Jika Anda telah memegang prinsip, memahami medan pertempuran dan siap menciptakan hubungan yang akur antara istri dan mertua Anda, bersiaplah menjadi manajer. Anda akan menerapkan prinsip-prinsip manajemen untuk membuat kedua wanita istimewa tersebut menjadi harmonis.
Mungkin bagi Anda yang masih pesimis, apa mungkin?
Tentu saja mungkin. Bayangkan sebuah perusahaan yang terdiri dari ratusan manusia, dengan segala perbedaannya, pendidikan, latar belakang keluarga, ekonomi dsb, bisa diarahkan untuk mencapai tujuan perusahaan. Hal ini diwujudkan dengan penerapan prinsip-prinisip manajerial.
Apalagi hanya mengelola 2 pribadi yang sepernuhnya Anda kenal dan bisa Anda kendalikan.
Bagaimana Manager Mengambil Keputusan
Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. Namun dalam kaitannya untuk menciptakan hubungan yang erat antara istri dan ibu mertua, seorang pria minimal memiliki 2 keterampilan dasar.
Keterampilan pertama adalah keterampilan konseptual (conceptional skill). Keterampilan ini untuk membuat konsep, ide, dan gagasan untuk mencapai tujuan tertentu.
Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses perencanaan atau planning.
Dalam memanage hubungan istri dan mertua, seorang pria, memiliki ide-ide kreatif dan strategi untuk mencairkan suasana, mencegah dan mengatasi konflik. Sehingga pada akhirnya tujuan untuk menciptakan hubungan harmonis antara menantu-mertua dapat tercapai.
Selain kemampuan konsepsional, seorang manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan kedua yakni keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan (humanity skill).
Seorang suami dalam hal ini, mampu membina komunikasi yang baik dengan baik kepada istri dan Ibunya. Ia bisa menjelaskan posisi atau sikap Ibunya pada istrinya sehingga kemudian bisa memahaminya. Atau sebaliknya. Dan bisa merubah cara pandang negatif dari salah satu wanita istimewa tersebut.
Terkait pengambilan keputusan, perlu juga dipahami bagaimana cara seorang manajer handal mengambil keputusan. Menurut Drucker, Bapak manajemen modern, ada 5 langkah dalam pengambilan keputusan yang efektif bagi seorang manajer dan teori ini juga bisa diterapkan dalam keluarga.
Pertama. Kenali apa yang menjadi masalah umum dan apa penyebabnya. Misalnya saja ketika mengetahui istri yang membentak Ibu Anda, maka lihat apakah ini hanya suatu kasus khususnya. Terjadinya hanya mungkin saat itu saja, karena ketika istri sakit gigi, sang Ibu memanggil-memanggil dari luar kamar. Karena tidak mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Ibu mertua maka sang istri membalas dengan teriakan. Jadi ini adalah masalah khusus yang perlu penyelesaian khusus, seperti meminta sang istri menjelaskan kepada Ibu Anda duduk persoalan yang sebenarnya.
Namun bisa juga istri dan mertua tidak lagi berbicara karena sudah ada ketidakcocokan antara Ibu dan menantu Anda. Barangkali Ibu Anda sering menuntut. Atau Istri Anda terlalu sensitif dan tidak suka jika Ibu Anda terlalu mencampuri urasan rumah tangga Anda. Jika ini yang menjadi persoalan maka Anda perlu memikirkan solusi yang menyeluruh dan terstruktur.
Kedua. Tentukan hal apa yang ingin dicapai. Setelah mengetahui adanya persoalan antara istri dengan Ibu Anda, sebelum menentukan keputusan yang akan dicapai. Pastikan tujuan yang ingin dicapai. Apakah itu “menciptakan rumah tangga harmonis”, “membuat istri Anda akur dengan mertua” atau tujuan apa. Dan sebaiknya pilihlah tujuan yang bersifat jangka panjang dan memberikan kesenangan bagi semua pihak.
Ketiga. Kita harus memulai dengan apa yang benar dan bukan apa yang seharusnya. Mungkin Anda bisa memilih menekan istri Anda agar bungkam, bahkan ketika mendapatkan tekanan dari Ibu Anda. Mungkin ketika istri Anda terlihat patuh walaupun terpaksa, orang lain mungkin memuji Anda karena bisa mengajar istri dengan benar. Namun jika itu hal yang ada pilih tinggal menunggu bom waktu, saat kemarahan istri meledak dan kemudian meninggalkan Anda. Jadi lakukanlah yang terbaik untuk meraih apa yang menjadi tujuan Anda. Mungkin seorang suami yang memutuskan untuk tinggal terpisah mungkin akan mendapat tentangan dari Ibu maupun Saudara-Saudaranya, namun hal tersebut adalah yang terbaik untuk mencegah pertentangan antara Ibu dengan istri Anda yang berkepanjangan.
