Wednesday, 29 October 2008

HATI-HATI DENGAN SESAT BERPIKIR

Nah, jika anda sudah merasa yakin dengan kemampuan berpikir logis Anda dan memiliki sebuah ide-ide filsafat yang mendasar, maka tidak ada salahnya untuk mengikuti berbagai diskusi dan perdebatan. Banyak manfaat yang bisa Anda peroleh, pertama Anda bisa mendapatkan perspektif yang berbeda dari rekan diskusi Anda. sehingga dengan demikian Anda dapat merumuskan persoalan-persoalan baru yang bisa Anda pecahkan untuk menyempurnakan ide-ide filsafat Anda.

Misalnya saja Anda mempunyai pandangan bahwa “Tuhan adil terhadap seluruh umat manusia” dimana “Ia menciptakan manusia secara sempurna”. Namun rekan diskusi Anda bakal mengkritik pandangan Anda kritik karena nyatanya Tuhan juga menciptakan orang-orang yang cacat. Apakah Tuhan adil dalam hal ini?

Maka pertanyaan demikian membuat Anda perlu berpikir lebih keras untuk mempertahankan pandangan tersebut. Dengan demikian Anda harus jelaskan apakah yang Anda maksud dengan keadilan Tuhan dalam hal ini. Bagaimanakah keadilan menjadi mungkin dengan kenyataan bahwa orang-orang terlahir cacat?

Namun kadang, tidak semua diskusi tentang filsafat berlangsung dengan menyenangkan. Kadang berakhir dengan debat kusir. Seperti yang pernah saya alami ketika berdiskusi dengan sekelompok aktivis kampus. Dimana mereka memiliki keyakinan bahwa hanya pemikiran Marxlah satu-satunya kebenaran. Tentunya pendapat ini sangat rentan dengan kritik.

Maka saya coba mendebat pendapat tersebut dengan metoda bertanya kritis seperti yang sudah jelaskan di bagian sebelumnya. Mengapa ramalan muncul masyarakat tanpa kelas tidak terjadi di Eropa Barat? Mengapa Lenin yang berusaha menimplementasikan pemikiran Marx malah menciptakan bentuk Negara yang diktator yang tidak sesuai dengan harap Marx yang mengimpikan masyarakat tanpa Negara? Dan akhirnya gagal? Jika kemudian dikatakan bahwa proyek Lenin adalah interpretasi keliru dari pemikiran Marx, seperti apakah bentuknya? Atau barangkali ide-ide Marx hanya terlihat tepat dalam penjelasan di atas kertas namun tidak demikian ketika akan diterapkan.

Awalnya diskusi ini berlangsung dengan baik. Dimana masing-masing berusaha untuk mempertahankan pendapatnya dengan memaparkan argument-argumen yang masuk akal. Namun situasi diskusi berubah 180 derajat saat rekan-rekan aktivitas tersebut mulai terpojok oleh pertanyaan saya. Maka mereka mulai melakukan intimidasi dan diskusi dipenuhi suara-suara melengking dan bantingan meja. Dan karena saya tidak bisa menerima pendapat mereka sepenuhnya, mereka memvonis saya tidak mengerti Marx. Akhirnya diskusi tersebut berakhir dengan suasana yang kurang menyenangkan.

Dalam diskusi filsafat maka sebuah pendapat yang disampaikan haruslah didukung dengan argument. Sebuah pendapat bisa disampaikan melalui cara berpikir deduktif maupun induktif. Intinya pendapat yang kita sampaikan merupakan kesimpulan yang kita ambil mengacu dalam proses berpikir yang logis.

Namun dalam perdebatan yang kurang sehat, proses beradu argumen secara logis berubah mendadak ketika seseorang merasa terpojok, kemudian mencoba mempertahankan pendapatnya dengan cara-cara yang menyimpang, bertujuan menciptakan penerimaan secara emosional daripada secara logis.

Argumen sesat timbul pendapat didukung dengan peryataan yang tidak masuk akal dan tidak berkaitan dengan pendapat ingin anda pertahankan. Cara-cara demikian perlu dihindari ketika berfilsafat. Adapun beberapa bentuk argumentasi yang tidak tepat dalam mendukung sebuah pendapat biasa disebut sebagai Fallacious Arguments.

Pertama mementahkan sebuah pendapat dengan menyerang pribadi si empunya pendapat dari pada mencari kelemahan pada argumennya. Misalnya, “Menurut saya pemikiran Anda tentang feminisme tidak tepat buktinya Anda sendiri bercerai”. “ Saya tidak bisa menerima pendapat si Rudi tentang pemotongan anggaran, karena dia adalah seorang koruptor di mata saya”.

