cirinya yang tanpa timbal balik. Pemberian yang mengandung sebuah pengorbanan atau tindakan yang baik kemudian mendapatkan balasan berupa penghormatan atau popularitas adalah hal biasa. Tapi menjadi sulit jika pemberian dan perbuatan baik itu sepenuhnya terbebas dari sebuah aksi timbal balik. Sangat sulit bagi seseorang yang melakukan sebuah tindakan baik tanpa menghilangkan jejak dirinya. Akan selalu ada yang ia peroleh dari tindakan baiknya apakah berupa penghargaan, pujiaan, pertolongan balasan.

Pemberian tulus atau seolah tanpa pamrih dapat bersifat semu ketika didasarkan harapkan akan sebuah pengakuan diri atau ego si pemberi. Mengharapkan agar orang lain mengindahkan keberadaan si pemberi. Saat pemberian terjadi maka si penerima akan menatap si pemberi dan menempatkan dirinya pada kesadarannya sebagai pribadi terhormat. Senyuman dan tatapan si penerima menjadi sebuah balasan yang bersifat imateril.

Rasanya sulit membayangkan sebuah pemberian, meskipun sangat dibutuhkan si penerima, berakhir pada penghinaan, perendahan atau pengindahan. Orang demikian cenderung akan dicemohkan dan dianggap tidak tahu sopan santun. Namun dalam kondisi demikianlah pemberian menjadi sempurna. Saat si pemberi terlupakan dan raib dibalik segala kebaikannya.

Pemberian terbalaskan dapat disamakan dengan sebuah aktivitas transaksi. Pemberian bantuan dengan harapan sebuah balasan, analog dengan penawarkan sebuah barang untuk mendapatkan uang. Pemberian demikian bersifat transaksional. Pemberian sedemikian hanya bersifat temporer. Ketika balasan diberikan maka aksi reaksi akan berhenti dengan sendirinya.

Saat si pemberi raib atau menolak sebuah pembalasan, pemberian itu tidak berkesudahan sehingga si penerima tidak mampu membalaskannya. Si pemberi menempatkan pemberian sebagai tujuan. Mengasihi dan menolong musuh adalah contoh pemberian yang sempurna, ketika si pemberi tidak saja sulit membalas dengan hal positif karena terdistoris oleh kebenciannya namun juga akan membawa si pemberi pada ancaman dari si musuh.

Pemberian yang sejati akan menjadi sebuah enigma. Layaknya sebuah benih yang ditanam dan menumbuhkan tanaman yang bakal menghasilkan biji yang melimpah. Ketika pemberian tidak terbalaskan pada si pemberi maka si penerima akan membalaskannya tanpa arah dan tanpa batas. Maka pemberiaan itu tidak saja menjadi metapersonal namun juga metahistoris dan terus hidup pada generasi demi generasi menjadi sebuah prasasti yang abadi.

Wednesday, 16 April 2008

BINCANG-BINCANG, ISTRI SIMPANAN BULE DAN KISAH SERAM


Si supir taksi bertubuh tambun dan kalau dilihat dari samping terlihat agak sangar dan membuatku sempat beranggapan buruk dengan si supir taksi. Kami naik taksi dari Tebet (dari rumah kakak Desi) ke Cilandak, mengantar Bb (sekarang istriku), setelah itu lanjut ke Kelapa Dua. Entah kenapa, aku sempat berpikir untuk turun di Cilandak dengan Bb kemudian naik taksi lain melanjutkan perjalanan sampai ke kelapa dua. Tapi setelah sampai di Cilandak aku mengurungkan niatku. Setelah Bb turun, aku melanjutkan perjalanan.

Suasana sempat hening hingga kami sampai disimpang Ragunan dimana si supir gendut kemudian menanyakan, apakah akan lewat Ciganjur atau Jagakarsa. Dan aku menyarankan lewat Jagakarsa tapi karena kulihat raut wajahnya sedikit kurang yakin. Maka kemudian aku menanyakan apakah dia paham lewat jalan tersebut.

”Wah, pak, kurang yakin saya”, jawabnya demikian.

”Ya, sudah lewat jalan yang Bapak ngerti saja”, kataku kemudian.

” Kita lewat Ciganjur saja, ya, pak, karena saya biasa mengantarkan penumpang langganan saya lewat situ, terus lewat PPD, nanti tembusnya ke daerah Pancasila”, katanya.

” Oh, sering ke situ, ya?

”Ya, saya sering ngantar orang bule, di situ banyak istri simpanan bule-bule”
jawabnya.

” Banyak orang bule yang punya istri simpanan di situ?”, tanyaku.

“ Banyak, mas! setiap mau kemari mereka selalu minta saya untuk mengantar”.

Kisah tentang istri simpanan menjadi kisah yang menggugah rasa ingin tahuku dan menghidupkan pembicaraan di antara kami. Karena aku tertarik mendengar lebih lagi tentang istri simpanan bule-bule itu.