Keempat. Mengubah keputusan menjadi tindakan. Setelah itu rumuskan hal yang ada rasa tepat untuk mengatasi konflik antara istri dan Ibu Anda. Tentukan strateginya. Apa yang bakal Anda terapkan pada Ibu Anda, demikian juga pada Ibu Anda. Kapan Anda memulainya, apakah perlu melibatkan orang ketiga. Setelah itu laksanakan.
Kelima. Melakukan upan balik. Setelah melakukan berbagai strategi yang telah Anda putuskan lakukanlah upan balik. Lihat apakah berhasil atau malah menciptakan konflik yang lebih parah. Jika lebih parah sebaiknya perbaiki strategi yang telah diterapkan.
Mengatasi Konflik
Disamping memahami tentang prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan. Anda juga perlu memahami tentang konflik. Karena apa yang bakal Anda hadapi adalah pertentangan antara istri dengan Ibu Anda yang mungkin terjadi.
Sebuah konflik secara umum didefinisikan sebagai sebuah situasi dimana dua atau lebih pihak bersaing untuk mendapatkan sesuatu hal yang langka pada waktu yang sama. Atau juga tidak semata-mata langka namun juga sesuatu yang dianggap sangat penting bagi pihak yang bertikai.
Tentu dalam konflik menantu dan mertua yang diperebutkan adalah cinta seorang anak/suami. Atau status menjadi primacy woman di mata si anak/suami.
Namun sebuah konflik pada berbagai kasus cenderung berawal dari persepsi dan bukannya dari sikap dan tindakan. Karena dalam konflik apa yang disebut sebagai ancaman dan musuh adalah ditentukan oleh persepsi subjektif.
Bisa saja terdapat banyak wilayah untuk kesepakatan pada sebuah konflik, tetapi jika masing-masing pihak mempersepsikan konflik mustahil diselesaikan. pihak yang berlawanan dianggap tidak berupaya menyelesaikan konflik.
Pada kondisi tidak stabil ketegangan mulai timbul. Telah muncul prasangka dan pandangan negatif meskipun situasi masih terlihat damai.
Kondisi konflik terbuka ketika situasi konflik telah diakui oleh masing-masing pihak namun aksi terbuka belum terjadi.
Pada masa krisis, resiko perang secara terbuka sangat besar dan cara-cara untuk menekan lawan sudah dipersiapkan. Sudah terjadi konflik-konflik pada saat-saat tertentu namun tidak sering terjadi.
Sedangkan pada saat perang, sudah terjadi kekerasan dan usaha menyakiti lawan secara terbuka dan terus menerus.
So, dari penjelasan di atas dapat juga dikaitkan dengan perkembangan konflik mertua-menantu. Mungkin pada awalnya terlihat damai dan akur-akur saja. Namun oleh karena berbagai kesalah pahaman dan ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan, maka timbulkan rasa tidak enak. Tapi masing-masing, mertua dan menantu, masih berusaha menutupi dan terlihat akur di permukaan atau fase tidak stabil.
Jika hal tersebut tidak diselesaikan, maka mertua mulai mengatakan ketidaksukaan pada menantunya demikian sebaliknya. Apakah itu dengan mengatakan pada anak atau suaminya, putrinya, teman dsb.
Seandainya persoalan ini tidak diselesaikan maka mertua atau menantu mulai sering bersitegang. Si menantu mulai berani membantah mertua. Dan mertua mulai suka ketus dengan menantunya. Kemudian si mertua mencari pendukung untuk memusuhi menantunya demikian sebaliknya. Fase ini dikategorikan masa konflik
Dan jika konflik ini berlanjut, maka bukan mustahil si menantu dan mertua bakal berantam hebat setiap bertemu. Masing-masing berusaha untuk saling menyakiti, menghina. Mungkin seorang mertua mulai menarik aset-asetnya yang dititip kepada anaknya. Yang berarti telah masuk pada fase perang terbuka.
Atau si istri memberi ultimatum, memilih dirinya atau ibunya. Kalau memilih mertuanya tersebut maka ia akan memutuskan cerai. Sulit terjadi komunikasi, karena setiap pertemuan pasti akan mengakibatkan perkelahian.
Saran terbaik untuk mencegah konflik menjadi lebih buruk, adalah melakukan penyelesaian sejak muncul ketegangan. Dan mencegah tidak sampai terjadi perang terbuka.