Tentunya dalam perdebatan yang perlu anda buktikan adalah mengapa ide feminisme tidak tepat secara argumentatif dan tidak mengaitkan dengan kegagalan hidup pribadi yang menjalankan prinsip feminisme tersebut. Meskipun mungkin saja ide feminisme mendorongnya bercerai namun dalam perdebatan hal tersebut tidak bisa digunakan untuk menggugurkan pendapatnya.

Kedua adalah dengan mengambarkan bahwa diri Anda adalah seorang yang lebih tahu dari rekan debat Anda sehingga pendapat Anda lebih benar. Misalnya “ Menurut saya pendapat saya bahwa kita perlu mengembangkan pabrik senjata tepat 100%, karena saya memahami betul apa itu militerisme, saya berkarir dibidang itu sudah 30 tahun”. Bukankah sebuah keahlian perlu ditunjukkan dengan bagaimana ia mampu menyampaikan argumen secara logis?

Atau “ Pendapat saya haruslah kamu dengar karena saya lebih tua dari kami dan lebih banyak pengalaman”. Apakah benar pendapat orang yang lebih tua akan selalu lebih baik dari seorang yang lebih muda.

Ketiga adalah dengan menyatakan jika pendapat tidak benar maka konsekuensi buruk bakal terjadi misalnya. “ Menurut pendapat saya pemerintah militer terbaik, karena jika tidak maka negara akan selalu dalam ancaman. Atau seorang terdakwa pembunuh harus diputuskan bersalah oleh pengadilan, karena kalau tidak akan mendorong suami lainnya untuk membunuh istrinya.

Metoda ini menurut saya mirip dengan metoda intimidasi, Jika anda tidak mendukung saya akan terjadi kekacauan. Meskipun layak dipertanyakan apakah ada hubungan antara militer dengan keamaman negara. Dalam sebuah diskusi pendapat Anda sebaiknya tidak didukung oleh sesuatu hal yang belum tentu terjadi.

Keempat menyatakan bahwa sesuatu benar karena yang salah belum dapat dibuktikan. Misalnya “menurut saya Tuhan itu ada karena anda belum bisa membuktikan bahwa Tuhan tidak ada”. Atau Indonesia adalah negara yang bebas korupsi karena anda tidak dapat membuktikan bahwa korupsi ada di Indonesia”. Apa yang belum dapat dibuktikan belum tentu tidak ada.

Kelima mengatakan bahwa sesuatu pendapat benar jika sesuatu yang diharapkannya terjadi. Misalnya saya jamin bahwa pemikiran Marx ini tepat dan mensejahterakan, jika orang yang menjalankannya menafsirkan pemikirannya dengan tepat. Pertanyaannya apakah jika pemikiran Marx diterapkan sebagaimana seharusnya dijamin pasti akan mendatangkan kesejahteraan?

Keenam mengatakan bahwa pendapat Anda benar atau pendapat Anda tidak benar karena hal sebaliknya benar atau salah. Misalnya Kebanyakan orang dewasa tidak suka sayur maka pendapat saya masuk akal jika kebanyakan anak-anak suka sayur. Atau “ pendapat Anda yang mengatakan bahwa kebanyakan orang dewasa mengalami kesulitan belajar karena, umumnya anak-anaklah yang mengalami kesulitan tersebut, sehingga orang dewasa tidak bermasalah terhadap hal tersebut.

Ketujuh, mementahkan pendapat seseorang dengan membuat karikatur yang nyeleneh terhadap. Misalnya “Mengakui hukum evolusi sama saja dengan menganjurkan agar saya dengan Saudara harus bertarung untuk dapat bertahan hidup”. “ Membenarkan percintaan antara seorang wanita dengan pria yang lebih muda sama saja berarti seorang kakak berpacaran dengan adiknya”.

Kedelapan, mengatakan suatu pendapat karena belum ada kepastian tentang data informasi yang lebih tetap tentang sesuatu hal. “Misalnya dengan mengatakan bahwa Kengerian Holocoust itu tidak benar karena sampai saat ini masih diperdebatakna sebenarnya berapa korban jiwa akibatnya apakah 3 juta atau 5 juta”. Atau “menurut saya tidak benar Indonesia terancam kelaparan, karena saat ini belum ada data yang pasti tentang korban busung lapar dan gizi buruk”. Korban holoucaoust dan korban kelaparan itu ada meskipun akurasi datanya masih diperdebatkan.