Iapun menceritakan lagi tentang istri simpanan bule. Dan orang-orang asing yang biasa ia antar adalah orang Belanda, orang Belgia, Australia dan Filipina, semuanya bekerja di kedutaan.

Namun saat aku menanyakan apakah istri simpanan si bule-bule cakep-cakep. Tiba-tiba saja tubuh tambunnya bergetar dan kemudian terdengar suara cekikikan.

“Waduh, mas, kalau saya ditawarain, mau aja asal mata saya dimeremi”

“Lho, kenapa?”
, tanyaku

Wah, orang wajahnya satu tingkat di bawah pembokatku”.

“ Tapi ko, si bule mau?”, tanyaku kemudian.

“ Ya, begitu mas, karena si bule lebih suka cari cewek yang kulitnya agak sawo matang, kalau yang putih, mah, di negaranya banyak. Cari yang jelek biar nggak macam-macam kali, kalau cantikkan, jangan-jangan sering dipake orang. Tapi memang mereka itu nggak cari cantik tapi pelayanannya, biar jelek tapi di suruh “maen” gaya apapun mau”.

Mendengar cerita si supir taksi itu aku menjadi tersenyum geli. Sambil berguman dalam hati, “ Namanya cowok, untuk urusan yang satu itu agak sulit dikontrol, kalau tidak terpuaskan bikin kepala puyeng”.

Dan pembicaraan kami terus mengalir. Sampai kemudian aku bertanya tentang pengalaman ekstrim yang pernah dialaminya selama membawa taksi.

“ Waduh, banyak mas, apalagi kita kan sering dapat bagian malam. Kadang dapat penumpang yang mabuk, atau perek dengan pasangan kencannya. Kalau yang mabuk, asal tidak menyusahkan tetap saya antar ke tujuan, tapi kalau rada-rada resek, saya turunin aja, daripada saya yang susah. Dan untuk yang lagi kencan, pernah ada kejadian, si laki-laki gelagatnya mulai makin aneh, dan mesra-mesraannya dengan si perek semakin hot dan arah-arahnya udah mulai lepas kontrol. Desahan mereka udah seperti mau bersetubuh. Karena merasa nggak nyaman, taksi saya stop, mereka saya turunkan. Mereka sempat protes. Saya bilang aja, kalau mau gituan di hotel aja”, demikian ia ceritakan.

Kemudian aku menanyakan pengalamannya yang lain. Iapun menceritakan pengalamannya membawa penumpang stress dan sedikit kurang waras.

” Ada juga mas, seorang pria, naik dari kalibata dan minta di antar ke rumahnya di daerah Jakarta Pusat, tapi sebelumnya, ia minta dibawa dulu ke Bogor, balik ke Jakarta dan mutar-mutar di Jakarta. Pertama saya ragu, benar gak permintaan si penumpang ini, jangan-jangan nanti nggak dibayar, atau malah mau bertindak jahat. Begitu saya meyakinkan lagi soal permintaan mutar-mutar itu. Malah dia marah, dia bilang, apa Bapak tidak percaya, saya anak dokter RS Cipto dan uang saya banyak, sambil dia menunjukkan tumpukan uang 100 ribuan di dompetnya. Karena saya jadi sedikit yakin maka sayapun menuruti permintaan si penumpang aneh. Dan kami menghabiskan waktu sore sampai malam keliling Bogor dan Jakarta, sampai argo mati karena sudah melewati limit Rp 600.000,-. Akhirnya saya mengantarkan ke rumahnya dimana orang tuanya sudah menunggu dan kemudian malah minta maaf pada saya. Maaf ya, pak, kata ayahnya, anak saya agak stress, jadi agak menyusahkan Bapak. Enggak ko, jawabku mesem-mesem. Dan hari itu aku mendapatkan Rp 900.000, wah itu sama saja dengan setoran untuk seminggu. Untung saja dia bukan orang jahat, tapi orang stress, dan orang stress yang baik”.

Namun pengalaman yang paling ekstrim, menurutnya adalah pas tanpa sadar membawa mayat dari rumah sakit di kebun jeruk tengah malam. Demikian ia ceritakan