Karena pada level perang terbuka maka kadang seorang suami/anak bakal kewalahan menyelesaikan. Adakalanya cara efektif untuk mengatasinya adalah dengan memisahkan dua pihak yang berkonflik atau melibatkan pihak ketiga.
Di bawah ini ada beberapa teknik yang sering digunakan dalam mengatasi konflik oleh manajer. Namun tentu tidak semua metoda ini tepat digunakan untuk menyelesaikan konflik mertua atau menantu:
Teknik 1: Mengajak orang-orang yang sedang konflik pada tujuan yang lebih tinggi. Misalnya, konflik dalam menentukan kuota penjualan. Bagian keuangan menuntut penjualan setinggi-tingginya, sedangkan lain menuntut dukungan biaya promosi besar-besaran. Begitu orang-orang yang bersilang pendapat di ajak berbicara pada tataran corporate, untuk tujuan yang lebih besar, mereka akan cenderung untuk berpikir lebih jernih.
Teknik 2: Memperluas sumber daya yang ada. Konflik bisa terjadi karena sumber daya yang langka yang dibutuhkan banyak orang. Contoh, hanya ada satu saluran telpon untuk dua bagian. Ketika mereka akan menggunakannya, mereka saling berebut. Cara manajemen konfliknya? Ya, tambah saja pesawat telponnya. Ini adalah contoh yang sangat menggampangkan, namun saya harapkan anda menangkap gagasannya. Namun metoda ini agak sulit diterapkan dalam konteks konflik menantu mertua karena yang diperebutkan cinta seorang anak/suami yang tidak dapat diperluas.
Teknik 3: Penghindaran. Ini yang sering dilakukan oleh orang pada umumnya. Daripada ribut dan konflik terus dengan tetangganya, orang itu kemudian menghindar dan berusaha untuk tidak bertatapan dengan tetangganya itu. Ini memang bukan cara manajemen konflik yang efektif, namun kadang, dengan penghindaran ini, pihak yang ingin konflik akan berkurang ‘semangat’ untuk konfliknya. Metoda ini lazim digunakan untuk mengatasi konflik menantu mertua.
Teknik 4: Mencari titik temu. Ketika anda sebagai pemimpin dan menemui orang yang konflik, anda dapat memakai teknik ini. Teknik ini berusaha mencari persamaan yang ada antara pihak yang terlibat konflik, sekaligus juga diperkecil perbedaan yang ada. Contoh ada konflik antara bagian pemasaran dan produksi. Daripada berdebat perbedaan fungsi kedua bagian itu, manajemen konflik dapat mencari persamaan kedua bagian itu. Misalnya, mereka sama-sama fungsi yang sangat penting dalam perusahaan, karena tanpa keduanya, perusahaan tidak akan bisa hidup. Bisa saja mertua dan menantu kemudian akrab karena menyadari bahwa mereka sama-sama mengingatkan Rudi bahagia.
Teknik 5: Kompromi. Ketika anda melakukan kompromi terhadap pihak yang terlibat konflik, mungkin masing-masing pihak tidak merasa puas terhadap keputusan itu. Namun manajemen konflik ini efektif jika topik/barang yang dikonflikkan bisa dibagi dua secara adil. Tentu ini agak sulit diterapkan dalam konteks rumah tangga. Mungkin si suami/anak di bagi dua?.
Teknik 6: Pakai Power. Ini adalah cara paling kuno untuk manajemen konflik. Ketika orang yang konflik tidak mau menyudahi konfliknya, sebagai pemimpin anda gunakan kekuasaan anda untuk menyudahi konflik itu. Walau mereka tidak puas, namun karena mereka adalah bawahan anda, mau tidak mau mereka harus patuh kepada anda. Tentu ini bisa diterapkan untuk meredakan konflik mertua dan menantu dalam jangka pendek dengan melibat seseorang yang dihormati keduabelah pihak.
Teknik 7: Mengubah sifat-sifat orang yang konflik. Mengubah sifat orang sangatlah sukar. Namun, ini adalah manajemen konflik yang efektif untuk jangka panjang. Contoh, di kantor anda dijumpai karyawan yang sering bertengkar dengan karyawan lainnya. Sebagai pemimpinnya, anda ajak pelan-pelan karyawan itu untuk mengubah perilakunya. Dengan sabar anda bimbing karyawan itu, dan akhirnya, ia mampu menjadi karyawan yang baik. Ketika karyawan itu sudah berubah sikapnya, konflik yang sering terjadi di bagian anda akan sangat berkurang. Metoda ini sangat tepat diterapkan dalam mengatasi konflik mertua dan menantu. Tanpa ada perubahan dari masing-masing pihak, seorang Ibu dan istri, maka konflik akan berlangsung terus menerus.