Kesembilan, mendukung sebuah pendapat dengan membuat dikotomi. Menurut saya mengapa kita harus fokus terhadap masalah pendidikan saja, karena kita tidak bisa menyelesaikan masalah pengangguran tanpa terlebih dahulu mengatasi masalah pendidikan masyarakat” atau “ Kita harus terlebih dahulu mengatasi korupsi sebelum memikirkan soal pertumbuhan ekonomi”. Meskipun kedua masalah tersebut bisa diatasi secara bersamaan.

Kesepuluh, mendukung sebuah pendapat dengan mengatakan bahwa pendapat tersebut sesuai dengan pandangan para ahli. Misalnya “ mengapa wanita lebih baik tinggal di rumah, karena menurut para ahli psikologi wanita idealnya menjadi ibu di rumah”. Tentunya perlu dipertanyakan ahli yang mana dan siapa, karena pendapat ahlipun tidak selalu benar.

Kesebelas, mendukung sebuah pendapat menggunakan pandangan seseorang yang tidak sesuai dengan topik yang sendang dibahas. “ Menurut saya “ Perekonomian Indonesia dengan menuju kehancuran, hal ini didukung pendapat Bapak Rudi, dosen kedokteran”. Tentu Bapak Rudi bukan ahli di bidang ekonomi sehingga perdapatnya tidak dapat dijadikan acuan.

Keduabelas, membuat generalisasi berlebihan. Misalnya “ menurut saya wanita lebih mudah ditarik masuk ke agama suaminya dibandingkan sebaliknnya dalam perkawinan beda agama, karena saya punya Saudara yang mengalami hal tersebut”. Tentunya apakah pengalaman Saudaranya cukup untuk menyatakan bahwa wanita cenderung lebih mudah ditarik masuk agama suaminya dari pada sebaliknya. Atau kesalahan ini lazim terjadi dalam berpikir secara induktif.

Ketigabelas, mendukung sebuah pendapat dengan memperhalus kata. Misalnya, “ Pemerintah tidak salah dalam hal ini, bahwa polisi tidak melakukan anarkis terhadap mahasiswa, melainkan tindakan preventif”. Meskipun buktinya ada korban di kalangan mahasiswa, bahkan termasuk yang tidak ikut demonstrasi.

Di atas merupakan beberapa contoh kesesatan berpikir yang perlu hindari jika ingin menjadi filsuf sejati. Untuk mencegahnya syaratnya mudah, dengan membiasakan menyampaikan pendapat dengan didukung argumen yang masuk akal. Di fokuskan pada pendapat bukan pada pribadi di luar pendapat atau hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan logis atau tidak logisnya pendapat tersebut. Dengan berdiskusi secara positif akan sangat bermanfaat bagi membangun pemikiran Anda.

Monday, 6 October 2008

INTERPRETASI TERHADAP HARI RAYA IDUL FITRI


Marx mengkritik agama sebagai refleksi keluhan mahluk yang tertindas, hati dunia yang tidak berperasaan dan jiwa dari kondisi yang mati. Sehingga ia kemudian menyimpulkan jika agama dan segala aktivitas sakralnya adalah candu masyarakat.

Hal ini barangkali disebabkan karena Marx menafsirkan agama berdasarkan realitas intitusi keagamaan pada masanya bukan berdasarkan pada prinsip idealitasnya. Pada masanya, sekitar abad ke-19, intitusi keagamaan memiliki pengaruh kuat di Eropa Barat namun keberadaannya tidak mampu menciptakan masyarakat yang lebih baik. Aktivitas suci dan berbagai bentuk perayaan menjadi sarana meninabobokan masyarakat dalam penderitaan serta menanamkan kepatuhan terhadap sistem kapitalisme yang menindas. Turut menciptakan ruang sakral imajiner, menutupi ruang real profan yang penuh kebusukan.

Namun prinsip demikiankah yang sesungguhnya dimiliki agama dalam bentuk idealitasnya? Apakah agama sepenuhnya tidak memiliki semangat humanitas, yang terjetawahkan melalui kesadaran akan adanya Tuhan?

Oleh sebab itu melalui tulisan ini saya mencoba menginterpretasi salah satu bentuk aktivitas suci agama, yakni Hari Raya Idul Fitri, perayaan umat Islam yang berlangsung di akhir bulan suci Ramadhan, dalam kaitannya mencari makna humanisme dibaliknya. Sesungguhnya agama dan berbagai bentuk aktivitas sakralnya tidak selalu merusak determinasi kesadaran masyarakat terhadap realitas namun dapat meneguhkan esensi keberadaannya dalam hubungannya dengan manusia lainnya (Otherness) yang dijiwai spirit kemanusiaan, yang akan coba kita lihat dari makna yang ada dibalik perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Hermeneutika Keseharian
Saya mencoba melakukan penafsiran terhadap makna di balik Hari Raya Idul Fitri melalui pendekatan Hermeneutika Ontologi ala Gadamer. Adapun akar kata hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata herme>neuin yang berarti menafsirkan dan kata benda herme>neia, interpretasi (Palmer, 2003).