Waktu itu saya akan menaikkan penumpang dari rumah sakit malam dini hari sekitar jam 12-an menjelang jam satuan, mereka bertiga, satu cewek dua cowok tapi salah satu dari mereka di tuntun, seperti orang tidur. Saya tidak punya pikiran apapun pas waktu itu. Si cewek duduk di depan dan dua orang cowok duduk di belakang. Selama perjalanan saya sering memperhatikan penumpang yang tertidur itu dari spion, dia dipakaikan topi dan kaca mata hitam. Kok, tidak bergerak sama sekali, kalau ada lonjakan tubuhnya bergoncang tapi tidak ada respon, atau terbangunlah setidaknya. Dan selalu setiap tubuhnya tergeser kawannya yang satu lagi mengatur kembali posisi badannya. Tapi saya semakin curiga ketika si cewek yang duduk disebelah saya, selalu meneteskan air mata, dan sesekali menangis agak hebat yang membuat konsentrasi saya agak terganggu. Dan sebuah lonjakan yang agak keras membuat tubuh cowok aneh itu terjatuh dan plok, jatuh begitu saja sampai badannya terselonjor ke depan, dan temannya dengan segera dan terlihat agak panik segera menarik badannnya kembali. Dan tangis si cewek semakin keras melihat sosok tubuh si cowok aneh tiba-tiba muncul disebelahnya. Saya merasa ada yang aneh, dan saya menghentikan taksi dan minta konfirmasi. Saya bilang, sebenarnya ini ada apa? Maaf, pak, jawab mereka, sebenarnya saudara kami ini sudah meninggal. Wah, bapak cari masalah sama saya, gimana nanti kalau ada polisi, saya bisa ditangkap karena membawa mayat, jawab saya. Bagaimana, ya, pak, kalau kami pakai ambulan kami harus bayar 2 juta sedangkan kami hanya ada duit 800 ribu kata si cewek di depan, kata mereka. Tolonglah kami pak, kami hanya pedagang kecil, masa Bapak tega meninggalkan kami di jalan. Akhirnya karena nggak tegaan akhirnya saya antar mereka, pas mereka bayar, saya kasih sedikit uang sebagai bantuan buat mereka. Tapi sejak saat itu saya tidak lagi mau narik tengah malam, agak trauma”.

Luar biasa pengalaman si supir taksi, melalui pekerjaannya menbawa taksi setiap hari, ia bisa mendapat pengalaman yang jarang di alami orang-orang kebanyakan. Membawa orang bule dengan istri simpanannya, mengantar orang stress keliling-keliling Bogor-Jakarta sampai membawa orang mati. Ia juga pernah sempat tanpa sadar membawa penumpang seorang gembong pengedar ekstasi. Setelah mengantar si penumpang dan sesaat sehabis meninggalkan gang rumahnya, tidak lama kemudian terdengar suara tembakan. Awalnya tidak menyadari kejadian apa itu, tapi setelah melihat berita televisi, baru ia sadari bahwa penumpangnya itu adalah seorang gembong narkoba dan mengalami penyergapan oleh polisi malam itu dan sempat terjadi melakukan perlawanan, sehingga terjadi baku tembak tapi akhirnya ia bisa dilumpuhkan. Dan ia bisa melihat wajahnya si penjahat diperlihatkan pada acara tersebut dan tentu ia mengenalinya.

Setelah lama asik ngobrol dengan si supir taksi, akhirnya akupun sampai di depan rumah. Aku membayar argo dengan melebihkan sedikit, tips buat ceritanya yang menarik. Namun pengalaman berbincang-bincang dengan si supir taksi membuatku belajar banyak hal, yakni:

Pertama, kadang penilaianku terhadap seseorang pada awal tatap muka sering keliru. Aku sering menganggapan seseorang itu tidak baik atau kurang simpatik hanya karena wajahnya yang sangar atau kulitnya yang hitam. Dari pengalamanku bertemu dengan si supir taksi, wajah sangarnya ternyata tidak menunjukkan bahwa ia seorang yang tidak baik. Saat mulai berbicara dengannya aku menyadari bahwa ia adalah seseorang yang hangat, dan tidak punya niatan buruk. Artinya persepsi terhadap seseorang akan lebih akurat setelah mengalami sebuah interaksi interpersonal. Dan penilaian di awal pertemuan seringkali dipenuhi prasangka.

Kedua, pemahaman terhadap realitas akan semakin baik jika kita mengenal begitu banyak pengalaman baru. Pengetahuan tidak hanya didapat dari buku melainkan juga dari pengalaman. Apa yang kita peroleh dari buku adalah artikulasi atau hasil analisa seseorang terhadap pengalamannya yang terjadi di masa lalu namun apa yang kita peroleh dari peristiwa hari ini adalah sebuah pengalaman baru sekaligus dapat menjadi sumber pengetahuan baru. Seperti halnya si supir taksi melalui pengalamannya ia dapat mengetahui kecenderungan orang-orang asing di Indonesia yang suka cari simpanan dan preferensinya serta persepsinya terhadap wanita Indonesia, tidak dengan membaca buku kajian sosiologis melainkan dari pengalaman langsung.

Ketiga, pengalaman baru akan bisa diperoleh jika kita meluaskan cakrawala kehidupan kita. Bahwa setiap hari kita memperoleh pengalaman hidup namun karena kita menjalani kehidupan yang bersifat rutinitas maka agak sulit bagi kita memperoleh pengalaman yang unik. Si supir taksi oleh karena pekerjaan harus bertemu banyak orang berbeda setiap hari di berbagai tempat membuat dia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan pengalaman baru yang menarik atau pengalaman ekstrim, yang ketika dijalani membuat jantung bedegub, atau kebingungan atau ketakutan namun setelah berlalu menjadi sebuah pengalaman menarik untuk dikenang dan diceritakan. Seperti halnya aku yang antusias mendengarkan ceritanya yang tidak pernah terekam dalam memoriku.