Teknik 8: Ubah strukturnya. Agar bagian promosi dan bagian produksi tidak saling menyalahkan, ubahlah strukturnya. Contoh, bagian pemasaran mengeluhkan betapa sulitnya mereka menjual karena produknya desainnya jelek, dan kualitasnya meragukan. Keluhan itu ditanggapi oleh bagian produksi dengan cara mereka membuat produk begitu karena memang tidak ada masukan dari bagian pemasaran. Sedang produk yang buruk, mereka mengeluh karena terjadi pemotongan anggaran produksi besar-besaran dari bagian keuangan. Agar mereka tidak saling konflik, gabung saja dua bagian itu dibawah satu departemen. Sekali lagi contoh manajemen konflik yang saya tulis ini hanya untuk menggampangkan, dan bukannya ‘resep’ yang harus diikuti secara membabi buta. Apakah dengan adanya konflik akan lebih baik jika mertua dan menantu dibuat lebih dekat lagi?
Teknik 9: Ciptakan musuh bersama. Agar mereka tidak usreg saling konflik, ciptakan saja musuh bersama. Musuh ini dapat berupa pesaing agresif yang harus dihadapi dengan bersatu, dan bukannya terpecah belah seperti sekarang ini. Musuh ‘ciptaan’ dapat pula berupa ‘kunjungan’ pimpinan puncak ke bagian itu, yang ‘terpaksa’ mereka harus bersatu padu untuk bersama-sama ‘menyambut’ pimpinan itu. Mungkin teknik ini kurang relevan diterapkan untuk mengatasi konflik menantu-mertua.
Tentu teknik-teknik yang disebuat di atas adalah secuil dari sekiatn banyak kekayaan pengetahuan tentang manajemen. Namun intinya, adakalanya skill manajerial perlu dikuasai oleh seorang suami atau anak agar dapat mengendalikan 2 wanita istimewa dalam kehidupannya. Dan membawa relasi mereka pada suasana yang harmonis.
Kecerdasan Emosional
Menurut Gottman dan De Claire kecerdasan emosional merupakan salah satu aspek psikis yang sangat menentukan bagaimana reaksi individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Konon kecerdasan intelektual tidak cukup sebagai modal bagi seseorang untuk meraih kesuksesan dan kesejahteraan dalam hidup, Juga perlu dilengkapi dengan kecerdasan emosional untuk
Seorang suami yang mempunyai kecerdasan emosional akan lebih mudah dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi atau membuat keputusan penting dalam memungkinkannya untuk melakukan hal tersebut dengan cara yang istimewa dan dalam waktu singkat.
Goleman mengatakan bahwa orang yang mempunyai kecerdasan emosional akan lebih luas pengalaman dan pengetahuan dari pada individu yang lebih rendah kecerdasan emosionalnya. Individu yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi akan lebih kritis dan rasional dalam menghadapi berbagai macam masalah, dengan demikian individu yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi akan memikirkan pula akibat-akibat yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang
Emosi berperan besar dalam suatu tindakan dalam pengambilan keputusan yang paling rasional. Kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu individu untuk bersikap lebih ramah, kemauan untuk bekerja sama, dapat mengatasi konflik secara tepat dan menciptakan kondisi lingkungan yang menyenangkan. Individu yang mempunyai kecerdasan emosional akan lebih terampil dalam menenangkan diri mereka sendiri bila mereka marah dibandingkan individu yang tidak dilatih emosinya.
Jadi dalam kaitan dengan memanage hubungan menantu-istri, Anda dapat dengan mudah mengendalikan pengaruh emosi Anda dalam pengambilan keputusan. Dimana Anda bisa menjaga kondisi pikiran Anda sehingga tetap bisa mengambil keputusan Anda denganm rasional. Dan kemudian Anda juga bisa merasakan dan menduga respon apa yang bakal terjadi ketika Anda mengambil sebuah tindakan dalam terkiat hubungan antara Ibu dan istri Anda.
Oleh sebab itu untuk bisa memanage Ibu dan istri Anda, maka Anda perlu membekali diri tidak hanya dengan kemampuan manajerial. Namun juga pada kecerdasasan emosional, sehingga Anda diperhadapkan pada 2 sosok yang terikat secara emosional dengan, pikiran Anda tetap jernih dalam mengambil keputusan
Thursday, 11 March 2010
Wednesday, 28 October 2009
KAMI MENAWARKAN ULOS UNTUK PESTA

Kami menawarkan paket ulos untuk keperluan pesta (17 ulos, Toba). Dengan paket harga
I. Paket Delux (Ekslusif) Rp. 2.500.000
II. Paket Medium Rp. 1.800.000
III. Paket Hemat Rp. 1.000.000
Kami juga peralatan kepeluan adat dan songket simalungun. Bagi rekan-rekan yang berminat dapat menghubungi kami melalui nomor 085925077652, dimana ulos, peralatan dan songket kami datangkan langsung dari Pematang Siantar, dimana harga yang kami tawarkan murah meriah.