Hermeneutika pada awalnya merujuk pada prinsip-prinsip untuk menafsirkan Bibel. Orientasi hermeneutika awal adalah untuk mengangkat makna dari teks pada Bibel sebagaimana makna yang ada di benak penulisnya. Namun hermeneutika kemudian berkembang menjadi penafsiran objektif juga terhadap berbagai bentuk karya sastra non-Bibel. Oleh sebab itu hermeneutika memerlukan pemahaman terhadap gramatikal teks sebagaimana sebuah bahasa digunakan pada masa si penulis, kondisi psikologi dan latar belakang sejarah penulis untuk membantu mengangkat makna objektif penulis yang tersembunyi di balik teks (Palmer, 2003).

Namun dalam ranah filsafat fenomenologi persoalan hermeneutika meluas kepada persoalan penafsiran realitas kehidupan untuk memperoleh sebuah makna yang otentik dari manusia. yakni interaksi pengada dengan pengada lainnya untuk mengkonstruksi makna dari adanya. Sehingga hermeneutika menjadi sebuah aktivitas eksistensi hakiki manusia untuk memaknai keberadaannya dan segala sesuatu yang ada disekitarnya.

Oleh Gadamer, mengacu pada pendekatan fenomenologi menolak pemahaman objektif terhadap analisis teks, maupun materi ekspresi kebudayaan lainnya. Manusia dibatasi ekspresi bahasa yang berbeda sesuai dengan masanya, sebagaimana Weittgenstein mengkonsepsikan bahasa alat bagi manusia untuk menciptakan kesadaran manusia terhadap dunia, di mana bahasa memiliki aturan permainan yang tidak dipahami oleh mereka yang berada di luar aparatus pengunanya.

Maka proses pemahaman adalah proses penyatuan horizon antara penafsir dan pemilik ekpresi, melalui teks dan materi kebudayaan lain yang merepresentasikan entitas kemanusiaan. Melalui proses dialog penafsir membiarkan pemiliki ekspresi kebudayaan berbicara mengenai dirinya kemudian si penafsir memproyeksikan makna terhadap materi kebudayaan tersebut berdasarkan batas-batas horizon kesadarannya, yang tidak luput dari berbagai prasangka. Oleh sebab itu pemahaman bukan hanya suatu reproduksi melainkan juga suatu tindakan produktif (Howard, 2000).

Maka saya mencoba menafsirkan makna dibalik Hari Raya Idul Fitri sebagai sebuah bentuk ekpresi kebudayaan, mengacu pada world view dari umat Islam. Melalui hermeneutika saya mencoba memahami Idul Fitri melalui informasi yang berhasil saya kumpulkan sebagai awal dimulainya sebuah dialog. Kemudiaan saya menafsirkannya dalam horizon kesadaran sebagai seorang non-muslim.

Saya menekankan aspek dialog mengingat adanya keterbatasan untuk memahami secara utuh makna Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yang dipahami oleh umat Islam itu sendiri, yang terkaitnya game of language keIslaman dengan berbagai kompleksitas pra-konsepsi sadar maupun alam ketidaksadaran yang serta merta menjadi aturan permain bahasa.

Puasa dan Sakralitas Idul Fitri
Perayaan Idul Fitri terkait dengan Bulan suci Ramadhan yang mewajibkan seluruh umat beragama Islam melakukan puasa. Dimana ibadah puasa menjadi salah satu pilar peribadatan umat Islam yang biasa disebut Rukun Islam, yang berlangung pada bulan Ramadhan, bulan ke-9 pada tahun Islam, bulan dimana diyakini turunnya Al’Quran sebagai pentunjuk kepada manusia (Surat 2. AL BAQARAH - Ayat 185) . Sehingga disebut juga sebagai bulan penuh rahmat.

Bulan puasa dimaknai sebagai momen di mana umat Islam melatih diri tidak hanya melawan nafsu dan keinginan daging namun juga ambisi pribadi, untuk menggiring ke arah kedewasaan. Puasa juga menjadi sarana untuk melatih diri menuju keseimbangan fisik moral dan spritual. Dengan demikian melalui aktivitas suci ini umat Islam diharapkan semakin dekat dengan Tuhan dan peka terhadap sesama (Boisard, 1980).