Keempat, meskipun tidak pernah memperoleh kesempatan mengalami langsung pengalaman ekstrim namun kita dapat mendengarkannya dari cerita orang lain. Syaratnya adalah mau berbincang-bincang dengan siapa saja, menghargai setiap kisah yang diceritakan orang lain tanpa justifikasi, atau pikiran kritis. Orang yang kurang berpendidikan kadang cukup beruntung bisa menyaksikan pengalaman ekstrim yang dapat memacu hormon adrenalinnya dan mendapatkan kesenangan luar biasa. Dan kita bisa dapat memperoleh banyak hal dari padanya. Oleh sebab itu tidak ada salahnya untuk berbincang-bincang dengan siapa saja dan temukan pengalaman menarik yang memperluas wawasan dan pemahaman kita terhadap realitas kehidupan.

Tuesday, 15 April 2008

DAPATKAN PULSA GRATIS DENGAN MENGIRIMKAN KOMENTAR

Saya ingin berbagai keceriaan dengan anda.

Bagi rekan-rekan yang ingin mendapatkan pulsa gratis silahkan kirimkan komentar Anda untuk pertanyaan berikut.

Apakah Anda yakin Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar yang baru Ahmad Heryawan – Dede Yusuf (HADE) akan mampu menepati janjinya memberikan sekolah gratis buat Masyarakat Jawa Barat?

Apapun jawaban anda silahkan berikan argumen yang masuk akal. Silahkan mengirimkan komentar pada kotak pesan, via email hendra_has@yahoo.com atau via sms 081807109782 dengan menyebutkan nama dan no mobile anda.

Komentar terbaik akan mendapatkan pulsa 100.000 langsung saya kirimkan ke no yang Anda sampaikan.

Monday, 14 April 2008

HUMANISME DOSTOEVSKY


Mari kita sejenak berkhayal, memilki banyak uang kemudian menghabiskannya untuk menolong seorang pengemis? Atau mengorbankan hidup kita demi orang lain yang tidak pernah kita kenal sebelumnya dan tidak lebih dari seorang pemabuk? Barangkali zaman telah mengajarkan untuk melihat pengorbanan demikian sebagai sebuah ketololan.

Namun bukankah kita telah diajarkan tentang kasih (khususnya umat Kristen). Oleh karena itu apakah kasih? Dan bagaimana kiranya kasih itu dijalankan?. Sekiranya zaman ini senantiasa memarginalkan orang-orang yang dianggap tidak berfungsi secara sosial seperti pengemis, pemabuk dan gelandangan oleh karena itu manusia seperti apakah yang layak menjadi objek kasih dari manusia lainnya?

Disamping itu ketika humanisme merupakan suatu pandangan luhur yang diagung-agungkan manusia zaman ini, yang dipahami sebagai pertanggungjawaban penuh terhadap kemanusian, apakah itu mencakup semua manusia tanpa memandang klas, status, dsb? Atau hanya lebih ditujukan pada golongan tertentu yang lebih layak dianggap manusia?. Dan seperti apakah manusia yang dimaksud?.

Dostoevsky dan Persoalan Kemanusiaan
Barangkali Dostoyevskylah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Melalui karyanya, Dostoyevsky melakukan kontemplasi bagaimana humanisme harus dipahami, yang digambarkan melalui hubungan antar tokoh utama pada karyanya. Dostoyevski merupakan seorang pengarang novel dan cerita pendek pada abad ke-19 yang berasal dari Rusia, yang banyak mengangkat kisah penderitaan dan kemiskinan di kalangan masyarakat Rusia.

Barangkali dua karyanya yang berjudul “Orang-orang Malang” dan “Pencuri yang Jujur” merupakan refleksi dan cerminan kekayaan pemikirannya terhadap humanisme.

Orang-orang Malang (Poor Folk) merupakan novelnya pertamanya yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat Rusia. Novel ini berbentuk korespondensi surat-surat cinta antara Maker Devushkin, seorang pria setengah baya yang bekerja sebagai juru tulis di kantor pemerintahan dan Varenka, seorang gadis belasan tahun yang tidak lagi memiliki orang tua dan telah dinodai dengan sangat jahat oleh seorang pria kaya yang bernama Tn. Byakov. Dalam novel ini dikisahkan Maker Devushkin, didorong oleh cintanya yang begitu besar terhadap Varenka, mengorbankan seluruh kekayaannya untuk memenuhi kebutuhan sang gadis semata-mata agar sang gadis dapat hidup bahagia.

Sedangkan Pencuri yang Jujur (The Thief) merupakan cerita pendek yang mengisahkan hubungan yang begitu tulus antara Astafi, seorang pemuda yang dermawan dengan Emelian, seorang pria pemabuk yang suka mencuri.