Friday, 21 August 2009
TIDAK PERNAH CEKCOK!! MASA, SIH??

Seringkali percekcokan pasutri berakhir tragedi, perceraian, KDRT, pembunuhan. Bahkan dampak dari konflik suami istri tidak hanya dirasakan oleh keduanya namun juga kepada anak-anaknya.
Berbagai penelitian menunjukkan percekcokan dan kekerasan rumah tangga dapat mengakibatkan trauma dan berdampak tidak baik bagi perkembangan jiwa anak. Apalagi jika sampai bercerai, ini akan menimbulkan luka dalam diri si anak.
Anehnya seringkali seorang suami atau istri bisa begitu kasar dengan pasangannya namun sangat santun teman-temannya. Seorang suami atau istri tega melakukan kekerasan dengan orang yang terbukti telah mengasihinya, karena bersedia hidup bersamanya dengan segala konsekuensi. Padahal dengan teman-temannya atau orang lain ia lebih sabar dan tidak berani melakukan hal yang sama.
Tentu ini adalah ironi. Mengapa kita seringkali tega menyakiti pasangan kita dengan kejam dari pada orang yang mungkin tidak mengasihi kita. Oleh sebab itu kita perlu mengetahui mengapa percekcokan itu bisa muncul dalam hubungan rumah tangga yang kadang bisa berakhir dengan perlakuan yang tidak semestinya.
Ia Miliku
Kebanyakan dari kita membangun rumah tangga dengan sebuah pandangan keliru. Kita mungkin tidak menyadari hal tersebut di awal pernikahannya. Namun lambat laun pandangan tersebut akan muncul dengan berjalannya waktu. Yakni bahwa pasangan kita adalah ”hak milik kita”.
Mengapa seorang pria sangat berhati-hati memperlakukan pasangannya ketika pacaran berubah menjadi ”sembrono” ketika telah menjadi istrinya. Lisa tidak habis pikir bagaimana suaminya yang sebelum menikah begitu lembut dan perhatian, namun saat ini berubah menjadi orang yang cuek dan cenderung kasar. Ia kemudian menyalahkan dirinya, ” Aku mungkun sudah melakukan kesalahan!”
Tentu ini bukan karena Lisa tidak sempurna. Karena nobody perfect. Melainkan karena pada waktu pacaran sang pria belum sepenuhnya merasa memiliki sang gadis. Si wanita bisa sewaktu-waktu memutuskan hubungannya. Atau pria lain bisa menyalibnya kalau ia tidak bisa menarik perhatian sang pujaan hatinya.
Namun setelah menikah sang wanita adalah milikku. Disamping itu jarang orang mengkhawatirkan pernikahannya bakal hancur jika ia tidak menaruh hormat pada pasangannya. Kebanyakan orang berpikir bahwa hubungan ini akan berlangsung hingga akhir hayat. Sehingga ketika menikah seorang suami seolah mendapat peneguhan bahwa wanita di “sebelahku adalah milikku”. Saat ini dan sampai selama-lamanya
Sehingga wajar saja jika teman saya dengan angkuhnya mengatakan, ”Akte nikah menunjukkan jika istri ku berhak kupegang, kutiduri dan kutampar jika tidak patuh. Karena ia milikku”.
Namun menurutku pernyataannya tersebut bisa diartikan sang istri tak lain adalah properti sang suami, yang tidak beda dengan lemari, baju , jas, mobil dsb yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Demikian juga seorang wanita. Ketika masih berpacaran ia merasa belum memiliki seorang pria secara utuh. Sampailah setelah menikah ia sepenuhnya menanggap “that guy is mine”. Jadi ia berhak mengontrol kehidupan sang suami termasuk mengintrogasi seluruh teman wanitanya, barangkali ada yang suka dengannya.
Sadarkan Anda arti kepemilikan. Ketika kita mengatakan bahwa mobil itu milik saya, maka pasti mobil itu tidak lebih tinggi dari saya derajatnya. Kalaupun saya marah ketika ada orang yang mengores mobil saya secara segaja, itu bukan berarti bahwa mobil berharga melainkan karena itu Anda anggap pelecahan terhadap diri Anda.
Intinya Anda menjadi yang terutama. Dan mobil itu harus bekerja sesuai dengan kebutuhan Anda. Dan bagaimana jika mobil itu kemudian ngadat atau rusak? Maka Anda akan menjualnya atau menjadikannya barang rongsokan.