Dan akhir dari masa-masa perjuangan, untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu untuk mencapai sebuah kesempurnaan, inilah umat Islam merayakan hari Hari Raya Idul Fitri, sebagai hari kemenangan setelah berpuasa selama sebulan penuh. Idul Fitri secara etimologi dapat juga diartikan sebagai kembali suci, sehingga manusia pasca bulan puasa dipahami sebagai manusia baru yang telah disucikan.

Perayaan kemenangan ini disimbolisasikan dengan aktivitas takbiran, sebagai sebuah parade kebahagiaan besar, sebagai momen keberhasilan transendental manusia mengatasi kelemahan sisi kemanusiannya yang hakiki. Dan kesadaran baru terhadap penderitaan sesama, dampak perubahan diri, diekspresikan melalui pemberian zakat kepada mereka yang tidak mampu.

Analisis Hermeneutika terhadap Hari Raya Idul Fitri

Dari perspektif hermenuetika Hari Raya Idul Fitri dapat ditafsirkan sebagai hari kemenangan manusia dari segala keterikatannya terhadap hawa nafsu serta mengalami penyatuan dengan Tuhan dan sesama. Dalam tradisi Kejawen hawa nafsu menjadi penghambat kesatuan manusia dengan Tuhan. Hawa nafsu dapat membutakan mata batin dalam menentukan jalan kebenaran ilahi yang bersifat meta-eksistensi duniawi. Sehingga pengekangan hawa menjadi mediasi pemurnian dimensi spiritual mendorong manusia mampu berinteraksi dengan sang ilahi.

Kenikmatan pemuasan hawa nafsu dapat membuat manusia terjerat dalam reduksi dimensi kehidupan, semata-mata hanya demi kesenangan ragawi sehingga pada akhirnya terjerat pada pemahaman dunia yang materialistis belaka. Tuhan menjadi terlupakan dalam segala aspek kehidupan manusia karena hidup menjadi tersekulerisasi dalam perspektif material, memiliki hukum yang lepas dari campur tangan Tuhan. Namun dampaknya adalah manusia mengalami kekeringan eksistensi, ada sesuatu yang raib namun tidak terjelaskan, menciptakan kehidupan tak bermakna, memunculkan kegilaan, ketakutan untuk hidup, kerusakan berbagai interaksi kemanusiaan ketika garis pemisah antara pemuasan hawa nafsu dan hasrat egoisme diri sangat tipis.

Oleh karena itu Hari Raya Idul Fitri juga dipahami sebagai hari kemenangan sesungguhnya, kembalinya kesadaran manusia akan Tuhan ketika hawa nafsunya terdeklanasi. Hal ini juga didukung kesadaran akan keterbatasan keberadaannya, tubuh yang segera lemah ketika tubuh kekurangan makanan dan minuman seakan mengingatkan manusia akan kerentaan eksistensinya. Kelemahannya juga mengingatkan keberadaannya sebagai mahluk yang bergantung terhadap segala sesuatu disekelilingnya. Ia tidak otonom, bahkan rentan terhadap ancaman bahkan kematian. Hal ini menyadarkan akan kebutuhannya akan Tuhan sebagai yang sesuatu Yang Maha Sempurna dan Otonom, juga mengingatkan pada kematian dan keterbatasan eksistensinya. Kematian adalah sebuah kepastian namun kemanakah ia kelak?

Disamping itu rasa lapar, penderitaan fisik juga mengingatkan manusia akan ketersiksaan sesamanya yang papa. Sehingga Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen kemenangan atas egoistis, yang membuat manusia mengingat akan penderitaan sesamannya. Id terkendalikan demikian juga kebutuhan terendah tersublimasikan pada kebutuhan lebih tinggi yang merepresentasi nilai-nilai cinta, altrusitik dan keperdulian.

Solidaritas kemanusiaan menjadi spirit yang turut ditumbuhkan di Hari Raya Idul Fitri ketika manusia menjadi sama dalam kepapaannya di masa bulan suci Ramadhan. Tidak ada manusia yang lepas dari kewajiban berpuasa, semuanya merasakan lapar, eksistensi penuh kelemahan, kesadaran akan pengalaman yang sama tentunya menumbuhkan kesadaran akan identitias kemanusiaan yang hakiki.

Pemberian zakat pada Hari Raya Idul Fitri menjadi ekspresi kesadaran akan prinsip kemanusiaan universal, bukan suatu aktivitas subordinat. Ketika masing-masing kembali pada realitas kehidupannya semula, namun telah terbentuk kesadaran penuh kebersamaan dalam hati sanubari setiap manusia walaupun kenyataan fisik dan kondisi sosial yang berbeda. Zakat menjadi simbosisasi kesadaran tanggung jawab terhadap kenyataan realitas fisik sesama manusia, yang melingkupi esensi manusia universal, yang kadang tidak bersahabat. Meskipun tidak menutupi kenyataan hakikat keberadaan manusia sebagai sebuah misteri yang bersifat transendental.