Dan pesan apakah yang disampaikan oleh Dostoyevsky melalui kedua karyanya ini?.

Secara umum kedua kisah tersebut mengambarkan bentuk cinta dan keperdulian terhadap sesama yang ditunjukkan melalui pengorbanan yang sangat ekstrim. Sulit bagi kita untuk dapat memahami tindakan Maker Devushkin yang mengorbankan sebagian besar hartanya agar dapat membeli hadiah-hadiah bagi Varenka? Hingga kemudian Maker Devushkin terpaksa harus tinggal di kamar kos yang sempit dan menyiksa agar dapat menghemat uangnya dan sampai meminjam uang dari sahabatnya, yang pada akhirnya menimbulkan masalah baginya, semata-mata agar dapat memenuhi kebutuhan hidup Verenka. Maker Devushkin menyadari jikalau mereka mustahil untuk bersama; dan hal ini terbukti di akhir kisah dimana Varenka meninggalkannya untuk menikah dengan pria yang lain; namun tidak menyurutkan pengorbanannya untuk dapat membahagiakan Varenka.

Barangkali juga cukup aneh bagi kita melihat pengorbanan yang begitu besar yang dilakukan oleh Astafi terhadap Emelia yang hanya seorang pemabuk dan pencuri?. Astafi bahkan mengetahui bahwa Emelia mencuri mantelnya untuk membeli minuman keras namun ia tetap menerima Emelia untuk tinggal di rumahnya. Astafi berusaha untuk merubah kebiasaan mabuk-mabukan Emelia dan mendorongnya untuk bekerja namun tidak pernah berhasil. Tidak ada hal yang menguntungkan dari hubungannya dengan Emelia namun tidak juga menyurutkan pengorbanan Astafi untuk merawat Emelia dan berharap ia dapat meninggalkan kebiasaan buruknya. Barangkali hanya Astafilah yang menangisi kematian Emelia.

Dostoevsky dan Humanisme
Melalui kedua cerita itu Dostoyevsky mencoba mengambarkan bentuk hubungan antara manusia yang melampau batas-batas pemahaman rasionalitas. Humanisme yang melampaui batas nalar manusia. Tindakan-tindakan yang dalam pandangan manusia zaman ini lebih merupakan bentuk ketololan dari pada kearifan. Namun humanisme seperti inilah yang hendak ditawarkan oleh Dostoyevsky, menjadikan kemanusiaan di atas segala-galanya. Tiada kewajiban manusia yang bersifat aprioi selain bertanggung jawab terhadap kemanusiaan.

Dalam setiap diri manusia, tanpa memandang keberadaannya, mengandung tanggung jawab bagi orang lain. Manusia dalam ketelanjangannya sebagaimana konsepsi Levinas, mengandung kewajiban moral bagi manusia yang lain untuk bertangung jawab terhadap keberadaannya, yang tereksperikan melalui wajah. “Lihatlah wajah manusia maka engkau akan lihat kerentaan di dalamnya yang menimbulkan keibaan” ungkap Levinas.

Bagaimana mungkin? Bagi Dosteyevsky humanisme tidak dapat terpahami dalam tatanan nalar melainkan dalam tatanan intuisi. “Biarkanlah intuisimu berbicara tentang kemanusiaan”. “Berkorbanlah, lakukanlah sesuatu terhadap sesamamu maka engkau akan memahami arti dari kemanusiaan”.

Nalar dapat terjerumus pada pemahaman kuantitatif empiris dengan batas-batas ada sebagai dasar legitimasi. Sehingga manusia dikonsepsikan sebagai tubuh dengan atribut yang melekat sebagai sesuatu yang dapat dipersepsikan. Dalam batas-batas nalar, kriteria yang membuat manusia menjadi manusia, terjerat dalam batas kuantitatif seperti “seberapa pentingkah nilai dari seorang manusia?, cenderung diukur dari karya cipta/produktivitas yang dia hasilkan; seberapa bermartabatkah dia? cenderung diukur dari harta yang dia miliki.

Pemahaman demikianlah yang ditolak oleh Dostoyevsky. Emelian dalam pandangan masyarakat umum adalah sampah masyarakat yang sebaiknya disingkirkan, namun secara intutif Astafi mampu melihat keberhargaan Emelian sebagai seorang manusia, sehingga baginya menyelamatkan Emelian tidak sebuah ketololan melainkan sebuah kewajiban. Dan bagaimanakah bentuk penghargaan terhadap kemanusiaan itu diterapkan? adalah melalui pengorbanan, sebagaimana yang dilakukan oleh Makar Devuskhi yang mengorbankan segala-galanya demi kasihnya kepada Varenka.