Sama halnya ketika Anda mengatakan bahwa ”dia itu adalah istri saya”, atau ”si Toni itu suami saya” . Kadang kala ini berarti Andalah yang teristimewa dan pasangannya Anda harus menjadi seperti apa yang Anda inginkan.
Maka seorang istri menghadapkan suami adalah seorang yang gesit, gagah seperti ayahnya. Atau seorang suami menginginkan istrinya melayani dan patuh seperti ibunya. Atau masing-masing meletakkan standar yang harus dipenuhi pasangannya.
Namun bagaimana jadinya ketika si pasangannya tidak seperti yang diinginkan oleh sang istri atau suami. Bagaimana jika si istri ternyata tidak gesit malah ”lemot”. Sang suami ternyata mudah patah semangat dan tidak sehebat ayah sang istri. Maka timbul kekecawaan dan tidak mustahil berakhir pada sebuah percekcokan.
Mungkin kita sering merasa heran mengapa percekcokan adakalanya dipicu oleh hal-hal yang spele. Seperti istri yang marah hebat ketika sang suami tidak meletakkan gosok gigi pada tempatnya. Atau istri yang tidak berdadan ketika ia pulang. Tentu konyol hal-hal tersebut bisa menjadi konflik yang besar. Namun sesungguhnya bagi si pasangan yang kecewa, semua ini adalah bukti bahwa sang suami memiliki kebiasaan yang tidak sesuai dengan harapannya.
Si istri menghadapkan sang suami adalah pria yang displin sehingga wajar ia marah kalau sang suami sembarangan meletakkan sisir atau sikat gigi. Si suami mengingkan istrinya wanita yang anggun sehingga wajar jika ia emosi melihatnya istrinya gemar menggunakan celana jeans.
Jadi pertanyaan selanjutnya apakah pertengkaran tersebut adalah bukti ketidakdewasaan suatu hubungan? Benar. Mungkin Anda bakal memperolok-olok pasangan suami istri yang mengalami hal tersebut. Namun saya menyakini tidak ada keluarga yang bisa terlepas dari situasi demikian. Setiap pasangan akan mengawali hubungan rumah tangganya dengan egoisme tinggi, dengan tuntutan karena sekarang si wanita mantan pacarku sudah menjadi milikku demikian sebaliknya.
Hal inilah yang membuat mengapa seorang suami atau istri sangat kasar bicara dengan pasangannya namun santun dengan temannya. Karena temannya tidak bisa ia katakan menjadi miliknnya. Hubungan dengan teman adalah sederajat namun dengan pasangannya adalah tidak sederajat. ”Bahwa ia ada untuk melengkapi kehidupanku”. Sedangkan teman tidak demikian.
Maka percekcokan adalah momen yang menyadarkan Anda. Ingat hal yang menyenangkan kadang membuat Anda terlena. Mungkin pasangan Anda bisa terus memenuhi tuntutan Anda, namun sampai kapan. Karena ia memiliki kebutuhannya sendiri, kepribadiannya dsb.
Percekcokan sering kali adalah semacam syok terapi terhadap kepribadian kita yang arogan. Seolah pasangan kita berseru ” Aku punya hidupku sendiri yang perlu kamu hargai”. Pada saat inilah kita baru menyadari bahwa pasangan kita juga memiliki kebutuhan, kepribadian yang membutuhkan perhatian dari Anda.
Ia bukanlah ”barang” yang bisa Anda perlakukan seenaknya. Maka dengan adanya cekcok dan konflik demikian idealnya masing-masing pasangan akan mengubar cara pandangannya. Dari ” hak milik” menjadi seorang patner. Dimana kedudukan patner adalah sederajat. Jika suami dan istri mengharapkan mendapatkan sesuatu dari pasangannya ia juga harus memperhatian kebutuhan pasangannya tersebut. Disamping itu ia juga harus bertanya pada dirinya wajarkah tuntuntan ini kusampaikan padanya.
Maka dengan adanya percekcokan pasangan suami istri telah bergerak pada level yang tinggi dalam hubungan suami istri. Oleh sebab itu alasan pertama mengapa pasangan suami istri pernah bercekcok adalah karena seringkali hubungan tersebut diawali dari ” hak milik” adanya tuntutan sepihak bahwa sang istri atau suami harus bertindak sesuai dengan kebutuhannya pasangannya.
Namun hubungan demikian tidak mungkin bisa bertahan karena si pasangan memiliki kebutuhan dan kepribadiannya yang harus dihormati. Dengan adanya s sebuah percekcokan masa masing-masing pasutri diingatkan bahwa pasangannya adalah patner bukanlah benda mati yang bisa perlakukan seenaknya.