Maka disimpulkan Hari Raya Idul Fitri dapat dipahami sebagai pemurnian kesadaran manusia dari kekangan hawa nafsu yang menjernihkan kembali hubungan spritual manusia dengan Tuhan dan menanamkan spirit solidaritas terhadap sesama yang juga turut diperkuat oleh hal yang pertama. Kebersamaan dan humanitas tidak bertolak belakang dengan esensi dari Hari Raya Idul Fitri bahkan juga turut serta melembagakannya.

Kesimpulan
Melalui pendekatan hermeneutika sebagai yang telah diuraikan sebelumnya dapat disimpulkan agama dan segala bentuk ritualitasnya tidak selalu bertentangan dengan prinsip-prinsip humanisme dan prinsip pembebasan dari ketertindasan. Tidak juga bersifat destruktif. Agama dapat memberikan kebermaknaan hidup, yang kadang hilang dalam masyarakat modern, ketika interaksi dengan Tuhan adalah sesuatu yang non-eksak meskipun dapat dirasakan keberadaannya. Agama juga menanamkan sebuah prinsip solidaritas, menyingkapkan manusia dari ruang profan yang mengkotak-kotakkannya dalam berbagai habitus. Yang dibuktikan melalui analisis terhadap perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Hanya saja dalam prakteknya sering terjadi gap antara apa yang real dengan yang ideal. Orientasi solidaritas seringkali dibatasi dalam lingkup ikatan keagamaan semata, pemberian zakat dapat menjadi ajang penonjolan ego. Pelaksanaan puasa bagi sebahagian orang sering didasarkan adanya ancaman sanksi sosial, sehingga melakukannya bukan karena kesadaran pribadi melainkan karena keterpaksaan, sehingga diragukan ia akan dapat mencapai pemahaman ideal akan makna dari Hari Raya Idul Fitri itu sendiri.

Namun hal itu tidak menutup kenyataan bahwa agama dan berbagai aktivitas sakralnya dapat menjadi sesuatu yang melembagakan prinsip-prinisp humanisme dan serta merta menolak generalisasi inferioritas agama sebagaimana yang dipahami oleh Marx.

Tuesday, 30 September 2008

Moan Sipayung & Keluarga mengucapkan


Selamat Idul Fitri
1 Syawal 1429 H,
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir Dan Batin


Monday, 22 September 2008

SUAMI KARBITAN DAN ISTRI YANG SENGSARA


Saudaraku, benar-benar wanita yang tegar. Ia harus berpikir keras setiap hari bagaimana agar kebutuhan keluarga dan anak-anaknya terpenuhi. Boleh dikatakan ia jarang bisa menikmati gajinya secara utuh karena selalu dipotong oleh cicilan pinjaman. Dan gajinyapun tidak terlalu besar mengingat ia adalah seorang pegawai negeri di sebuah puskesmas.

Hanya saja saat mulai kepepet, maka iapun mulai melakukan cara-cara negatif mendapatkan uang. Yakni menuntut dari keluarganya sendiri. Ia bahkan berani memaksa orang tuanya menggadaikan tokonya agar mendapatkan uang untuk anak-anaknya. Dan tidak jarang ia mendapatkan uang dari ibunya dengan ancanam dan intimidasi.

Meskipun demikian, apa yang ia lakukan, meskipun dengan cara-cara yang tidak simpatik, adalah demi anak-anaknya. Apalagi saat ini ada 4 anaknya yang harus ia biayai. Dua masih kuliah di Medan dan Semarang. Dua lagi masih menganggur dan tinggal di Jakarta. Dia juga harus menjamin dapurnya mengepul setiap hari.

Luar biasa memang? Dan mungkin ada dari kita kemudian bertanya apakah ia seorang janda, sehingga ia harus berjibaku sendiri?

Ups, untuk pertanyaan ini saya akan jawab. Nasibnya tidak semalang itu. Ia masih punya suami. Tentu yang jadi pertanyaan, kemudian apakah ia tidak dirumah atau berada di tempat jauh? Tidak juga. Ia malah setiap hari di rumah.

Hanya saja ia adalah seorang yang berjiwa kaum romantis, dekat dengan alam dan menyukai kedamaian. Sehingga setiap yang ia lakukan adalah mengeluarkan dan memasukkan ayam ke kandang. Cuci pakaian dan menikmati hidup dengan menghitung nomor togel. Sebelum habis malam ia singgah ke kedai tuak. Hal itulah yang ia lakukan setiap hari.