Kristus dan Dostoevsky
Namun apakah mungkin bagi kita mewujudkan prinsip-prinsip kemanusian yang sedemikian ketika nalar kitalah yang selama ini berkuasa dalam menentukan keputusan yang tepat? Bukankah kapitalisme juga telah, tanpa sadar, menguasai batas-batas rasional kita dalam menafsirkan realitas. Bukankah manusia bernilai selama ia produktif dan mampu menyediakan hal-hal yang dibutuhkan oleh orang lain?. Atau bukankah manusia menjadi manusia selama ia mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan akumulasi kapital organisasi sosial?.

Bagaimana seandainya jika manusia menjadi tidak produktif, oleh Kafka dianalogkan sebagai seekor kecoak, apakah manusia akan tetap dihargai sebagaimana mestinya seperti halnya manusia yang produktif? Atau malah sebaliknya, mereka akan diusir dari tatanan sosial dan kematiannya tidak akan pernah diratapi melainkan diharapkan sebagaimana yang dialami oleh orang tua jompo, orang gila, penjahat, pengemis, pengamen dsb.

Yesus barangkali yang pertama mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia. “Doakan musuhmu, beri pipimu yang sebelah kanan jika engkau ditampar di pipi sebelah kiri, jadikan sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, demikianlah yang diungkapkan oleh Yesus yang membuat orang-orang pada masanya tercengang,

Bagaimana mungkin?”. Tentu saja kesemua itu dilakukan melampaui batas nalar manusia yang cenderung bersifat Imperatif Kategoris, yakni suatu kewajiban moral yang harus dijalankan tanpa harus ditanyakan mengapa dan apa tujuannya. Namun Dostoyevskylah yang secara apik dapat menjelaskan prinsip kasih tersebut dalam realitas nyata dan konstruksi kehidupan sehari-hari di tengah-tengah hidup penuh penderitaan. “Jadikanlah setiap manusia sebagaimana manusia melalui pengorbananmu”, barangkali demikianlah yang dapat kita simpulkan daripadanya.

Itu pulalah pesan yang hendak disampaikan oleh Dostoyevsky tentang hubungan antara sesama manusia, yakni berbuatlah, berkorbanlah terhadap sesama manusia dan biarkanlah intuisi mengajarkanmu makna dari kemanusiaan.

Bahan Bacaan
1. Dostoevsky, F. "The Thief". The Online English Libarary (www.englishlibrary.org)
2. Dostoevsky, F. "Poor Folk". Short Story. The Literature Network (www.online-literature.com)

Sunday, 13 April 2008

BLOG SARKASME ALA MALAYSIA


Baru-baru ini saya mendapat email melalui milis yang mengecam munculnya blog asal Malaysia yang menghina Indonesia secara sarkasme. Si pemilik blog menyebut Indonesia sebagai negara terorisme, negara koruptor, negara tolol karena budayanya bisa dicuri pihak lain dan berulang kali menyebutkan Indonesia sebagai negara koeli karena rakyatnya sebagian besar hanya bisa bekerja kasar. Kasus penyiksaan terhadap TKI disebutkan sebagai ganjaran yang setimpal buat rakyat indon yang terbelakang, bodoh dan suka menyusahkan warga Malaysia. Dan slogan gayang Indonesia ala Soekarno diganti oleh si pemilik blog dengan gayang Indonesia. Email ini mendapat banyak tanggapan dari anggota milis lainnya. Tentunya sebagian besar respon mereka mengecam munculnya blog sempalan macam itu dan ada yang sampai menghina Malaysia dengan kata-kata yang tidak kalah kasarnya. Barangkali banyak anggota milis yang merasa identitas ke-Indonesianya direndahkan.

Seseorang yang matang pikirannya tentunya dapat dengan mudah menangkal hinaan sedemikian, dengan membuktikan bahwa “hinaan tersebut tidak benar”. “Tunjukkan buktinya, jika tidak itu hanya bualan”. Dan jika si penghina memiliki dasar maka yang terhina harus dapat membantahnya dengan sebuah argumen yang jernih atau menunjukkan bukti tandingan. Dan seandainya ternyata si penghina tidak mempunyai dasar maka tidak perlu diindahkan atau menganggap orang senewan yang tengah bereforia. Maka soal penghinaan terhadap Indonesia melalui blog asal Malaysia, dapat dibantah dengan ringan, dalam hati kita, bahwa semua itu tanpa dasar dan tidak usah diambil pusing atau jika demikian terganggu maka si pemilik blog dapat kita tuntut secara hukum (jika mungkin). Artinya kita bisa dengan mudah membantah pandangan bahwa Indonesia negara koruptor, dengan kata lain di Indonesia jarang terjadi korupsi, Indonesia negara terorisme, dengan kata lain Indonesia bebas dari tindakan terorisme, Indonesia negara yang tidak cinta budaya, dengan kata lain seluruh aset kekayaan budayanya dipelihara dan dijaga dengan baik, Indonesia negara koeli, dengan kata lain seluruh anggota masyarakatnya hidup secara bermartabat dan tidak terekploitasi dari pihak lain. Dan mustahil Indonesia digayang oleh negara kecil seperti Malaysia, dengan kata lain bahwa Malaysialah berpotensi digayang oleh Indonesia.