Ada Sesuatu yang Tidak Beres
Mengapa pasutri yang telah hidup bersama selama bertahun-tahun masih tetap mengalami cekcok. Tentu saja sebagaimana sudah diulas pada bab awal, bahwa ini menandakannya adanya ketidakseimbangan. Bahwa ada salah satu pasangan yang telah melewati batas sehingga perlu merubah diri agar keluargannya kembali harmonis.
Kehidupan setiap orang adalah sebuah irama yang kadang turun kadan naik. Kita kadang kali pernah merasa jenuh, frustrasi ataupun namun di satu sisi kadang kita sangat bersemangat. Mungkin kita suatu ketika sangat bersemangat mengejar karir. Atau mungkin kita tengah jenuh dan coba mencari kesenangan dari judi atau bergaul dengan orang lain.
Namun adakalanya cara kita menghadapi ketengahan atau mendapatkan kesenangan bisa membawa kita pada ketidakseimbangan. Bagi seorang wanita bergosip adalah hal yang menyenangkan.
Hanya saja ketika dilakukan secara berlebihan atau disampaikan kepada orang banyak malah bisa menjadi fitnah. Atau seorang pria yang berjudi untuk sekedar hiburan mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun ketika sudah menjadi kecanduan maka dampaknya menjadi serius, hartanya bisa menjadi ludes.
Kebanyakan dari kita seringkali tidak bisa mengontrok hasrat kita untuk mencari kesenangan. Sehingga kemudian menimbulkan masalah seperti kebiasaan mabuk oleh menimun keras, workholik, free seks, main judi, mall oriented, gemar permah wajah.
Jika Anda seorang diri dan tidak ada yang membutuhkan dan perduli dengan Anda maka lanjutkan. Namun ketika ada yang membutuhkan dan menyayangi Anda maka mereka akan berteriak mengingatkan Anda untuk merubah diri.
Saya terharu dengan usaha seorang istri menghilangkan kebiasaan suaminya berjudi. Ia tidak hanya memarahi si suami yang harus berakhir dengan pertengkaran hebat. Bahkan suatu ketika cekcoknya sangat hebat hingga tetangga harus turun tangan untuk melerai. Namun ia sampai harus dengan sengaja memberitahu kepada kawannya seorang polwan untuk mengrebek tempat perjudian suaminya. Alhasil setelah mendekam di penjara sang suami tobat. Namun bagaimana jika si istri diam saja tidak perduli?
Dan ada pertanyaan menarik bagi pada pria. Apakah Anda (pria ) menyukai istri yang tidak pernah menuntut, mendiamkan apa saja perlakukan Anda yang buruk, melakukan hal terbaik untuk Anda? Namun ia selalu terilhat tegar, dam tidak pernah menceritakannya perasaannya pada.
JIka iya selamat, Anda telah memilih wanita yang mungkin saja tengah mengalami problem emosional. Robin Norwood, seorang konsultan pernikahan, dalam bukunya menyebutkan in adalah gejala wanita yang memberikan cinta berlebihan untuk mengemis cinta dari pasangannya suami. Dan seringkali kali wanita demikian pada akhirnya menderita depresi yang tentu tidak baik bagi keluarganya.
Jadi dengan adanya suasana konflik yang tidak menyenangkan tentunya, pasangan yang telah melakukan penyimpangan terdorong untuk merubah diri. Sehingga suana tidak nyaman dari percekcokan reda dan ia terbebas dari hal yang menyimpang.
Saturday, 8 August 2009
MY BOOK: " MERAUP UNTUNG DARI BISNIS WARALABA KELAPA SAWIT"

Pranchise atau waralaba, beberapa tahun belakangan ini semakin marak meramaikan kancah bisnis di Indonesia. Saat ini, jenis waralaba yang diminati masyarakat tidak hanya waralaba di bidang kuliner dan toko swalayan. Ada satu jenis waralaba di bidang perkebunan yang cukup prospektif, yaitu waralaba bibit kelapa sawit.
Berdasarkan pengalaman para perwaralaba bibit kelapa sawit, bisnis ini bisa memberikan keuntungan hingga 65% dengan pendapatan rata-rata per bulan sekitar 13 juta rupiah. Andatertarik untuk memulai bisnis waralaba ini? Temukan semua informasi tentang waralaba bibit kelapa sawit dalam buku ini.
Penulis : Ir. Masra Chairani Dalimunthe, Ir. Alfred Sipayung, & Hendra H. Sipayung, SP., MM.
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : iv + 74 hlm.