Ia akan tetap duduk anteng selama aktivitasnya tersebut tidak diganggu. Jangan rusaki pakaiannya yang sedang dijemur. Jangan ganggu ayamnya yang berkeliaran. Dan jangan sampai ia tidak bisa pergi ke kedai tuak. Karena hal tersebut mengakibatkan hidupnya kehilangan damai sejahtera.

Untuk urusan lain? Inilah yang dinamakan pembagian tugas. Hal-hal atau persoalah di luar aktivitas rutinnya tersebut bukan urusannya. Sehingga wajar suaranya tidak pernah terdengar ketika anaknya butuh uang untuk kuliah. Atau meskipun anaknya harus dioperasi ia tidak ambil pusing mencari pinjaman. Barangkali baginya hidup ini terlalu indah untuk dibuat pusing.

Mengapa Demikian
Sekarang Saudaraku sengsara dan suaminya sejahtera. Mungkin ia juga tidak membayangkan hal inilah yang bakal terjadi. Ia menduga bersuamikannya dunia bakal indah.

Padahal dulunya pernikahan mereka tidak mendapat restu dari orang tua. Karena sang suami sudah menunjukkan gelagat yang kurang simpati dari masa mudanya.

Atas nama cinta semuanya bisa dikalahkan, masukan orang tua bahkan pikiran yang rasional. Cinta adalah segala-galanya. Namun ketika cinta itu diraih yang terjadi tidak selalu berakhir indah.

Pengalaman yang Menjadi Pelajaran

Tentu pengalaman Suadaraku ini dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang muda yang tengah terlarut dengan cinta sentimentil. Cinta harus diperjuangkan. Hidup tidak berarti cinta tidak diraih.

Namun pernikahan tidak cukup dibangun dengan perasaan belaka. Namun juga dengan pertimbangan logis. Perlu diuji apakah benar sang calon suami adalah orang baik atau orang bertanggung jawab.

Untuk membuktikannya tidak cukup hanya mendengar gombalan sang kekasih it saja. Mustahil ia bakal mengatakan sesungguhnya ia malas bekerja, prilakunya baik atau memang berniat mengantungkan diri pada istrinya kelak.

Pembuktiannya adalah dengan melihat dan meneliti tingkah lakunya secara objektif, melihat latar belakang keluarga. apakah ia merupakan orang yang sering bermasalah dan tidak disukai orang kebanyakan. Atau dengan membiarkan hubungan tersebut berjalan dengan waktu, dengan tetap menjaga batas-batas emosional. Karena biasanya daya romantisme itu akan berkurang seiring berjalannya waktu dengan tetap menjaga sikap kritis.

Dengan demikianlah seolah calon suami karbitan bakal terseleksi dengan sendirinya. Dan dari pada mereka memanipulasi seorang wanita dengan gombalannya agar menjadi istrinya, lebih baik ia jadi seorang juru kampanye, marketing. Karena yang pertama merugikan kalau yang kedua menghasilkan duit.

Saturday, 20 September 2008

MENTERI PERTANIAN, RASA MALU DAN BAU BUSUK


Menteri Pertanian Jepang Seiichi Ota mengundurkan diri akibat permasalahan beras yang tercemar pestisida dan jamur. Beras itu dijual dalam bentuk makanan kepada ribuan orang, termasuk murid sekolah dan pasien yang dirawat di rumah sakit. Dan mundurnya Seiichi Ota terjadi setelah tujuh minggu dia menjabat (Kompas, 2008) .

Dalam pemerintahan Jepang mundur akibat kegagalan kebijakan adalah hal biasa. Hal ini karena dalam diri para pejabat Jepang terdapat etos tanggung jawab dan budaya malu.

Secara natural seseorang akan merasa malu ketika ia melakukan sesuatu yang tidak etis di dihadapan publik. Menurut Benny Susanto di Jepang seorang pejabat tinggi akan memutuskan mundur bila telah berbuat salah atau merasa berbuat salah. Karena seorang pemimpin negara secara etis haruslah memberikan yang terbaik bagi warga negaranya.

Kasus Indonesia
Apakah hal yang sama juga berlaku di Indonesia?

Coba kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Baru-baru ini pemerintah Indonesia telah melakukan rekomendasi keliru terhadap penggunaan padi super-toy.

Supertoy gagal panen. Dan akibatnya jelas, petani rugi. Boro-boro menteri pertanian merasa malu lalu kemudian mengundurkan diri. Malah tidak ada pihak yang merasa bertanggung jawab.