Hanya saja, saat ingin membantah klaim di atas, saya secara pribadi kemudian tersadarkan, lepas dari ketidaksukaan terhadap hinaan terhadap Indonesia, melihat kenyataan yang ada, ternyata sulit bagi saya menutupi fakta bahwa Indonesia tercatat sebagai negara ketujuh terkorup dari 163 negara. Peringkat ini dikeluarkan oleh Transparensi Internasional (www.antikorupsi.com). Di tingkat Asia malah lebih memprihatinkan. Indonesia menduduki peringkat kedua negara-negara terkorup di Asia.. Banyak pejabat negara di negeri ini mendadak kaya hanya setelah beberapa saat memegang jabatan, berbagai urusan pelayanan masyarakat harus dilaksanakan dengan berbagai kutipan di sana sini. Uang negara bernilai jutaan bahkan milyardan rupiah dengan mudahnya menguap begitu saja tanpa jelas kemana. Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan bahwa 51 Kasus Korupsi baru yang terungkap pada semester I 2007 telah mengakibatkan potensi kerugian negara mencapai Rp 665,8 miliar.

Benarkah negara Indonesia bukan negara terorisme dengan terjadinya beberapa kali tindakan terorisme di Indonesia, bom Bali, bom Mariot dan bom di kedutaan Australia, belum lagi teror bom di Poso maupun di Ambon, dan ironisnya ketika si pelaku teror tertangkap beberapa tokoh masyarakat malah mengunjunginya dan menunjukkan simpatiknya. Apakah ini berarti bagi beberapa anggota masyarakat, tindakan teroris adakalanya dibenarkan atau perlu didukung. Di Indonesia terdapat sejumlah organisasi radikal dengan mengataskan agama membenarkan tindakan anarkis alias melakukan teror terbuka, yang jelas pelakunya dan tersorot di media massa, semacam FPI, namun tidak ada tindakan dari petugas keamanan. Tindakan anarkis mereka sering berulang kali terjadi namun organisasi mereka tetap eksis, apakah ini berarti keberadaan dan tindakan mereka sepenuhnya legal. Ironisnya pemerintah. berdalih bahwa dengan menutup FPI sama saja dengan menghambat demokrasi sebagaimana diutarakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Atau seperti yang ditegaskan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani yang menyatakan Front Pembela Islam (FPI)) tidak mungkin dibubarkan karena ada kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat yang harus dihormati.

Apakah benar kita mencinta budaya kita saat beberapa aset budaya kita telah dipatenkan oleh negara luar seolah menjadi kekayaan negaranya. Misalnya lagu rasa sayange yang sudah dijadikan lagu nasional Malaysia dan kain batik yang sudah dipatenkan juga di Malaysia. Saat mengetahuai hal tersebut masyarakat Indonesia seperti kebakaran jenggot, meskipun nyatanya sebagian besar masyarakat Indonesia anti dengan kebudayaan tradisional karena dianggap tidak in atau modern. Apa yang berkembang di Indonesia adalah gaya hidup modern yang diwujudkan melalui kehadiran pusat-pusat perbelajaan yang menyediakan fashion model terkini serta berbagai bentuk kultur modern direpresentasikan sebagai diskoti, café, dsb yang mengsyaratkan kemampuan membayar. Yang intinya adalah, untuk menjadi modern anda harus membeli dan membeli, anda harus membeli fasion model terbaru atau anda harus mampu mengikut gaya hidup yang elegan dengan membeli santapan dan bersantai di diskotik, café atau rumah makan berklas internasional. Pikiran orang-orang Indonesia sudah sedemikian dibutakan melalui media massa, bahwa hanya dengan bergaya sesuai trand maka orang-oraong Indonesia menjadi bagian dalam masyarakat global. Maka kebudayaan lokal dikaitkan dengan simbol keterbelakangan, kebodohan atau kekunoan sehingga patut ditinggalkan, apakah kita harus bangga memelihara kebudayaan yang dijalankan oleh suku Kubu atau Asmat yang notabene belum bebas dari ketelanjangan dan sifat primitif. Namun kita sendiri tidak menyadari bahwa apa yang disebut kebudayaan global adalah kebudayaan lokal yang dipromosikan melalui jaringan informasi dan mampu menggugah kesadaran jutaan orang di seentaro dunia. Seperti trand oriental, yoga, J-fasion yang merupakan budaya lokal asal Cina, India atau jepang yang diglobalkan. Mengapa kita tidak berpikir demikian untuk budaya kita, mempromosikannya agar menjadi bagian dari trand global dan bukannya harus menunggu Malaysia mempromosikan batik asal Jawa agar dikenal di seluruh dunia.