Penerbit : AgroMedia Pustaka
ISBN : 979-006-243-5
Harga : Rp 23.000
Pemesanan dapatkan di toko buku Gramedia atau Gunung Agung, atau via Agromedia
Monday, 29 June 2009
REALITY SHOW DAN VULGARISASI TELEVISI

Menurut Burdrillard, kevulgaran pada media televisi tidak ditandai dengan ketelanjangan. Melainkan karena tidak lagi ruang private. Apa yang menjadi private tersingkap menjadi vulgar, terreduksi menjadi sebuah tontonan sekejab. Ketelanjangan tidak seketika menerobos ruang pribadi karena ada adengan yang dimainkan yang lepas dari realitas hidup si pelaku. Namun dalam sebuah kevulgaran ruang private yang kompleks dan menyangkut pribadi yang paling telanjang, karena adanya ekspresi yang bersifat personal tersingkap menjadi tontonan murahan.
Peringatan akan kevulgaran yang diangkat oleh Budrillard seolah menjadi sebuanya kenyataan saat ini. Setidaknya ini dibuktikan dari maraknya acara reality show yang mengangkat kehidupan nyata dari orang-orang . Mulai dari sekedar untuk mengungkap perasaan terdalam sebagai bukti cinta hingga membongkar kebohongan pasangan suami istri. Semua menjadi tersingkap secara telanjang. Tidak ada lagi tembok-tembok kamar yang biasa menuntupi konflik pribadi. Semua sekejap menjadi terbuka melalui layar televisi.
Reduksi Pengalaman Hidup
Perselingkuhan, ungkapan cinta, konflik dan maaf adalah bagian dari kehidupan yang kaya akan makna. Karena ada dimensi kontemplasi di dalamnya yang bisa merubah arah kehidupan seseorang. Hal ini mengakibat setiap segmen kehidupan yang paling kritis maupun paling mendebarkan, dalam berbagi kultur disakralkan. Bahkan dalam masyarakat paling kolektif sekalipun persoalan rumah tangga dan antar keluarga tidak dapat serta merta dicampuri oleh pihak lain.
Hal ini karena ada sebuah nuansa perasaan dan kompleksitas kesadaran yang tidak dipahami oleh orang lain. Kehidupan bersama dan pergaulan menciptakan sebuah dunia yang dialami bersama, yang tidak serta merta dapat diakses oleh orang lain di tersebutluar margin hubungan. Hanya diantara mereka yang berinteraksi nuansa tersebut dapat dikomunikasikan dan kemudian menjadi titik untuk menentukan arah kehidupan selanjutnya.
Namun ketika kompleksitas hubungan tersebut menjadi bagian dari sesuatu yang dipertontonkan. Maka elemen kompleksitas manusia menjadi samar. Berbagai konflik terreduksi menjadi sekedar tontonan. Yang real menjadi disamakan dengan yang tidak real. Reality show penyelesaian konflik sebuah rumah tangga yang bakal berdampak bagi kehidupan mereka pasangan suami istri demikian juga kepada anak-anaknya bagi penonton tidak lebih berharga dari sebuah tayangan komedi atau kuis yang ditampilkan tidak secara alami. Bahkan didramatisir, dengan musik maupun pembawa acara yang menciptakan konteks sedemikian rupa agar menyerupai kisah kehidupan nyata tersebut menjadi melodrama yang mengetarkan.
Etika vs Kevulgaran
Oleh sebab itu meskipun acara reality show sama menguntungkannya dengan sebuah acara sinetron striping, menjadi pundit-pundi penjaring iklan. Namun tidak serta merta ruang pribadi dapat dibredel dengan alasan profit.
Kalaupun mereka yang mengekspos kehidupan pribadnya adalah berdasarkan keputusannya sendiri. Namun popularitas dan materi dapat membuat seseorang buta akan sakralnya ruang pribadinya. Dan ada baiknnya stasiun televis ikut menjaganya.
Menghadapi manusia berarti menghargai ruang dimana ia menentukan arah hidupnya. Biarlah ruang itu tetap sakral dan tidak menjadi sebuah tontonan yang mereduksi maknanya semata-semata sebagai tontonan yang bersifat hedonisme.
Sebagaimana televisi memiliki etika yang membatasi dalam penayangan acara. Khususnya untuk acara-acara kekerasan maupun seksual. Namun kekerasan dan ketelanjangan yang sama juga ada dalam penyingkapan berbagai konflik yang sangat pribadi. Oleh sebab itu televisi perlu dibatasi untuk menangkat hal yang berhubungan dengan kehidupan nyata yang kaya akan nuansa perenungan. Dan tidak menjadikannya semata-mata tanyangan pengisi jam tayang untuk mendatangkan pundit-pundi uang dari iklan.
Subscribe to:
Posts (Atom)