Bahkan SBY yang ikut panen perdana belakangan berkelit kalau ia tidak sepenuhnya mendukung. Menurut Muhammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika, Presiden SBY hanya memotong padi tetapi tidak memberi pidato. Karena Presiden tahu varietas itu masih uji coba dan meminta pada Menteri Pertanian untuk menindaklanjuti temuan ini(Kompas, 2008).

Artinya presiden yang mengetahui tentang penggunaan benih itupun merasa tidak bertanggung jawab.

Kegagalan pemerintah tidak hanya menyangkut masalah supertoy. Melainkan juga menyangkut masalah pangan lainnya seperti beredarnya daging busuk dan makanan olahan sisa sampah hotel atau makanan kadarluarsa, dsb. Sekali lagi tidak ada dari pejabat negara yang merasa bertanggung jawab apalagi mengundurkan diri.

Namun yang lebih memalukan lagi adalah, bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang terancam masalah gizi buruk. Konon kasus gizi buruk dan gizi kurang untuk tahun 2007 ini saja masih mencapai 4,1 juta (Antara, 2008).

Ironisnya hal ini masih berlangsung, saat Presiden dengan sangat meyakinkan menyatakan bahwa Indonesia sudah mengalami swasembada pangan pada tahun 2008, pada pidato kenegaraannya (Sinar tani, 2008) .

Dan sekali lagi untuk kasus busung lapar ini, meskipun sampai mengakibatkan korban jiwa, tidak ada pejabat pemerintah yang merasa bertanggung jawab dan kemudian mengundurkan diri.

Etos Malu?
Mengapa demikian? Tak lain karena para pejabat kita tidak memiliki etos rasa malu. Karena dari awal, orientasi menjadi pejabat negara barangkali bukan untuk memberikan terbaik bagi masyarakat. Sehingga tidak perlu merasa malu jika sebuah kebijakan tidak berjalan dengan baik.

Etos yang tertanan dalam hati sanubari para pejabat negara adalah bagaimana mensejahterakan diri sendiri, keluarga maupun kelompok. Sehingga akan lebih malu jika setelah menjadi pejabat kemudian tidak kaya raya, atau tidak bisa mensejahterakaan sanak famili atau rekan-rekan organisasi, dibandingkan gagal membuat rakyat bebas dari busung lapar.

Kebanggaan menjadi seorang pejabat adalah karena harus bekerja ruang kantor yang nyaman, mendapatkan penghormat banyak pihak, penghasilan yang luar biasa tidak hanya dari gaji melainkan insentif dari pihak-pihak yang merasa diuntungkan oleh kebijakannya. Serta berbagai fasilitas pribadi yang dibiayai negara.

Sehingga meninggalkan jabatan dengan berbagai manfaat tersebut adalah sebuah kebodohan. Jadi wajar saja ada menteri yang menolak mundur dari jabatannya meskipun diinstruksikan oleh partai pendukungnya.

Dalihnya ” urusan partai tidak boleh menganggu upaya mengerjakan sesuatu bagi bangsa”. Terkesan sangat heroik. Namun apakah ia akan berkata demikian jika menjadi menteri tidak mendapatkan fasilitas apa-apa.

Negara yang Membusuk
Karena pejabat di negeri ini tidak memiliki etos rasa malu, maka tidak perlu heran jika Indonesia tidak seperti Jepang. Perlu puluhan tahun untuk Indonesia mengejar ketertinggalannya dari Jepang.

Atau mungkin juga tidak bisa mengimbangi. Karena negara ini dikelola orang-orang yang tidak punya rasa malu. Sehingga akan lebih mudah mengukur korelasi kinerja negara ini pada pertambahan uang yang masuk ke kantong pejabat dari pada keuntungan yang dirasakan masyarakat.

Dan rakyat semakin busuk. Mengapa tidak? Karena mau tidak mau harus menerima jika harga barang-barang kebutuhan pokok semakin hari semakin mahal. Maka ia harus mengurangi jatah makannya. Siap untuk mengkonsumsi bahan makanan tidak sehat dan mengandung zat-zat beracun. Karena pemerintah terlalu sibuk mengurusi hal sepele seperti itu.

Rakyat juga harus siap menerima jika semakin hari semakin miskin. Atau besok ia tiba-tiba saja tergilas oleh kebijakan pemerintah yang anarkis. Dan ketika ia tertindas tidak ada yang mengasihani.

Dengan busuknya rakyat maka negara ini ikut menjadi busuk. Dan sesuatu yang busuk layak untuk dibuang, dihancurkan, karena tidak ada sesuatu yang berharga dari sesuatu yang busuk. Ketika sebuah negara telah membusuk apakah sebuah negara masih perlu ada?