Dan kita bukan negara koeli? Kenyataannya banyak rakyat kita yang harus menjadi tenaga kerja kasar di dalam negari maupun di luar serta berpotensi tereksploitasi orang lain yang kadang bangsanya sendiri. Karena bekerja tanpa keahlian yang memadai dan tidak melalui jalur yang legal banyak TKI yang bekerja di luar negari mendapat perlakukan tidak manusiawi. Bahkan pemerintah Malaysia pernah melakukan penangkapan dan penangusiran terhadap TKI gelap meskipun keberadaan mereka memberikan keuntungan bagi perekonomian Malaysia, karena mau bekerja dengan upah rendah. Dan apa yang terjadi akhir-akhir ini, beberapa orang TKI kembali ke Indonesia dalam kondisi tidak bernyawa.

Apakah kita tengah menggayang oleh Malaysia? toh, kenyataannya sejumlah korperasi Malaysia merajalela di Indonesia, khususnya di bidang perkebunan. Sebagian besar perkebunan sawit di Sumatera dan Kalimantan dikuasai oleh perusahaan Malaysia. Banyak produk asal Indonesia direselling oleh Malaysia hanya dengan menempelkan mereknya dan kita menjadi konsumen pengguna yang bangga karena membeli barang impor. Banyak orang Indonesia yang sedemikian tergantung dengan pengobatan di Malaysia, menghabiskan jutaan rupiah untuk melakukan cek up rutin di Penang atau di Kuala Lumpur. Dan lebih ironis lagi banyak orang Indonesia yang rela merusak alam di negaranya sendiri demi memperoleh hasil alam kadang secara ilegal demi mengabdi pada pemilik modal dari negara jiran kita tersebut. Misalnya Ilegal loging asal Kalimantan yang dikumpulkan oleh orang Indonesia dibeli cukon-cukung asal Malaysia yang tidak perduli dampak pengrusakan hutan terhadap masyarakat.

Benar memang, Malaysia dulunya didirikan oleh seorang pangeran asal Majapahit, Parameswara. Bahwa wilayah negara Malaysia saat ini dulunya menjadi bagian dari kekuasaan kerajaan besar di Indonesia semisal Majapahit dan Sriwijaya. Dan pada masa Soeharto banyak mahasiswa Malaysia yang harus berguru ke Indonesia dan banyak tenaga medis serta pengajar asal Indonesia yang dikirim ke Malaysia. Namun zaman sudah berubah si kecil telah mengalahkan Goliat. Dan mereka mengalahkah kita bukan saja karena mereka telah menjadi lebih baik melainkan karena negara kita semakin bobrok. Kita mengalami degradasi multikompleks, degradasi kepemimpinan, integritas, nasionalisme, visioner dan kita menjadi bangsa yang memble. Karena masing-masing orang di republik ini hanya memikirkan dirinya sendiri dan golongannya. Semangat nasional yang dibangkitkan oleh para pendiri negeri ini telah luntur secara perlahan dimakan zaman.

Kemarahan rekan-rekan di milis atas hinaan dari blog asal Malaysia seolah bukti keperdulian kita terhadap Indonesia, dan saya yakin sebagian besar orang Indonesia juga tidak akan suka jika Indonesia direndahkan oleh orang lain. Seperti halnya ramainya demo di Indonesia pasca pengusiran TKI dan setelah kekalahan Indonesia di pengadilan internasional untuk kasus Pulau Sipadan, yang menunjukkan sikap protes terhadap Malaysia yang dianggap tidak menghormati Indonesia. Namun kemarahan demikian adalah sebagai ekspresi rasa cinta tanah air yang juga tercermin dari tindakan kita. Apakah kita, selaku rakyat Indonesia, memiliki semangat kebangsaan yang sejati. Toh, nyatanya yang melakukan korupsi, merusak lingkungan, memanipulasi TKI, menjual anak bayi atau perempuan lugu, menebangi dan membakar hutan, menebar teror adalah bangsa Indonesia sendiri. Dan banyak orang Indonesia yang tertindas tanpa diperdulikan saudaranya yang lain. Apakah kita juga dengan bangga menggunakan blangko dan mempelajari tari-tarian daerah ditengah hiruk-pikuk kebudayaan modern yang tengah mengerogoti. Kita seolah hanya hidup masing-masing dalam satu bangsa, sehingga tidak perduli jika ada orang Indonesia lainnya yang tertidas dan bahkan kita menjadi si penindas juga.

Oleh sebab itu keberadaan blog demikian tidak harus membuat kita emosional namun juga menimbulkan perenungan, apakah hinaan itu patut ditujukan kepada kita. Bisa saja blog itu dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab atau iseng, dan bukan gambaran pandangan umum masyarakat Malaysia terhadap Indonesia, namun apa yang diungkapkan, terlepas dari caranya yang menyesakkan hati, bisa saja cerminan dan ungkapan yang jujur terhadap realitas kehidupan bangsa Indonesia. Dan kita yang tersinggung dan marah barangkali termasuk oknum yang justru terlibat menciptakan citra Indonesia sedemikian......