Monday, 29 December 2008

DUKUNGAN HUMANISTIK VS HUMANISTIK-SEMU (KASUS PALESTINA)


Sungguh luar biasa simpatik rakyat Indonesia terhadap rakyat Paletina. Dalam waktu singkat dana 2 M disumbangkan pemerintah Indonesia dalam bentuk obat-obatan setelah tersiar kabar akibat serangan Israel sekurangnya telah menewaskan 300 warga sipil dan pejuang Palestina, serta menyebabkan lebih dari 1.000 orang luka berat di jalur Gazza. Disamping itu pemerintah Indonesia juga akan memberikan bantuan tunai senilai 1 juta dollar AS.

Namun simpatik itu tidak hanya berlangsung dalam bentuk uang tunai dan obat-obatan. Berbagai aksi ribuan mahasiswa, pemuda, dan berbagai elemen masyarakat itu berlangsung di Jakarta dan berbagai daerah, seperti Lebak (Banten), Bandung (Jabar), Solo (Jateng), Gorontalo, dan Banda Aceh. Mereka mengecam tindakan semena-mena tentara Israel dalam bentuk demonstrasi. Dan aksi tersebut sempat diwarnai kericuhan dan penangkapan sejumlah pendemo oleh polisi. Masyarakat Indonesia tidak rela ada kelompok masyarakat yang tertindas.

Disamping itu ratusan orang yang siap mengabdikan dirinya sebagai relawan yang siap dikirim ke Palestina. " Kami akan melakukan yang terbaik sebagai bentuk solidaritas", ungkap salah seorang aktivitas dalam sebuah wawancara di televisi.

Hal ini tersebut di atas "seolah" menunjukkan pemerintah dan masyarakat Indonesia benci terhadap penindasan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Serta memiliki jiwa kepahlawanan yang secara murah hati siap menolong siapa saja yang menderita, sehingga patut mendapatkan acungan jempol.

Jadi secara logis orang yang tertindas di republik inipun otomatis tertolong karena ada pemerintah dan anggota masyarakat lainnya yang siap membantu dan menjadi relawan bagi mereka. Atau bisa jadi republik ini sudah "bebas dari orang-orang termarginalkan" seperti orang miskin, gelandangan, dsb, sehingga ini adalah waktu bagi kita mencurahkan perhatian membantu bangsa lain.

Hanya saja, masyarakat dunia yang mendadak salut kepada Indonesia akan menjadi binggung sendiri ketika mengunjungi negeri para pahlawan tersebut. Ternyata yang tertindas di republik ini tidak kalah banyak dan tragis. Mereka bakal sontak terkejut dan syok barangkali. Di setiap sudut negeri ini tidak sulit menjumpai orang-orang yang menderita akibat kemiskinan.

Apalagi pada tahun 2008 pemerintah mengumumkan bahwa penduduk yang berhak mendapatkan kartu Jamkesmas mencapai 76,4 juta jiwa. Artinya ada 76,4 juta orang yang tergolong miskin, yang dan sepatutnya berhak juga mendapatkan uang 2 M yang disumbangkan secara “cuma-cuma” kepada rakyat palestina.

Jika di Palestina ada 300 orang yang menjadi korban serangan Isreal, maka di Indonesia lebih dari jumlah tersebut yang meninggal akibat kemiskinan, eksploirasi dan kekerasan oleh pihak lain setiap tahunnya. Dan apakah kondisi tersebut cukup mampu memancing simpatik dari pemerintah dan anggota masyarakat Indonesia lainnya.

Bukan berarti dalam hal ini saya antipati dengan tindakan pemerintah maupun saudara-saudara saya yang gemar membantu bangsa lain yang tertindas. Namun saya berharap tindakan tersebut lebih didasarkan pada rasa simpatik humanistik universal. Dan bukannya pada motif yang menodai sisi kebaikan dari pemberian itu sendiri, seperti untuk “mencari sensasi”, “emosional sekejap” (dampak efek pemberitaan yang terus menerus dan menimbulkan rasa iba yang timbul sesaat) serta “primordial sempit dan fanatisme” (karena adanya kesamaan suku, ras dan agama).

Jika hal sedemikian yang menjadi dasar sebuah dukungan dan pemberian maka akan menciptakan inkonsisten. Menjadi pahlawan pada momen tertentu namun menjadi serigala pada waktu yang lain. Iba ketika ada rakyat Paletina yang menjadi korban serangan militer Isreal. Namun mendadak sontak bertepuk tangan riuh ketika ada rakyat sipil Israel yang juga menjadi korban serangan roket milisi Palestina.

Dan nyatanya tindakan super hero dari pemerintah dan sekelompok masyarakat Indonesia juga menuai kritik. Seperti beberapa komentar yang saya kutip dari kompas.com untuk berita yang berjudul “Indonesia Bantu Obat Rp 2 Miliar untuk Palestina”, mengambarkan sisi lain dari tindakan mulia yang sedang ditunjukkan bangsa ini. Seolah mengingatkan bahwa bangsa ini masih getir oleh berbagai masalah.

geraldo @ Senin, 29 Desember 2008 | 21:27 WIB
Pak Menkes,rasanya tindakan yg anda lakukan kurang efektif,karena negara kita ini(Indonesia) masih dilanda Krisis Global,Hutang Negara bertumpuk,lagipula apakah tindakan ini akan menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara solidaris?.Indonesia sendiri masih luluh lantak,Banyak anak kelaparan,warga miskin bertambah.kenapa negara lain harus diprioritaskan terlebih dahulu?

rinet @ Senin, 29 Desember 2008 | 19:01 WIB
Aku hanya bisa menghela nafas panjang ...... rakyat sendiri menderita bahkan membantu negara lain. Cari sensasi dari luar ya .....!!!!!


Namun pada akhirnya pertanyaan besar akan dikembalikan kepada pemerintah maupun anggota masyarakat di Indonesia yang bermurah hati membantu rakyat Palestina. Apakah mereka juga akan melanjutkan melakukan tindakan soliditas yang sama terhadap Saudara mereka yang juga tertindas di wilayah nusantara tercinta ini, setelah mereka menjadi pahlawan di negeri orang?

1 comment:

mahendra said...

BUAT HOST DAN TEMAN2 BLOG.. SELAMAT TAHUN BARU 2009 YAAAA...
SEMOGA TAMBAH SUKSES!

Saya punya info bagus.
Sebuah bundle informasi yang saya jamin bagus buat anda
Informasi tentang bagaimana membuat bisnis online sendiri, bagaimana agar eksis di search engine manapun, sampai membuat website profesional dengan wordpress.org (bukan wordpress.com lo ya..) juga bagaimana script membuat web iklan baris (dapat langsung diaplikasikan sehingga bisa nambah pemasukan) semuanya ada disini
Ada pasti puassss.
Salam hangat.